
"Kenapa hari ini, Papa gak nganterin Ezla, Ma? Papa lagi sibuk ya?" tanya Ezra dari kursi belakang. Bocah itu duduk di samping sang pengasuh. Sementara mamanya sibuk menyetir.
"Papa katanya lagi ada kerjaan. Jadi gak bisa nganter kamu. Gak papa, ya Nak. Kan sekarang masih ada mama!"
Ezra mengangguk dengan senyum di bibirnya. Bocah kecil itu tentu tidak mempermasalahkan Bara yang semakin sibuk. Toh jika sudah waktunya, Bara selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengannya.
"Hati-hati, Ma!" ujar Ezra seraya melambaikan tangan ke arah mamanya. Nabila mengangguk, dia melakukan apa yang Ezra lakukan. Mobil mewah itu kembali melesat pergi dari area sekolah sang buah hati. Nabila harus segera ke kantor untuk mengurus semua hal yang kemarin tertunda.
"Pagi, Bu!" sapa beberapa karyawan yang memang mengenal Nabila.
"Pagi!" sapa Nabila kembali. Wanita itu tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya. Senyum di bibir wanita itu terlihat sangat merekah. Dia melirik tumbler yang ada di tangan kirinya. Tumbler berisi teh melati dengan sentuhan kayu manis dan juga sedikit serai itu dia buat kasus untuk suaminya. Karena tadi pagi Bara berangkat setelah subuh, Nabila belum sempat membuatkannya teh hangat.
"Nabila!" heboh seorang wanita dari dalam lift. Maurin, wanita itu langsung menarik Nabila dan memposisikan Nabila di antara dirinya dan Fino, namun, karena Nabila merasa kurang nyaman, dia menarik Maurin dan jadilah wanita itu yang ada di tengah-tengah. "Kemana aja? Aku pikir kamu sakit, tadinya mau aku jenguk, tapi gak tahu rumah kamu yang sekarang dimana." Maurin berceloteh seakan-akan jika saat itu tidak ada siapa-siapa di dalam lift, padahal, selain mereka bertiga, masih ada beberapa karyawan yang juga akan naik ke lantai yang sama. Tentu tidak dengan Nabila, dia harus naik ke lantai yang lebih tinggi untuk menumui sang suami.
"Aku baik-baik, aja kok. Kemarin emang kurang enak badan tapi sekarang udah mendingan, Alhamdulillah!"
Maurin dan Fino mengangguk bersamaan, tangan kanan Maurin menarik tangan Nabila, bermaksud untuk mengajak wanita itu keluar. Namun, kegiatan itu berhenti saat Nabila bergeming. Wanita itu tidak memenuhi ajakan Maurin sama sekali.
__ADS_1
"Mau ke mana lagi? Kita kerja di lantai yang sama 'kan?"
Nabila mengangguk. "Iya, tapi aku ada urusan sebentar! Kalian duluan saja!" ujar Nabila tersenyum kikuk.
"Baiklah, nanti siang makan bareng, ya!"
"Insyaallah!" jawab Nabila dengan senyumannya. Wanita cantik itu menatap pantulan dirinya dari dinding lift yang ada. Beruntung di sana tidak ada siapapun, jadi Nabila tidak harus malu.
Nabila tersenyum kembali saat melihat Durant sudah keluar dari ruangan suaminya. Itu Artinya Bara juga sudah akan keluar bukan? Dia mempercepat langkahnya di lorong tersebut untuk menemui sang suami. Namun, senyum itu mendadak hilang saat suaminya keluar, ada wanita cantik yang menggandeng tangan itu. Tangan yang belum pernah dia gandeng sebelumnya. Apakah posisi dia sudah di ambil wanita lain bahkan sebelum dia bisa menduduki posisinya?
"Pak, Bara!" sapa Nabila sedikit membungkuk saat bertemu dengan suaminya. Dia tidak berani menatap mata itu, bahkan tas tumbler yang ada di tangan kirinya seolah tahu diri kemudian ikut bersembunyi di balik tubuh Nabila.
"Saya ada urusan sebentar, Nabila. Jika membutuhkan sesuatu, kau bisa bicarakan pada Durant! ... dan satu hal lagi, nanti malam saya pulang agak larut!" ucapnya seraya berlalu begitu saja. Nabila mematung, seperti itu? Hanya seperti itu? Apa ada hal yang sangat penting selain berbicara dan menjelaskan kenapa tangan wanita itu menggandeng tangannya!
"Cih ... pada dasarnya semua laki-laki itu bajingan!" umpat Nabila dengan mata memerah menahan amarah.
__ADS_1
"Nyonya Bos!" panggil Durant dari belakang Nabila. Dia tentu tahu bagaimana perasaan Nabila saat ini. Nabila juga pasti tidak tahu siapa Eileria untuk bosnya. Ada rasa bersalah yang mencuat di hati seorang Durant. Dia sangat kecewa karena memiliki bos yang sangat bodoh seperti Bara. Apakah tidak ada waktu satu menit saja untuk mengobrol dengan Nabila? Sikap acuhnya membuat Durant ingin melemparkan Bara ke dasar samudra.
"Jangan katakan apa pun jika kau hanya ingin membela laki-laki itu Durant!" gumam Nabila tanpa menoleh kearah asisten suaminya. Dia berjalan menjauhi Durant. Namun, baru beberapa langkah dia sudah kembali dan memberikan tumbler tehnya kepada Durant.
"Nyonya bos, ini apa?" tanya Durant memperhatikan benda itu dengan seksama.
"Teh bisa ular kobra!" ketus Nabila seraya berlalu.
"What?" cengo Durant. Tumbler itu sampai jatuh dan menggelinding di depannya. Namun, Durant berlari untuk mengejar tumbler itu kemudian mengambilnya. "Apa Nyonya ingin membunuhku? Tapi kenapa? Apakah ini perintah untuk bunuh diri?" gumamnya dengan wajah sendu. "Nyonya, salah saya apa!"
OOTD, Bebep Bila. ♥️
__ADS_1