Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
76. Cemburu


__ADS_3

Bara tergelak saat mendapat pertanyaan tidak berbobot dari istrinya. "Kau cemburu?" tanya Bara.


"Tidak!" jawab Nabila singkat.


"Dengarkan aku, Baby! Jika dia lebih menarik darimu, kenapa sejak awal saya tidak memilihnya saja! Hmm?"


"Maaf!" ucap Nabila menundukkan wajahnya. Dia merasa sangat bersalah tapi juga tidak bisa menahan kekesalannya. Mungkin karena faktor kehamilan juga dia menjadi sangat moody seperti ini. Bayangan di mana Bara yang berjalan beriringan dengan Jessica membuat hatinya panas meskipun dia sudah berusaha menyejukkannya dengan kepercayaan yang dia berikan untuk suaminya .


"Saya tidak masalah jika kamu memang marah. Tapi saya lebih senang jika kamu meluapkan amarahmu kepada saya! Pukul saya jika saya melakukan kesalahan. Tapi jangan pernah sakiti dirimu sendiri atau membahayakan calon bayi kita!" Tatapan Bara kali ini benar-benar sangat berbeda. Nabila melihat ketulusan di sana. Tidak ada perintah, atau kebohongan. Suaminya ini ....


"Mas Bara!" gumam Nabila seraya menghambur ke pelukan suaminya. "Maafkan Bila, Mas! Bila pikir Mas cuma mau titip bayi aja. Bila, takut Mas titip bayi di perut perempuan lain."


Bara hanya tersenyum, mengusap punggung istrinya dengan usapan yang sangat lembut. Dia tidak mungkin memiliki bayi dengan perempuan lain. Hanya Nabila yang boleh melahirkan anak untuknya. Dia tidak ingin orang lain.


....


"Ada apa, Mbak?" tanya Nabila. Nabila celingukan melihat ke arah yang ditatap boleh pengasuh anaknya. Hari ini Ezra mendapatkan jadwal khusus untuk melakukan pemeriksaan bersama dokternya. Bara tentu tidak ada di sana karena dia sedang mengurus sesuatu yang enatah apa.


"Enggak papa, Bu?" ujar Marlina dengan wajah gugupnya. "Sebaiknya kita langsung pulang saja. Nanti Tuan bisa marah kalau Ibu telat pulang!"


Kening wanita yang ada di samping Marlina mengkerut. Sejak kapan Marlina menjadi banyak bicara dan berani mengaturnya. Kenapa Nabila baru melihat sikapnya ini sekarang. Apa yang salah dengan pengasuh anaknya.

__ADS_1


"Ya sudah, kita pulang saja!" jawab Nabila dengan senyum di bibirnya. Wanita itu menuntun Ezra di lorong rumah sakit. Durant dan salah atau bodyguardnya berjalan di depan Nabila, sementara dua bodyguard wanita berada di belakangnya.


"Nana!" teriak Ezra ketika sampai di depan rumah sakit. Bocah itu langsung berlari melepaskan tangannya dari tangan sang mama.


"Ezra!" panggil bocah yang sepertinya satu usia dengan Ezra. Bocah kecil itu terlihat sangat lucu dengan bando dan rambutnya yang dikepang dua.


"Aku melidukanmu, Na!"


"Eyyy ... mana bisa kayak gitu. Kemarin kita bertemu kok di sekolah. Lusa kita udah sekolah lagi, Za!" jawab Nana merangkul pundak temannya.


"Jadi, kau tidak melindukan ku?"


Nabila tergelak melihat interaksi yang dilakukan Ezra juga temannya, Nana. Dia tidak menyangka jika anak laki-lakinya memiliki sikap seperti ini. Ezra terlalu agresif, persis seperti almarhum ayahnya.


"Maafkan saya, dokter Fathan!" ujar Nabila merasa kurang enak. Tapi sebenarnya ini lebih baik karena dia tidak harus terlalu banyak basa-basi dengan lawan jenis.


"Saya mengerti. Apa sekarang Ezra sudah baik-baik saja?" tanya Dokter Fathan melirik ke arah Ezra dan Nana yang sedang bermain di taman rumah sakit. Mereka tidak jadi pulang karena Ezra meminta penangguhan waktu selama 30 menit. Alasnya hanya untuk melepaskan rindu. Benar-benar konyol.


"Alhamdulillah baik, Dok! Saya sudah sangat khawatir. Tapi, kerabat suami saya juga ikut memantau perkembangannya. Semoga saja, Ezra bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama." Tiba-tiba awan mendung menyelimuti wajah cantik itu. Fathan hanya bisa tersenyum kecil, dia tidak tahu harus berkomentar apa. Nabila juga pasti sudah tahu jika anak-anak seperti Ezra ini umumnya memiliki umur yang lebih pendek. Namun, tidak ada yang tidak mungkin. Allah sudah memiliki garis takdirnya untuk semua orang. Jika Ezra memang ditakdirkan untuk memiliki umur yang panjang, ujian apa pun yang dia hadapi, tidak akan bisa mengubah apa pun.


"Marlina!" pekik seseorang tiba-tiba. Wanita itu memejamkan mata. Tadi dia mengajak Nabila untuk pulang agar bisa menghindar dari ibunya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Nabila.


"Itu Ibu saya, Bu! Saya permisi sebentar ya Bu!" Nabila hanya mengangguk.


Marlina menarik ibunya untuk menjauh dari orang-orang itu. Dia sengaja bersembunyi diantara mobil-mobil yang terparkir di sana.


"Ibu!"


Plakkk!


Marlina meringis setelah mendapatkan tamparan dari ibunya sendiri. Bukannya menanyakan kabar, ibunya malah tega mengangkat tangan. Sebesar itukah kesalahan yang dia perbuat. Bibirnya menyunggingkan senyum, sebuah senyuman penuh arti namun hanya dia dan hatinya saja yang tahu.


"Dasar anak tidak tahu diri! Kau lihat! Ibu sampai harus bekerja jadi cleaning servis untuk memenuhi kebutuhan adikmu dan juga membayar hutang-hutang kita! Kamu malah enak-enakan main sama orang-orang kaya itu! Hati nurani kamu di mana Marlina! Ibu sudah enggak muda lagi. Ibu udah capek! Dari kecil Ibu ngurusin kamu! Sekarang malah kayak gini. Coba kamu pikir, ada gak anak durhaka seperti kamu ini!"


"Apa ini karena juragan Sukamat? Karena Lina gak mau nikah sama dia?" sarkas Marlina dengan suara tegas namun menahan linangan air mata. Dia merasa jika dirinya tidak pernah berhutang. Itu karena gaya hidup adiknya yang terlalu hedon, bergaul dengan anak-anak orang kaya dan selalu mencoba untuk menyaingi gaya mereka.


Ibu Irma. Ibu dari wanita itu menengadahkan kepalanya ke atas. Hembusan napas kasar terdengar dari wanita yang sedang berdecak pinggang itu.


"Apa susahnya sih nikah sama Juragan Sukamat. Tinggal nyenengin dia doang! Temenin di ranjang. Udah, kamu gak akan susah-susah kerja sama orang. Tinggal duduk manis, nyiapin dia kopi, apa lagi? Adik kamu sebentar lagi harus masuk kuliah, dia butuh banyak biaya, Lin! Tolong mengerti. Setidaknya, jika kamu tidak bisa sekolah, biarkan adik kamu yang sekolah! Kalau ada salah satu dari kita yang sukses, kita juga pasti gak akan kesulitan seperti ini!"


Kedua tangan Marlina terkepal sangat kuat. Wanita itu memalingkan wajah untuk beberapa saat. Mengusap air matanya yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.

__ADS_1


"Ibu mau ngorbanin Lina untuk kebahagiaan, Nisa?" tanya Marlina getir. "Bu ... apa sih yang kurang dari Marlina? Lina itu udah banting tulang untuk kalian. Tidak mengambil beasiswa karena Marlina kerja untuk menutupi kebutuhan kita. Dimana letak kesalahan Marlina? Apa yang Ibu lihat dari Nisa tapi gak ada pada Marlina? Haruskah Marlina mati biar Ibu gak nyari Marlina lagi untuk hal seperti ini? Jika Marlina mati, mungkin Ibu akan merasa sedih, biarpun hanya sedikit!" lirihnya. "Sudahlah, Bu! Lina capek. Mulai sekarang, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Biarkan Lina hidup sendiri." Marlina berbalik seraya mengusap air matanya. Dia berusaha untuk tegar tapi tidak bisa.


"Jika kamu tidak mau menikah dengan Juragan Sukamat! Itu sama saja kamu bunuh Ibu, Lina."


__ADS_2