Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
63. Bajingan Gila


__ADS_3

Bara menoleh ke arah pintu. Keningnya mengkerut saat dia melihat Durant ada di sana. Bajingan ini, dia sudah meminta Durant untuk menjaga istrinya, kenapa dia malah ada di kamar itu. Bara sengaja mengusir istrinya keluar karena dia tahu, tempat ini sudah tidak aman sejak dia masuk ke kamar itu. Orang yang tergelatak tersenyum menyeringai. Dia tertawa sumbang yang mana itu membuat Bara semakin menggeram. Dia menarik penutup wajah orang itu dengan satu kali tarikan.


"Bajingan!" umpat Bara seraya menginjak dada orang itu. Wajah orang ini sangat familiar, bagaimana mungkin tidak familiar karena orang ini adalah petugas keamanan di kantornya. "Siapa Bos mu bajingan!" teriak Bara menatap orang itu dengan tatapan tajam. Orang itu bukannya menjawab malah tergelak. Wajah babak belurnya sama sekali tidak membuat dia kesakitan dan merasa takut.


"Sebaiknya kau temui istrimu! Jika kau terlambat, dia pasti akan mati!"


Bara semakin menunduk dan mencengkram kerah baju yang orang itu kenakan. "Dimana istri saya, Brengsek! Jika kalian menyentuh sehelai rambutnya saja, akan aku pastikan kau dan juga keluarga mu akan hancur ... bukankah anakmu sedang di rawat di ruang ICU!" gumam Bara dengan senyum evilnya. Orang itu terbelalak. Dia menatap Bara dengan tatapan tidak percaya. Alasan dia mempertaruhkan nyawanya adalah untuk menyelamatkan putri kesayangannya. Kenapa jadi seperti ini.


"Katakan dimana istri saya, Bajingan!" teriak Bara lagi. Orang itu terbatuk dengan mata yang semakin tidak fokus.


"Gudang di atap. Istri Anda ada di gudang di atap gedung!"


Bugh! Orang itu kehilangan kesadaran setelah Bara menghajarnya dalam satu kali pukulan.


"Urus mereka! Jangan biarkan orang-orang tahu! Kirim mereka ke gudang garam! Saya harus memberikan mereka pelajaran setelah saya menemukan istri saya!" Bara bergegas setelah memakai kaos nya. Dia berlari seperti orang gila. Fino, Jessica dan Maurin yang kala itu baru keluar dari lift terbengong ketika melihat Bara menunjukan gelagat yang tidak biasa.


Nabila terbangun saat air mulai menyentuh dagunya. Napas yang semakin pendek dengan air mata yang terus mengalir membuat wanita itu semakin tersiksa. Air itu juga sangat dingin, Nabila sudah tidak tahan. Sekarang, air sudah sampai di atas dagu melewati bibir dan juga melewati hidungnya, dia berusaha untuk berdiri akan tetapi kakinya yang terikat dengan kursi membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal. Nabila mulai pusing dan semakin lama, pasokan oksigen dari paru-parunya mulai habis.


Brakkk!

__ADS_1


Pintu atap itu hancur sesaat setelah Bara menembak gembok pintu tersebut kemudian menendangnya.


"Astaghfirullah!" pekik Fino saat melihat Nabila ada di dalam kotak kaca besar. Jessica dan Maurin juga sama terkejutnya seperti Fino. Hanya menatap kotak kaca itu seraya membekap mulutnya.


"Nabila! Sayang! Sadarlah!" teriak Bara seraya memukul kaca itu. Dia berusaha untuk membuka gembok dan juga rantai besar yang membelenggu kotak kaca tersebut, akan tetapi ini sangat memakan waktu.


Untuk kesekian kalinya Bara mengeluarkan pistol yang tadi dia gunakan untuk menembak orang-orang brengsek di kamarnya. Satu dua tembakan ditempat yang sama, kaca itu masih belum pecah dan pada tembakan ke 4, kaca itu seperti meledak hingga semua airnya luber kemana-mana.


"Sayang! Hei! bangunlah!" gumam Bara seraya melepaskan semua ikatan di tubuh istrinya itu, dia membaringkan Nabila di tempat yang aman dari pecahan kaca meskipun itu agak dekat dengan ketiga orang yang hanya bisa menjadi penonton.


Satu tepukan Bara lakukan di pipi istrinya. Dia juga menempelkan telinganya di atas bibir sang istri. Merasa tidak ada respon apa pun. Dia mulai memompa dada istrinya berkali-kali. Masih tidak ada perubahan. Kini dia memberikan napas buatan, pompa lagi, dan memberikan napas buatan lagi. Terus berlanjut sampai keringat dingin membanjiri wajah tampannya.


"Dia akan baik-baik saja! Percayalah!" ungkap Jessica yang juga merasa tidak tega. Mereka seolah lupa akan panggilan Bara kepada Nabila, bagaimana ekspresi panik laki-laki itu dan bagaimana cara Bara menolong Nabila yang terlihat seperti orang gila.


Uhukk!


Nabila terbatuk beberapa kali hingga air yang terperangkap di kerongkongan dan perutnya keluar sedikit demi sedikit.


"Mas Bara!" lirih Nabila. Bara merengkuh tubuh itu, membawa istrinya kedalam dekapan.

__ADS_1


"Syukurlah! Syukurlah kau baik-baik saja!" gumam Bara dengan perasaan lega luar biasa. Tanpa sadar, dia menitikkan air mata. Untuk pertama kalinya dia memiliki perasaan seperti ini. Takut ditinggalkan sampai rasa sesaknya hampir membuatnya mati seketika.


"Mas, dingin ... aku takut!" Nabila berucap dengan suara yang sangat lemah. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Rasanya seperti semua energinya hilang hingga tulang-tulangnya ikut meleleh seperti jelly.


"Aku ada di sini, Sayang. Kau baik-baik saja sekarang. Kita akan ke rumah sakit!" ucap Bara seraya memangku tubuh istrinya. Fino yang melihat itu membuka jaketnya untuk menutupi tubuh Nabila, selain karena baju Nabila basah, Fino merasa tidak tega dan tidak rela jika tubuh wanita itu terlihat oleh orang lain.


"Maafkan kelancangan saya, Pak!" ujar Fino membungkuk ke arah bosnya. Bara tidak mengindahkan itu. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan dan kesehatan istrinya.


"Jangan katakan apa pun kepada yang lain," kata Bara sebelum dia benar-benar keluar dari gudang tersebut.


Jessica, Maurin dan Fino hanya mengangguk mengiyakan perintah dari bos mereka. Sampai ketika sudah lama mematung, mereka semua mulai saling menatap dan mengerutkan kening.


"Apa kalian juga mendengarnya?"


"Mas Bara?"


"Sayang!"


"Wuahhhh ... berita apa yang telah kita lewatkan!" heboh Maurin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hancur sudah harapan gue!"

__ADS_1


__ADS_2