
"Terserah Ibu saja! Lina sudah bilang kalau Lina gak mau nikah sama Juragan Sukamat! Kalau Ibu mau memutuskan hubungan dengan Lina, Lina gak papa. Gak usah cari Lina lagi!"
Marlina membantingkan ponselnya ke sembarang arah. Sudah cukup baginya karena selama ini dia selalu diperalat oleh keluarganya sendiri. Marlina memiliki hak untuk menolak perjodohan itu. Bagaimanapun caranya, Marlina tidak mau hidup dalam kesengsaraan seumur hidupnya. Cukup, sudah cukup baginya untuk menerima perlakuan tidak adil. Hinaan, juga kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan, Marlina akan melupakan itu semua.
"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang menyodorkan ponsel kepada wanita yang masih berlinang air mata.
Marlina tersenyum kecil seraya mengambil ponsel itu. "Saya baik-baik saja! Terima kasih!" jawab Marlina. Dia menunduk tanpa melihat siapa orang yang sedang berbicara dengannya. Baru akan melangkah, tiba-tiba tangan seseorang menahan lengannya.
"Tunggu dulu!" ucap orang itu. Marlina menoleh, dia mendongak menatap seseorang yang kini berada di depannya. Wajah ini, kenapa orang ini sangat tampan, padahal dia yakin jika matanya masih berkabut karena menangis cukup lama.
"Apa Bos Bara ada di rumahnya?" tanya orang itu.
"Akh, Pak Bara sedang ke rumah sakit. Bu Nabila sepertinya sedang kurang enak badan! Ada apa?" tanyanya masih sesenggukan.
Laki-laki itu tersenyum, dia melepaskan tangan Marlina kemudian menyodorkan sapu tangan ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Saya hanya ingin mengatakan sesuatu. Jika tidak ada, ya sudah!"
"Kenapa tidak menelponnya saja?" tanya Marlina lagi. Dia mengambil sapu tangan yang laki-laki sodorkan padanya.
"Kalau aku bisa menghubunginya, aku tidak akan berada di sini! Aku pergi dulu!" ucap laki-laki itu. Dia langsung berbalik tanpa menunggu jawaban dari Marlina. Namun, beberapa detik kemudian dia berbalik kembali. "Namaku, Max!" ucapnya seraya tersenyum.
Bukannya menjawab, Marlina malah terbengong. Dia menatap orang itu seperti orang bodoh. Mengigit sapu tangan yang Max berikan hingga matanya pun lupa untuk berkedip.
"Astaghfirullah! Sadar Marlina. Kamu bukan spek orang itu!" gumamnya.
....
"Bagaimana menurutmu?" tanya seorang wanita pada laki-laki di depannya.
Senyum di wajah laki-laki itu melebar ketika dia melihat foto Bara yang sedang membopong Nabila masuk ke IGD.
__ADS_1
"Apa kau yakin obat itu memang bereaksi demikian?" tanyanya kembali. Sang wanita mengangguk.
"Gue yakin. Ini obat bukan sembarang obat! Meskipun reaksinya agak lambat, tapi efek yang ditimbulkan memang akan berlangsung cukup lama. Kalau gue ngasih obat ini setiap hari, lambat laun kesehatan Nabila akan menurun. Dan semakin lama maka dia akan ... krekkk! Mati!" ucap orang itu tertawa terbahak-bahak.
Tidak berbeda dengan reaksi yang wanita itu tunjukan. Laki-laki itu juga tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat gelas alkohol di tangannya mengajak sang wanita untuk kembali minum minuman mereka sampai tandas.
Wanita itu beranjak dari duduknya dan beralih ke atas pangkuan laki-laki itu. Dengan posisi duduk yang mengangkangi sang lelaki, wanita itu mulai meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama musik yang ada di ruang KTV tersebut. Sang laki-laki meraba setiap jengkal dari tubuh wanitanya. Bahkan tangan nakalnya mulai membuka kancing kemeja wanita itu satu persatu.
"Puaskan aku jika kau bisa!" bisik laki-laki itu di samping telinga wanitanya. Bak penunggang kuda di pacuan, wanita itu mulai bergerak lincah. Tempo yang dia mainkan tidak tanggung-tanggung. Laki-laki itu menengadahkan kepalanya ke atas, matanya yang semakin sayu, juga dengusan kuda yang semakin rapat.
....
Bara menutup pintu ruangan dokter spesialis itu dengan wajah tanpa ekspresi. Dia berjalan gontai menuju ruang rawat istrinya. Ketika pintu geser itu terbuka, Bara mengembuskan napas pelan, barulah setelah itu dia leluasa untuk masuk. Perlahan tapi pasti, Bara menghampiri istri cantiknya yang sudah mulai terlelap. Ingin mengusap kepala sang istri tetapi takut mengganggu. Pada akhirnya, dia menarik kursi kecil yang ada di samping ranjang istrinya itu kemudian duduk. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Tangan besarnya terulur, meraih tangan mungil sang istri kemudian menggenggam tangan itu dan menciumnya pelan. Sangat pelan, mungkin hanya sebatas menempel tanpa mau memperdalam.
Setitik air mata menetes dari sudut matanya. Perasaannya kacau. Entah kenapa dia merasa seperti ini. Perasaan bersalah juga ....
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku. Seharusnya aku bisa menjagamu dengan baik. Maafkan aku, Honey!" gumam Bara dengan suara yang sangat lirih.