
Nabila tersenyum, dia merangkul leher suaminya, memeluk sang suami untuk berpegangan. "Mas! Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit. Ini sudah jam makan siang, kita makan dulu aja, ya! Bila baik-baik aja!"
Bara mengembuskan napas pelan. Dia memejamkan mata, berusaha untuk mengusir kekesalannya. Dilema antara harus menuruti istrinya atau tidak, tapi jika tidak dituruti, Bara takut ini malah akan membuat istrinya tertekan. "Mau makan apa?" tanya Bara seraya membopong tubuh istrinya dan duduk di sofa yang ada di sana dengan sang istri yang berada di atas pangkuan.
"Enggak tahu!"
"Loh, kok gitu?"
Nabila menggelengkan kepalanya. Dia memeluk suaminya semakin erat. Mencium bau wangi dari tubuh sang suami. Leher itu tidak selamat karena Nabila malah menarik dasi yang suaminya kenakan kemudian membuka kancing teratas kemeja hitam itu.
Jantung Bara berdegup sangat kencang, napasnya menjadi sesak dan dia begitu gugup . Napas hangat istrinya, juga usapan-usapan lembut yang Nabila berikan di lehernya membuat Bara ingin meledak saat itu juga.
"Makan ini boleh, gak Mas?" tanya Nabila. Bara menggeram tertahan ketika gigi-gigi kecil itu mulai berpijak di lehernya. Tubuhnya benar-benar sudah akan meledak jika dia tidak menghentikan kegilaan istrinya. Oh ayolah, dokter sudah mengatakan jika dia belum bisa menyentuh istrinya. Mungkin untuk beberapa bulan ke depan.
"Akh!"
Durant langsung berbalik saat melihat apa yang sedang Nyonya dan Bos-nya lakukan. Dia mengepalkan tangan dengan mata terpejam. Habislah dia, keluar sudah tanggung, diam di sana pun tidak akan selamat.
"Ada orang, Sayang!" kata Bara bernapas lega. Nabila mengerucutkan bibirnya kesal. Tapi ya sudahlah. Dia mungkin bisa melakukannya nanti.
"Ada apa, Durant?" tanya Bara dengan wajah yang sudah lebih baik dari sebelumnya. "Berbalik saja!"
Durant berbalik dengan kepala menunduk. "Tuan! Jessica ingin menemui, Anda!"
Bara tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia menatap istrinya kemudian tersenyum dengan tangan yang mengelus kepala istrinya lembut. "Saya harus pergi sebentar. Durant akan memesankan makanan! Saya janji tidak akan lama!" ujar Bara mengecup kening istrinya kemudian menurunkan istrinya itu.
Nabila semakin merengut. Dia menatap punggung Bara yang sudah mulai menjauh, kini, Durant yang mendekat, tapi Nabila sama sekali tidak ingin berkomunikasi dengan siapa pun.
__ADS_1
"Nyonya Boss! Nyonya ingin makan apa?" tanya Durant selembut mungkin.
"Nothing!"
"Nyonya, jangan seperti ini. Boss akan marah jika saya tidak segera memesan makanan. Tolong Nyonya. Ini untuk kebaikan Anda juga, Anda tidak bisa telat makan."
"Up to you!"
Astagaaaa ... Durant pasti akan tua sebelum waktunya jika terus dihadapkan dengan cobaan seperti ini. Bara tidak menghukumnya, tapi kalimat singkat Nabila lebih menyeramkan dari titah suaminya.
"Nyonya Boss!"
"I said up to you, Durant! Order whatever you want. I don't care, that bastard prefers another woman to his wife."
Nabila beranjak dari duduknya dan kembali berlari ke kamar mandi. Dia benar-benar bingung, isi perutnya sudah tidak ada, tapi mual itu tidak pernah berhenti.
Durant menggaruk kepalanya, dia merasa sangat bingung dan semakin bingung, jika sampai dia salah mengambil keputusan, Bara pasti akan melemparkannya ke penangkaran buaya. Dia tidak ingin itu terjadi.
....
Jam makan siang sudah terlewat 30 menit. Bara bergegas masuk ke ruangannya setelah semua urusannya selesai. Namun, pemandangan di depannya membuat matanya melebar 3 kali lebih besar dari sebelumnya. Meja yang ada di dekat sofa sudah penuh dengan makanan. Belum lagi ada dua meja dorong yang juga di isi dengan berbagai jenis makanan yang berbeda. Kepalanya menoleh ke arah meja kerjanya. Nabila masih fokus dengan pekerjaan sementara Durant terlihat sangat putus asa.
"Sayang. Apa kau belum makan?"
Nabila bergeming. "Katakan padanya kalau aku tidak lapar, Durant!"
"Nyonya, tapi ...."
__ADS_1
"Honey! Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak ingin bicara dengan saya? Apa saya membuat kesalahan?"
Nabila masih tidak ingin menatap suaminya. "Katakan padanya kalau laki-laki itu yang dipegang ucapannya Durant! Janji sebentar, tapi malah kebablasan sampai lupa sama istri sendiri!"
Bukannya marah, Bara malah tersenyum, dia memberikan isyarat pada Durant agar laki-laki itu keluar dari ruangannya. Untuk beberapa saat, Bara hanya diam di samping istrinya, sambil memperhatikan istrinya yang sedang bekerja. Nabila, dia yang tidak mendapatkan instruksi apa pun menoleh sedikit demi sedikit. Dan, saat tatapan mereka bertemu, mata Nabila melotot begitu Bara memangkunya tanpa aba-aba.
"Kau sudah mulai nakal, hmmm! Mau melawan saya?" kata Bara mendudukkan istrinya di depan puluhan jenis makanan yang ada di meja. "Kenapa kau berulah. Kau sendiri tahu, membuang-buang makanan itu tidak baik. Untuk apa semua ini?"
"Bukan aku yang pesan. You just ask your assistant!" ketus Nabila.
"You?" tanya Bara dengan senyum tipis di bibirnya. "Baiklah! Saya minta maaf karena saya terlambat. Sekarang mau makan apa?"
"Tidak ada!"
"Hei!" Bara menatap Nabila dengan mata elangnya. "Jangan bermain-main dengan ku, Baby! Kau mau saya hancurkan restoran yang menyajikan makanan ini karena mereka tidak bisa membuatmu tertarik pada makanan yang mereka buat?"
Nabila mendelik, memutar bola matanya kesal. Ancaman suaminya ini sebenarnya sudah biasa, tapi jika dia benar-benar melakukannya, berapa ratus orang yang akan kehilangan mata pencaharian mereka, dan bagaimana dengan keluarga orang-orang itu jika mereka tidak lagi bekerja.
"Saya mau rawon saja!" katanya mengalah.
Bara tersenyum kemudian mengambil apa yang istrinya mau.
"Aku bisa makan sendiri!" ujar Nabila merebut mangkuk dari tangan suaminya. "Akh!" ringisanya saat kuah rawon tersebut mengenai tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Kau tahu saya baru mengambilnya dari pot! Kalau kesal luapkan! Jangan seperti ini! Saya sudah mengatakan jika saya tidak akan mengijinkan siapapun melukai tubuh ini lagi! Termasuk kamu sendiri! "
Deg!
__ADS_1
Nabila semakin bungkam mendengar apa yang suaminya katakan. Namun, saat sang suami telah membasuh tangannya dan meniup tangannya itu pelan, Nabila tersenyum sinis. "Apa Jessica lebih menarik dariku, Mas?"