
Kali ini Nabila bergeming saat Bara memeluknya dan mengarahkan wajah sang istri ke dadanya. Wanita itu semakin kesakitan karena ulah Eileria. Tangan yang tadinya mencengkram pinggiran ranjang kini sudah mencengkram tangan sang suami dengan wajah yang semakin dia sembunyikan.
"Akhhhh!" Nabila berteriak ketika Eileria menarik kaki itu cukup kencang. Tanpa sadar Nabila menitikkan air mata. Ini sungguh sangat sakit, dan itu membuatnya enggan untuk menarik wajahnya karena malu.
"Kau akan baik-baik saja, Honey!" bisik Bara mengecup pucuk kepala sang istri dari balik kerudung yang istrinya itu kenakan.
"Terima kasih, Kak Bila!" ucap Eileria seraya memasangkan plester putih besar pada pergelangannya kaki Nabila kemudian membalut kaki itu dengan perban. Ada otot yang memang harus sedikit ditekan supaya mereka bisa kembali ke jalurnya. "Aku minta maaf karena sudah membuatmu salah paham. Aku tahu, kau mungkin mendengar perkataan ku di restoran tadi siang. Aku hanya bercanda. Aku memiliki suami dan putra yang sangat aku cintai. Hanya saja, kami sedang bertengkar. Jadi aku kabur ke sini untuk menemui Kak Bara!"
Selesai dengan kegiatannya. Eileria beranjak. Dia mengambil kain berisi kompres es. Menarik Bara untuk bertukar posisi dan meminta Bara untuk meletakkan kantung es tersebut di kaki istrinya. Bara hanya menurut, dia sedang tidak dalam keadaan untuk membantah. Dua wanita ini terlalu menakutkan untuknya yang sangat menyayangi mereka. Bara mengangkat kaki Nabila, meletakkan kaki itu di atas pangkuannya kemudian mengompresnya pelan.
"Aku sangat bahagia karena kau, Kak Bara tidak sendirian lagi!" ungkap Eil seraya memeluk Nabila. "Aku sengaja menahannya untuk membuktikan sesuatu. Dulu, mungkin dia memang mencintaiku. Aku hanya ingin membuktikan jika sekarang dia sudah tidak memiliki perasaan apa pun. Dan benar saja, meskipun tadi dia mengikuti ku, hatinya tetap menoleh ke arah mu. Dia sudah tidak mencintaiku, Kak Nabila. Kau harus bangga karena itu. Dia juga sering membicarakan mu dan Ezra. Berbahagialah! Bara sudah tidak memiliki bayang-bayang wanita lain. Aku percaya, dia bisa dan sangat mampu membahagiakan mu. Jika tidak, kau bisa menghubungiku dan mengadukan setiap perbuatannya. Nanti, aku yang akan memberikannya pelajaran." Eileria terkekeh saat Bara menatapnya dengan mata mendelik. Nabila masih diam, enggan untuk berbicara. Dia bingung antara harus percaya atau tidak pada dua orang ini.
"Kak ...!" Eileria menarik tangan Nabila ke pangkuannya. "Kami mungkin tidak memiliki hubungan darah, tapi kami saling menyayangi sebagai keluarga, kami sudah tidak memiliki orang tua. Sama seperti mu, tapi ... aku masih beruntung karena aku memiliki ayah mertua yang menyayangiku. Kalian hanya memiliki satu sama lain. Aku titip laki-laki bodoh ini padamu. Meskipun dia bodoh dalam beberapa hal, dia tidak akan pernah mengkhianatimu. Percayalah!" Eileria mengusap wajah Nabila lembut. "Jangan sia-siakan laki-laki ini. Aku tahu kau juga mencintainya. Kenapa kau masih ragu! Jangan sampai menyesal di kemudian hari, Kak."
__ADS_1
Nabila tersenyum kecil, dia tidak menjawab dan malah melirik Bara yang masih menunduk dan fokus mengompres kakinya. Jemari tangan itu menyentuh wajah sang suami kemudian sedikit mengangkat dagu suaminya membuat tatapan mereka bertemu. Untuk kesekian kalinya, air mata itu menetes dan kali ini, jatuh tepat di atas wajah suaminya.
"Kenapa? Aku menyakitimu lagi?" tanya Bara seraya beranjak dari duduknya. Dia melepaskan tangan Eileria dari tangan kiri sang istri. "Jangan menangis Honey! Apa perban ini membuat kakimu semakin sakit? Jika iya, aku akan menuntut rumah sakit ini untukmu, Sayang!"
"Cih ... sok romantis," ketus Eileria. "Aku akan memeriksa kondisi Ezra. Kalian tunggu saja di sini!"
"Sayang ... bicaralah!" minta Bara seraya menangkup wajah istrinya.
Bara menggelengkan kepalanya. Ini bukan salah istrinya. Dia yang salah karena tidak bisa menjaga istri dan anaknya. Bahkan, Bara tidak ada di saat sang istri membutuhkan bantuannya. Kaki Nabila sampai terluka, Bara sangat menyesal karena hal itu.
"Shutttt!" Bara menarik Nabila ke dalam dekapannya. Dia mengecup kepala sang istri seraya mengusap punggung istrinya itu dengan usapan yang sangat lembut. "Aku yang salah, Sayang. Kau tidak harus minta maaf. Aku yang harusnya kau salahkan. Kau pantas memukulku. Aku tidak keberatan dengan itu."
"Mas ...!"
__ADS_1
"Hmmmm ... bicaralah! Kau membutuhkan sesuatu?"
Nabila menggelengkan kepalanya. Dia menatap Bara yang kini sedang menunduk juga menatap ke arahnya. "Jika aku mengatakannya kalau aku belum bisa mencintaimu, apa Mas akan marah?"
Deg!
Satu kalimat pertanyaan yang Nabila lontarkan itu membuat jantung Bara seperti di hantam batu besar. Rasanya lebih sakit daripada tamparan Nabila di pipinya. Dengan susah payah Bara tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku sudah pernah mengatakan kalau kau tidak perlu mencintaiku. Biarkan aku saja yang mencintaimu. Itu saja sudah cukup."
Nabila tersenyum. Tangan kanannya terulur, membelai wajah suaminya kemudian mengecup pipi sang suami yang tadi dia tampar. "Jika aku mengatakan kalau aku mencintaimu? Bagaimana?"
"Hah?" cengo Bara menatap Nabila dengan wajah bodohnya.
"Aku mungkin mencintaimu, Mas. Apa aku diijinkan?"
__ADS_1