Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
43. Kemunculan Seseorang


__ADS_3

Bara mengembuskan napas berat beberapa kali. Wanita itu pasti tidak pulang ke rumah. Orang yang sangat Nabila ingin temui adalah Ezra. Sudah jelas jika istrinya itu pasti pergi menuju sekolah anak kecil itu.


Sepasang kaki jenjang itu berjalan memasuki area sekolah anak laki-lakinya. Dia melirik jam pada pergelangan tangan, seharusnya Ezra sudah pulang, akan tetapi, kenapa sekolah masih sangat ramai.


"Saya sudah pernah melihat ini, Bos. Mereka sedang menunggu orang tua mereka. Ada beberapa yang memang suka bermain lebih dulu sebelum pulang!" ungkap Durant menjelaskan. Bara hanya mengangguk. Dia tidak terlalu paham akal hal-hal seperti ini, dia memang sering ke sekolah ini untuk mengantarkan Ezra. Akan tetapi, saat pulang Marlina hanya akan memanggil taksi, sesekali Nabila juga yang menjemput Ezra jika dia ada waktu luang. Bara selalu memiliki kesibukan, jadi dia tidak selalu bisa menjemput Ezra. Oleh karena itulah dia mempekerjakan Marlina agar bisa mengurus anaknya.


"Ey ... liat, ada Sugar Daddy," bisik seorang ibu muda pada temannya. Kedua wanita itu tersenyum. Alangkah beruntung wanita yang memiliki suami seperti ini, selain tampan, dia juga memiliki postur tubuh yang sangat ideal.


"Contoh manusia yang makin tua makin menjadi. Coba kamu tengok mobilnya! Dia itu bukan orang sembarangan! Dan kalau gak salah, aku pernah liat dia di majalah, busettt guanteng ne pol. Pembisnis hebat itu orang."


"Hmmm ... dia papanya si Ezra, 'kan? Jangan sampe anak kita bikin masalah. Aku denger ibunya si Bobby kemarin ditegur gara-gara ngatain si Ezra bego!" wanita itu mengangkat bahunya, dia benar-benar merinding saat mendengar bagaimana ayahnya Ezra mengancam akan menghancurkan bisnis yang dimiliki orangtuanya Bobby. Padahal ya namanya juga anak-anak. Wajar jika mereka sesekali berkelahi.


"Apa dia mau ngancem orang lagi ya?" bisik yang lain.


....


Bara menaikan alis, dia mencari sosok sang istri juga sosok anaknya dengan saksama. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya saja, saat mengingat sesuatu, Bara langsung berjalan mendekati taman yang ada di samping sekolah tersebut. Mata laki-laki itu berpendar seperti sebuah radar yang bisa mendeteksi sosok Istrinya. Namun, saat sosok itu muncul, hal yang tidak dia ingin dia lihat terjadi.

__ADS_1


"Brengsek!" geram Durant melangkah lebih dulu dari Bara. Dia langsung menarik kerah kemeja yang dikenakan orang di samping Nabila dan langsung menghajarnya membabi-buta. Nabila yang melihat kejadian itu dibuat tercengang. Dia beranjak dari bangku taman.


"Durant. Hentikan!" titah Nabila dengan wajah paniknya. Di sana masih ada Ezra juga anak-anak yang lain, hal bodoh apa pagi yang sedang orang ini lakukan. "Durant hentikan atau saya panggil polisi!" teriak Nabila lagi.


"Hentikan!" suara bariton dari seseorang dibelakang Nabila membuat wanita itu menoleh, bibirnya langsung menyunggingkan senyum tipis. Jadi, inilah biang masalah yang terjadi. Suaminya? Kenapa? Sedang apa dia di sini? Bukankah dia sedang rapat?


Nabila ingin membantu laki-laki itu, akan tetapi dia sadar kalau dia tidak bisa menyentuh lawan jenis sembarangan. Astaghfirullah. "Maafkan saya," gumam Nabila dengan wajah memarah, menahan marah juga malu.


"Sayang!" panggil Nabila pada anak-anak yang sekarang sedang memeluknya. "Main di depan dulu ya, Mama mau ngobrol sama Papa!" Nabila memberikan kode kepada Marlina untuk segera membawa anak-anak menjauh dari sana.


"Pergilah!" titah Nabila lagi. Marlina akhirnya membawa Ezra dan Nana pergi dari sana. Hingga kini, hanya tinggal dia, Bara, Durant dan juga dokter Fathan.


"Jelaskan apa yang kau lakukan, Durant?" titah Nabila. Durant tidak menjawab, dia malah melirik Fathan sekilas dengan tatapan mautnya. Nabila mengembuskan napas kasar. "Apa Bapak juga tidak mau berbicara? Tidak ingin meminta maaf?" tanya Nabila pada suaminya.


"Kenapa saya harus minta maaf? Bukankah wajar jika saya melakukan itu?"


"Wajar?" tanya Nabila dengan wajah bodohnya. "Apa yang wajar?" tanya Nabila lagi. Dia hampir menangis karena kesal, namun suaminya terlihat biasa saja seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Mas ... baiklah, mungkin kau marah karena aku lari dari rumah sakit. Aku sudah bilang kalau aku sudah sembuh. Aku bukan tahanan, kenapa aku tidak boleh memutuskan apa yang ingin aku lakukan. Lagipula jika Ezra tidak ...."


"Sudahlah!" kata Fathan. "Saya baik-baik saja, Mbak. Mungkin suami Mbak salah paham karena cemburu kepada saya!" ujar Fathan menarik ujung bibirnya.


"Cemburu?" tanya Nabila lagi. "Kenapa?"


"Bukankah kalian suami istri?" tanya Fathan. "Wajar jika seorang suami marah saat melihat istrinya sedang mengobrol dengan laki-laki lain!"


Bara tergelak, dia menggelengkan kepala seraya beranjak dari hadapan orang-orang itu. Tangan yang ada di samping tubuhnya mengepal dengan sangat kuat, Bara tidak bisa terus menyaksikan hal seperti ini. Dia benar-benar akan menghabisi Fathan jika terus melihat interaksi yang sedang dilakukan oleh istri dan juga laki-laki brengsek itu.


"Mas!" panggil Nabila. Bara sama sekali tidak menyahut, bahkan, saat berada di depan sekolah pun, Bara mengabaikan panggilan dari Ezra. Wajahnya benar-benar sangat menyeramkan, dan itu membuat Durant yang ada di belakangnya bergetar ketakutan.


"Serahkan kunci mobilnya, Durant!"


"Bos!"


"Serahkan atau saya potong kaki kamu!"

__ADS_1


__ADS_2