
"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Durant pada dokter yang sudah memeriksa istrinya.
Dokter itu melihat catatan yang suster berikan padanya. "HB istri Anda rendah Pak! Untuk sekarang masih bisa saya kontrol. Kita bisa kasih booster makanan yang bisa menaikan HB istri Anda dulu. Nanti akan saya berikan tablet juga! Alangkah lebih baiknya jika Bapak konsultasikan masala ini dengan dokter ahli gizi. Untuk sekarang tidak dibutuhkan transfusi darah. Istri Bapak sudah boleh pulang setelah beliau sadar!"
"Dokter yakin?"
"Insyaallah yakin, Pak! Kita ikhtiar dengan cara alami dulu ya!"
Bara mengusap wajahnya pelan. Dia melirik istrinya yang masih terbaring. Banyak sekali masalah yang timbul pada wanita hamil. Apakah dia sudah membuat kesalahan. Harusnya dia tidak membuat Nabila kepayahan seperti ini. Setelah mendapatkan tablet pereda mual, sekarang malah harus menambah tablet lain lagi. Sangat merepotkan.
"Saya akan meresepkan obatnya dulu!" kata dokter itu kemudian berlalu dari IGD.
Wanita itu mengerejapkan matanya perlahan. Wajahnya meringis karena pusing di kepalanya belum sepenuhnya menghilang. Nabila memalingkan wajah, enggan untuk melihat suaminya karena masih terbayang wajah Jessica.
"Sayang!" panggil Bara mendekati istri cantiknya itu. "Apa masih pusing?"
"Hmmmm!" jawab Nabila dengan wajah tak menghadap suaminya.
"Kau marah karena saya menghamilimu ?"
Eishhhhhhh ... Nabila memutar bola matanya. Bagaimana mungkin dia memiliki pemikiran seperti ini. Siapa yang akan marah saat dihamili suaminya sendiri. Bara ini tidak peka atau bagaimana. Dia sudah pernah mengatakan jika dia khawatir saat suaminya dekat dengan Jessica, tapi kenapa suaminya pura-pura tidak tahu. "Bila mau pulang, Mas!"
"Baiklah! Tunggu sebentar! Saya ingin membicarakan sesuatu dulu dengan dokter. Jangan kemanapun!"
Wanita itu masih diam, enggan untuk menyahut. Bagaimana mungkin dia bisa pergi saat kepalanya masih tidak nyaman. Nabila hanya menatap punggung suaminya yang sudah menjauh. Namun, lagi-lagi siluet seseorang membuatnya semakin kesal. Wanita dengan postur tubuh ideal itu juga ada di dekatnya. Untuk apa?
....
"Ezla bawakan Mama minum!" ucap Ezra menyodorkan air hangat untuk mamanya yang sudah duduk bersandar pada sandaran ranjang. "Mama jangan sakit lagi ya! Apa ini karena dedek bayi?" tanya Ezra menatap perut Nabila dengan kilatan amarah di wajahnya.
"Ekh! Kenapa nanya nya gitu, Sayang? Kamu tahu dari mana kalau dalam perut mama ada adik bayi?"
"Papa yang bilang."
"Papa?"
"Iya ...!" jawab Bara yang baru masuk ke kamarnya dengan nampan berisi bubur. "Saya kasih tahu karena dia khawatir. Makan dulu! Minum obat, setelah itu tidur!"
__ADS_1
"Ezla juga mau ke kamal Ma! Bial Mbak Malina saja yang bacain dongeng. Mama istilahat ya!"
Nabila mengangguk. Tangannya terulur mengusap kepala Ezra kemudian mengecupnya. "Selamat tidur, Sayang! Jangan lupa baca do'a! Terima kasih ya!"
"Ezla sayang Mama!" ujarnya mengecup Nabila sekilas.
"Sama Papa gak sayang?" ujar Bara memasang wajah datar seolah-olah dia sedang marah.
"Sama Papa juga sayang!" kata Ezra ingin mengecup pipi Bara tetapi dia kesusahan karena Bara yang duduk di atas ranjang pun, terlalu tinggi untuknya. "Papa!" rengek Ezra menarik kaos yang dikenakan Bara. Laki-laki itu tertawa kecil kemudian menunduk menyodorkan pipinya.
"Selamat tidur, Sayang! Mimpi indah! Tapi jangan mimpiin Nana ya!"
"Kanapa?" tanya Ezra dengan mata berkilau.
"Belum waktunya!"
"Mas!" tegur Nabila.
"Bercanda. Udah keluar sana! Jangan ganggu Papa!" Bara mendorong Ezra dengan jari telunjuknya. Ezra hanya tersenyum.
"Cieee ... mau nambahin Dede Bayi di pelut Mama ya! Bial makin banyak?"
Nabila tersedak air liurnya sendiri. Dia menatap Bara dengan tatapan tajam. Tatapan yang selama ini selalu dia berikan saat dia sedang marah pada suaminya.
"Mama makan bubul yang banyak bial bayinya nambah lagi!" celetuk Ezra dengan polosnya. Bara hampir menumpahkan bubur yang ada di tangannya karena tubuhnya yang tiba-tiba terlonjak menahan tawa.
"Sudah sana pergi!" titah Bara.
"Baik Pak Boss!" jawab Ezra seraya membungkuk ala-ala Durant.
"Ezra itu sepertinya bukan anak kita, tapi anaknya si Durian. Bismillah dulu!" titah Bara menyodorkan sendok bubur di depan bibir istrinya. Nabila hanya manut tapi dengan wajah cemberut.
"Kenapa bukan Durant yang menikah dengan Marlina? Kenapa harus Max? Apa yang kalian rencanakan?"
Bara mengembuskan napas pelan. "Durant sudah menyukai wanita lain! Lagipula, keyakinan mereka gak sama. Kita gak bisa rebut Durant dari Tuhannya hanya untuk menikahkan dia dengan Marlina. Kau mengerti maksud saya, 'kan?"
"Lalu, Max?"
__ADS_1
"Orang tuanya muslim. Kayaknya dia Islam KTP. Saya tidak mengerti, tapi saya menjamin jika dia adalah seorang muslim yang baik."
Nabila menahan tangan sang suami yang sudah akan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. "Cukup, Mas!"
"Kenapa? Mual lagi?" tanya Bara. Nabila hanya mengangguk.
"Ya sudah, saya buatkan jus alpukat saja. Atau mau dibuatkan salad buah?"
Nabila menggelengkan kepalanya. Dia memijat pelipisnya berharap kepalanya bisa segera membaik. Matanya yang semula terpejam kini mulai terbuka ketika tangan Bara menarik tangannya dan menggantikan pijatan yang dia lakukan dengan tangan Bara sendiri. Nabila diam, menatap suaminya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Kebingungan, ketidakpastian, keraguan, cinta, semuanya beradu menjadi satu.
"Pukul saya kalau saya salah! Jangan diam saja seperti ini!" ujar Bara seolah mengerti akan arti dari tatapan istrinya.
Nabila mengembuskan napas kasar. Dia melepaskan tangan suaminya kemudian berbaring memunggungi sang suami. "Saya gak suka Mas Bara barengan sama Jessica terus. Boleh saya bilang kayak gitu?"
Tidak ada jawaban dari suaminya. Nabila kembali menelan pil pahit. Apakah Jessica sangat penting untuk suaminya ini. Padahal, sangat mudah mencari sekertaris lain. Yang lebih kompeten dari Jessica pun sangat banyak.
"Saya akan menjauhnya! Tapi tidak sekarang."
Wanita itu tersenyum getir. Dia berbalik, menatap mata suaminya yang juga sedang menatapnya. "Sampai kapan? Sampai wanita itu berhasil rebut hati kamu, Mas? Sampai dia berhasil masuk kedalam rumah tangga kita? Iya?"
"Nabila cukup! Saya tahu kamu sedang dalam mood yang kurang baik. Tapi tolong, percaya sama saya!"
Nabila menyunggingkan senyum sinis. Dia kembali duduk dan mengambil ponselnya.
"Itu apa?" ketus Nabila menyodorkan ponsel pada suaminya. Kening Bara mengkerut, foto dirinya dengan Jessica.
"Ngapain ke hotel berduaan, hmm? Kalau kaya gini, apa yang harus aku percaya, Mas? Kata-kata Mas Bara? Atau bukti ini?"
"Dari mana kamu mendapatkannya? Siapa orang yang sudah berani memprovokasi hubungan kita?" geram Bara menatap istrinya dengan tatapan tajam. Nabila malah semakin tersulut. Dia merebut kembali ponselnya, dan kembali tidur memunggungi Bara. "Tidak penting siapa yang mengirimnya! Isinya lebih menarik, Mas!" Nabila membatin.
....
"Lakukan sekarang saja!" titah Bara pada orang di sebrang telepon. "Buat j*lang itu mengerti dimana posisinya!"
"Baik, Boss!"
Nabila mengetikkan air mata ketika bibir hangat sang suami menyentuh pipinya. Mungkin Bara berpikir jika dia sudah tidur. Pada kenyataannya Nabila hanya berpura-pura karena dia sangat ingin tahu, apa yang sering suaminya lakukan saat dia terlelap di tengah malam.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas! Tapi aku harus tahu, siapa kamu sebenarnya!"