Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
33. Kalang Kabut


__ADS_3

Bara terduduk di tepian ranjang setelah Nabila membanting pintu dengan sangat kencang. Mata itu bergerak gelisah, mencari ketenangan dan juga jawaban dari apa yang baru saja Nabila katakan, apa maksud istrinya? Bukankah saat ini mereka sudah menjadi suami istri? Siapa yang ingin berpisah? Apa dia memang akan melepaskan Nabila setelah dia bosan? Tapi ....


Laki-laki itu membaringkan tubuhnya dengan mata terpejam. Untuk sekarang, dia tidak bisa menjanjikan apa pun. Bara hanya takut jika apa yang dia rasakan saat ini hanya sebuah kekaguman. Bara takut jika dia salah menafsirkan apa yang dia rasakan. Bahkan, yang paling menakutkan adalah dia yang mungkin saja tidak mencintai wanita itu. Meskipun ustadz Faisal pernah mengatakan jika rumah tangga tidak bisa dibuat mainan, akan tetapi, mendengar apa yang Nabila katakan, wanita itu bukan hanya membutuhkan janji. Akan percuma saja meskipun dia mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah menceraikan wanita itu.


"Apa yang harus saya lakukan, Nabila!" gumam Bara memijat pelipisnya. Kepalanya mulai berdenyut, bahkan suhu tubuhnya mulai tidak bersahabat.


Lain dengan Bara, lain dengan Nabila. Wanita itu malah berjongkok di bawah meja pantry, menangis seraya mengigit lengan yang terbungkus baju yang dia kenakan. Kenapa dia sangat kecewa saat tidak mendengar apa pun dari mulut suaminya. Kenapa dia malah mengharapakan suaminya untuk mengatakan jika mereka tidak akan bercerai dan mungkin dia mengharapkan Bara mengatakan cinta padanya. Lucu bukan?


"Ya Allah ... jika suamiku memang jodohku, hamba mohon pertahankan rumah tangga kami, namun jika memang bukan, hamba mohon jauhkan kami, lepaskan kami dari belenggu pernikahan yang tidak kami inginkan!"


Nabila mengusap bulir bening yang masih mengalir di pipinya, wanita itu beranjak kemudian tersenyum, dia bukan anak remaja lagi. Tidak baik jika terus bersedih seperti ini. Dia sudah dewasa, sudah menjadi seorang ibu. Bukan saatnya untuk memprioritaskan perasaannya sendiri. Ada Ezra hang harus dia pikirkan dan dia bahagiakan.


....


Makan malam sudah tersaji di atas meja. Nabila melepaskan apron yang dia pakai kemudian berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai dengan kegiatannya, Nabila bermaksud untuk kembali ke luar, akan tetapi, seseorang yang sedang tidur di ranjang membuatnya mengerutkan kening.


"Pak!" panggil Nabila menyentuh bahu suaminya pelan. Namun, Bara tidak menjawab, dia menyentuh kening Bara hingga mata itu membulat karena suhu panas yang dilontarkan.


"Bapak demam!" gumam Nabila. Wanita itu hendak beranjak akan tetapi, sebuah tangan menahan tangannya. "Pak!"


"Maafkan aku, Nabila!"


Bara berbicara seraya menatap wajah Nabila dengan mata sayunya.


"Lupakan itu untuk sekarang, Pak! Saya harus melihat suhu tubuh Bapak dulu!" kata Nabila menepis tangan Bara untuk mengambil kotak P3K. "Astaghfirullah! 40° Bapak benar-benar demam!"


"Nabila! Aku baik-baik saja," ucap Bara saat Nabila mulai kesana-kemari mencari handuk dan air untuk mengompres keningnya.


"Saya akan bawakan makan malam, setelah ini, baru minum obat!" ucapnya lagi, dan Nabila kembali melesat keluar dari kamar. Bara menatap nanar bayangan wanita yang menjadi istrinya. Sebegitu paniknya Nabila sampai dia harus mondar-mandir seperti itu. Bara yakin, Nabila pasti sangat lelah, belum lagi dia harus memasak dan sekarang malah harus mengurusnya juga.

__ADS_1


"Sayang ... makan sama Mbak Marlina dulu, ya! Papa kamu sakit, mama mau kasih Papa makan dulu!" ucap Nabila membawa nampan berisi sup yang tadi dia buat, nasi juga air putih.


"Pelgilah! Ezla bukan anak kecil lagi, Mama!"


Nabila tersenyum. Bocah ini selalu mengatakan jika dia sudah bukan anak kecil lagi, padahal kenyataannya Ezra memang masih belum besar.


"Ayo, duduklah!" kata Nabila. Dia membantu suaminya untuk bersandar pada sandaran ranjang dan mulai menyendok makanan untuk suaminya itu. "Aaaa ... buka mulutnya, Pak! Hati-hati, masih panas!"


Bara hanya menurut tanpa mengatakan apa pun. Dia sebenarnya bisa makan sendiri. Akan tetapi saat melihat Nabila yang sedang berperan menjadi seorang istri yang baik, dia sedikit menarik ujung bibirnya, dia juga sangat menyukai hal seperti ini. Perhatian yang sudah puluhan tahun tidak dia dapatkan, kini dia temukan dari wanita cantik dengan rambut hitam bergelombang yang sekarang sedang menyuapinya makan. Ada rasa haru, dan juga bahagia. Ada apa dengannya? Kenapa dia mendadak melow seperti ini.


"Habiskan! Setelah ini minum obat ya!"


"Uhukkk!"


"Minum, Pak!" ucap Nabila menyodorkan air di depan bibir suaminya.


"Saya tidak sakit, Nabila!"


Lagi-lagi Bara hanya diam dan menurut. Dia tidak berani melawan Nabila yang masih dalam mode seriusnya. "Saya akan kembali sepuluh menit lagi," ucap Nabila membawa nampan berisi piring kosong keluar.


"Astaga!" ucap Bara saat Nabila sudah masuk lagi ke kamarnya. Wanita ini memang sangat pantas untuk menjadi seorang perawat. Tapi tidak, dia tidak ingin istrinya ini merawat pasien laki-laki yang pastinya akan sangat menyukai wajah cantik sang istri. Sama seperti si Fino, laki-laki brengsek itu selalu berusaha mencuri start darinya.


"Habiskan airnya!" ucap Nabila. Dia membantu suaminya untuk kembali berbaring, akan tetapi Bara menolaknya.


"Saya belum shalat Nabila!"


Wanita itu menepuk keningnya cukup keras. Laki-laki tidak berperasaan ini sudah memiliki keyakinan yang sama dengannya. Nabila melirik jam yang ada di atas nakas, tinggal beberapa menit lagi sampai adzan magrib berkumandang.


"Tunggu sebentar!" Nabila berbalik, namun, saat dia baru melangkah, Bara menarik tangannya. Wanita itu tersentak merasakan tubuh panas suaminya yang menempel pada punggungnya, tangan kanan sang suami melingkari tulang selangka nya. Dan tangan yang lain melingkar di atas perutnya. Deru napas Bara terasa sangat hangat di lehernya membuat gelenyar aneh dalam tubuhnya tiba-tiba saja muncul.

__ADS_1


"Pak!"


"Biarkan seperti ini! Saya sudah bilang saya tidak ingin dipanggil, Bapak. Kau boleh memanggilku bapak saat kita ada di kantor, tapi saat di luar kantor, saya mau kamu jangan panggil saya bapak. Saya sudah bilang kalau saya bukan ayahmu!"


"Jadi?"


"Sebut saya dengan panggilan lain," bisik Bara dengan suara seraknnya. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri membuat wanita yang ada di depannya Tremor, Nabila tidak bisa mengontrolnya degup jantungnya yang semakin lama semakin menggila.


"Pak!"


"No! Panggil Mas aja!"


Entah kenapa itu malah terdengar seperti sebuah rengekan di telinga Nabila, pipinya memanas, bibirnya tidak kuasa untuk tidak tersenyum.


"Saya mau keluar dulu, Pak!"


"Panggil dulu saya dengan sebutan itu!"


"Tapi!"


"Baiklah, saya tidak akan melepaskanmu!"


Nabila mencengkram kuat baju yang dia kenakan, matanya terpejam. Bibirnya bergetar karena berusaha untuk menggumamkan sesuatu yang sangat berat untuknya.


"Mas ...." gumam Nabila.


"Hmmm ... saya tidak dengar!"


"Mas Bara!"

__ADS_1


"Apa? Saya tidak dengar!"


"Mas Bara!" ucap Nabila dengan suara yang lebih lantang. Wanita itu langsung beranjak, berlari keluar kamar tanpa menolehkan kepalanya. Laki-laki yang melihat itu terkekeh, dia menunduk lalu menatap pintu kamar itu lagi. Kali ini bukan hanya terkekeh, dia juga tertawa sampai kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


__ADS_2