Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
94. Masa Lalu


__ADS_3

Jessica tersenyum ketika melihat gundukan tanah di depannya. Wanita cantik itu mengusap pusara sang anak dengan usapan yang sangat lembut. Persis seperti saat dia sedang mengusap anak kecil. Dia meletakan sebuah mobil-mobilan kecil di atas pusara tersebut. Sudah lima tahun sejak pertama kali anak itu dikebumikan, setiap berkunjung, Jessica pasti akan membawa mainan untuk sang anak hingga rumah terakhir anaknya itu dipenuhi berbagai mainan atau miniatur benda-benda yang mungkin saja disukai anak-anak.


"Namanya Noah! Dia adalah anak yang baik, saat aku mengandungnya, laki-laki yang menjadi ayahnya pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikan. Dia memintaku untuk melenyapkan anak ini, tetapi, aku tidak melakukannya. Anak ini tidak salah apa-apa. Aku yang salah karena sudah membuatnya tumbuh di rahimku tanpa sosok seorang ayah. Aku terlalu brengsek saat itu. Awalnya aku pikir semuanya akan berjalan lancar. Namun, Tuhan sudah mengambilnya sebelum aku bisa menyusuinya. Ini tidak adil untukku, tapi ... mungkin ini adalah janji yang sudah dia buat dengan Tuhannya."


Durant tidak mengatakan apa-apa. Dia ikut berjongkok di depan sana, meletakkan sesuatu tapi yang dia letakan justru hal yang tidak biasa. "Hai ganteng, ini Papa. Mulai sekarang, kamu tidak hanya memiliki Mama saja. Aku Durant. Orang-orang di sini sering memanggilku Durian. Lucu bukan? ... Aku tidak marah karena hal itu. Asal mereka bahagia, aku akan baik-baik saja. Sama seperti mu! Aku percaya, kau sudah bahagia di sana. Ini adalah KTP milik ku, kau bisa mencari ku dan membunuhku jika aku menyakiti Mama Jessica. Percayalah! Aku akan menjaganya dengan baik. Ijinkan aku untuk menikahi wanita yang kau cintai, Noah!"


Senyum simpul tersungging di bibir Jessica wanita itu menatap Durant dengan tatapan dalam. Kenapa baru sekarang dia mau membuka hatinya untuk laki-laki ini, padahal Durant adalah pria yang baik dan sangat bertanggungjawab. Banyak hal yang sudah Durant lakukan untuknya, dan baru sekarang dia melihat jika laki-laki ini memang laki-laki yang pantas untuk diperjuangkan.


"Durant!" panggil Jessica.


"Iya, kenapa?" tanya Durant menoleh dan tersenyum ke arah wanitanya.


"Ayo menikah!" ajak Jessica dengan tatapan tulusnya.


.....


Nabila tersenyum saat melihat wanita yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Hatinya jauh lebih tenang setelah melihat langsung jika wanita itu benar-benar memiliki penghasilan untuk menghidupi bayinya.

__ADS_1


"Kenapa kau harus meminta hal seperti ini? Dia sudah jelas-jelas selalu menjelekan mu dan juga sangat membencimu. Kenapa tidak biarkan saja dia terlunta-lunta."


Gelengan kepala Nabila berikan pada suaminya. Mungkin, Adel memang tidak menyukainya. Namun, Nabila juga tidak bisa membiarkan wanita itu hidup dalam kesulitan. Sudah cukup dia saja yang menerima kesulitan itu. Nabila tidak ingin orang lain mengalaminya.


"Tidak apa-apa. Kita jemput Ezra sekarang, ya! Kasian kalau dia nunggu lama!"


"Hmmm ... kalau dia, di suruh nunggu sampai besok pun mau!" ujar Bara seraya melajukan mobilnya meninggalkan area cafe yang dikelola oleh Adel. Wanita itu menatap mobil yang baru saja melesat dari depan cafenya. Keningnya mengkerut, tapi buru-buru dia berpaling ketika seorang pelanggan memanggilnya.


....


"Aku adukan sama Bu guru baru tahu rasa kalian!" teriak Nana lagi. Dia mengejar anak-anak yang tadi mengganggu Ezra, akan tetapi tidak sampai mendapatkan mereka karena Ezra masih menangis.


"Za!" panggil Nana. Dia membantu Ezra untuk duduk di bangku taman di depan sekolah mereka. "Za ... jangan menangis! Aku di sini, Za! Nana bakal lawan siapa pun yang berani ganggu Ezra. Maafkan Nana! Tadi Nana di panggil Bu Guru dulu."


Ezra tidak menjawab, dia malah memeluk Nana, menumpahkan ketakutannya. Dunia luar seperti ini masih sangat baru untuknya. Jika tidak ada Nana, mungkin dia akan habis di ganggu para bocah kecil itu.


"Maafin Ezla, Na! Ezla cengeng!" ucapnya. Nana tersenyum, dia mendorong bahu Ezra kemudian mengusap air mata bocah kecil itu.

__ADS_1


"Enggak papa. Menangis bukan berarti lemah. Hati Ezra terlalu lembut!" ucap Nana mengusap kepala Ezra dengan usapan teratur. Dia tersenyum, meyakinkan Ezra jika semuanya akan baik-baik aja.


"Bener, Mas! Ezra sepertinya sangat betah di sekolah. Bocah itu sudah sangat jarang bersikap manja, apa karena dia sudah tidak membutuhkan ku!" lirih Nabila menatap sepasang anak berudu di depannya seraya menitikkan air mata. "Aku belum siap, Mas!"


Bara melepaskan seat belt dia juga seat belt istrinya. "Dengar, Ezra masih sangat membutuhkan mu! Dia menjadi sangat jarang bersikap manja pada mu karena saya yang memintanya."


"Hah?"


Bara mengangguk. "Saya bilang, kalau mau jadi laki-laki sejati, jangan selalu sembunyi di ketek Mama ... ... nanti ganggu Papa!"


"Masssss!" rengek Nabila.


"Mas becanda, Sayang! Intinya, dia akan baik-baik saja. Mereka masih sangat kecil. Arti kasih sayang bagi mereka sangat berbeda dengan kasih sayang menurut kita. Jangan khawatir dan jangan memaksa mereka untuk dewasa sebelum waktunya!"


"Mas yakin?"


"Dia akan mengerti seiiring berjalanya waktu."

__ADS_1


__ADS_2