Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 11. Perihal Gaji


__ADS_3

"Nabila! ... Nabila!"


Nabila yang pada saat itu sedang merapikan beberapa pakaian kotor Bara, mengembuskan napas berat. Kenapa dia seperti memiliki bayi besar. Setelah menyiapkannya sarapan, dia juga harus menyiapkan pakaian orang itu. Dalihnya adalah karena Bara tidak tahu bagaimana caranya mencocokan setelah yang akan dia pakai. Apa ini masuk akal?


"Kenapa lagi?" tanya Nabila saat dia sudah ada di kamar Bara. Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya menyodorkan sebuah dasi dan Nabila tahu dia harus melakukan apa. "Kau itu sangat manja!" gumam Nabila menggunakan bahasa Indonesia.


"Apa yang kau katakan?" tanya Bara yang memang tidak mengerti ucapan Nabila.


"Aku hanya bersenandung, Pak. Setelah ini pekerjaan ku selesai, bukan?" tanya Nabila lagi. Dia mendorong simpul dasi sampai mencekik leher Bara dan membuat laki-laki itu tersedak. Nabila tersenyum, dia kembali menunduk dan melengos pergi meninggalkan majikanya.


"Hahh!" Bara melonggarkan dasinya sembari menggelengkan kepala. Wanita itu mungkin memang terlihat sangat mungil untuknya. Namun, dia benar-benar tidak bisa di remehkan. Nyalinya sangat besar, seolah dia tidak takut pada apa pun.


"Saya akan berangkat sekarang, nanti sore, saya ingin melihatmu ada di sini saat saya pulang!"


Nabila memutar bola mata. Dia mendekati Bara kemudian menyerahkan sebuah kertas berukuran sedang pada laki-laki itu.


"Apa ini?" tanya Bara seraya membaca list yang ada pada kertas tersebut.


"Itu adalah biaya perawatanmu. Upah memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, menyiapkan pakaian Bapak, dan tadi terakhir membantu Bapak memakai dasi. Jadi, total gaji saya yang harus Bapak bayar adalah 5 juta, termasuk mengunci pintu setelah Bapak pergi."


Bara tergelak mendengar ocehan Nabila. Wanita ini sungguh luar biasa. Dia berbalik meninggalkan Nabila, tetapi, sebelum keluar melewati pintu, dia kembali menoleh. "Saya akan transfer uangnya, nanti malam. Setelah semua pekerjaanmu selesai."


Sepasang mata wanita itu terbelalak. Dia pikir Bara akan marah, dan kapok karena memintanya untuk menjadi asisten rumah tangga di apartemen itu, tetapi, lagi-lagi Nabila dibuat terheran akan tingkahnya. Satu juta untuk setiap tindakan yang Nabila lakukan? Jika di hitung-hitung, Nabila mungkin akan mendapatkan uang, paling tidak 10-5 juta dalam satu hari.

__ADS_1


"Masyaallah ...!" gumam Nabila seraya menghitung jari jemarinya. Satu tahun bekerja dengan laki-laki ini, akan membuatnya menjadi orang kaya. Luar biasa. Nabila harus mengatakan ini kepada Ezra.


....


Berbeda dengan Nabila yang kebingungan sekaligus takjub. Bara Justru malah terus memandangi kertas yang ada di tangannya. Dia tidak tersenyum dan hanya menatap deretan huruf dan angka pada kertas tersebut dengan sedikit menarik ujung bibirnya.


"Saya mau guru bahasa Indonesia, Durant. Dan saya mau siang ini juga!"


"Baik, Bos!" jawab Durant tanpa banyak menanyakan ini itu. Bagi Durant, asal Bara tidak meminta dia untuk melompati waktu, hal sesulit apa pun, akan dia lakukan.


Semua karyawan di perusahaan Cullen Grup membungkuk saat Bara mulai memasuki lobby perusahaan. Mereka harus menerima fakta jika bos besar mereka ini akan menjadi CEO di perusahaan yang mereka tempati saat ini.


"Pak Bara ganteng ya ... tapi ngeri Na. Dark banget ekspresi mukanya!" kata seorang karyawan wanita di antara semua karyawan yang ada.


Sementara di sudut yang lain, seorang wanita sedang tersenyum ketika mendengar pujian-pujian untuk Bara. Wanita itu adalah Jessica. Sekertaris Bara yang akan membantu laki-laki itu dalam menjalankan tugasnya. Selain sebagai penerjemah, Jessica juga adalah karyawan yang sudah di siapkan CEO sebelumnya untuk mengurus semua jadwal Bara setiap harinya.


Seperti seorang model di atas catwalk, Jessica menggoyangkan pinggulnya sembari mengibaskan rambut hitam bergelombang yang dia miliki. Wanita itu mengikuti Bara dan Durant dari belakang. Namun, saat ingin masuk ke dalam lift yang dimasuki oleh kedua orang itu. Pintu lift sudah lebih dulu tertutup. Padahal Jessica sudah akan menyapa Bara.


Beberapa orang yang juga sedang menunggu lift lain, terbuka, menahan senyum melihat tingkah aneh Jessica. Mereka saling berbisik, tetapi Jessica merasa terganggu sama sekali.


"Liat aja, kalian semua bakal nyesel udah ngetawain gue." Jessica membatin.


Sebenarnya memang pantas jika Jessica sangat percaya diri. Selain berasal dari keluarga yang cukup terpandang, jenjang pendidikan Jessica juga tidak bisa diremehkan. Wanita blasteran Indo Jepang yang memiliki tinggi 170 cm ini memiliki body yang aduhai, juga hidung yang mancung serta dagu lancip.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" sahut seseorang dari dalam. Jessica tersenyum, dia masuk dan berdiri tepat di depan meja kerja Bara. "Selamat pagi, Pak. Saya Jessica Yuki. asisten pribadinya Bapak!" ucap Jessica seraya membungkuk.


Bara sama sekali tidak menoleh. Dia hanya berdehem dan tetap fokus pada pekerjaannya. "Apa kau memang dibutuhkan di sini? Saya sudah memiliki asisten," ujar Bara yang pada akhirnya mengangkat kepala dan bertemu tatap dengan wanita di depannya.


Melihat kesempatan seperti ini tentu saja Jessica tidak bisa membuang kesempatan. Dia tersenyum ke arah Bara dengan senyum terbaik. Sepertinya Bara juga tertarik pada wanita ini, dia berubah menjadi mesin scanner yang memindai tubuh Jessica dari atas sampai bawah.


Senyum tipis tersungging di bibir laki-laki itu. Melihat Jessica, dia menjadi teringat akan sosok Nabila. Mereka tinggal di bawah langit yang sama. Namun, kenapa tampilan mereka sangat berbeda. Bara tidak bisa membayangkan bagaimana Nabila jika mengenakan pakaian seperti ini. Namun, sangat mudah baginya menelanjangi Jessica hanya dengan melihatnya sekilas. Rasa penasaran itu semakin besar. Bara harus memiliki Nabila secepatnya.


"Kau bisa keluar sekarang!" titah Bara seraya mengibaskan tangan. Laki-laki itu menahan senyum. Dia sudah sangat tahu wanita seperti apa yang ada di depannya. Jika pertanyaan kenapa? Itu karena masa lalunya yang tidak pernah jauh dari para wanita penggoda.


Jessica pun keluar pull senyum. Dia menyangka jika Bara mungkin sudah terpikat olehnya, padahal. Laki-laki itu sudah sangat bosan kalau dihadapkan pada jenis wanita sepertinya.


"Barang bagus Bos!" kata Durant masih tidak mengalihkan perhatiannya dari pintu ruangan Bara.


"Seka air liur mu, Durant! Saya tidak suka," kata Bara yang mana itu membuat Durant langsung panik.


"Apa saya harus membunuhnya untuk mu, Bos?" tanya Durant. Dia benar-benar takut kalau Jessica akan menjadi penghancur mood majikanya. Bara bukan tipe orang yang baik jika ketenangannya di usik. Ketenangan untuk Bara juga bukan hal yang bisa dideskripsikan oleh manusia. Jadi, apa pun itu, Durant harus bisa bersikap tegas dan peka terhadap situasi yang ada di sekitar Bara.


"Pastikan saja agar dia tidak menggangguku, Durant."


"Baik, Bos!"

__ADS_1


__ADS_2