Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
86. Kelelahan


__ADS_3

Sudah satu minggu setelah persiapan pernikahan yang dilakukan oleh Max dan Marlina. Sejak saat itu pula semua orang sibuk ke sana kemari. Nabil, wanita cantik itu mulai rutin mengantar jemput sang anak karena dia tidak bisa membebani Marlina. Dia ingin membiarkan Marlina beristirahat sebelum acara pernikahannya dengan Max besok lusa. Hari ini Ezra sedang libur. Nabila menggandeng tangan Ezra saat memasuki lobby perusahaan.


"Siang, Bu!" sapa para karyawan yang berpapasan dengan Nabila.


Nabila hanya mengangguk karena tidak mungkin dia menjawab semua sapaan karyawan yang melihatnya. Di dalam lift pun, dia melirik kotak bekal yang akan dia berikan untuk suaminya. Semoga Bara senang dengan kedatangannya siang ini. !


"Luangan Papa di mana, Ma? Kok jauh banget?" tanya Ezra.


"Mau saya gendong, Tuan Boss?" tanya Durant. Padahal ruangan Bara sudah ada di depan mata. Nabila tersenyum ketika Ezra dengan riangnya menghambur memeluk leher Durant yang berjongkok di depan mereka.


"Assalamualaikum!" ucap Nabila. Senyum yang pada awalnya mengembang kini hilang seketika. Sang suami yang dia pikir sedang anteng dengan pekerjaannya ternyata malah sedang memarahi para karyawan.


"Saya bilang saya tidak mau ada kesalahan! Kalian itu harus saya omongin berapa kali? Atau haruskah saya memakai pengeras suara, atau mau saya umumkan pakai toa masjid kalau saya memiliki pegawai yang otaknya bodoh tidak tertolong."


"Papa!" gumam Ezra menatap Bara dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Habislah ... Nabila mengembuskan napas berat. Ezra pasti akan sangat kecewa karena melihat Bara yang seperti ini. "Nak ... Papa kamu!"


"Papa kelen!" puji Ezra. Bocah itu menatap Bara dengan mata berbinarnya. Wajah, gesture tubuh dan juga cara dia menjadi bos, Ezra sangat menyukai semuanya. Bara memang pantas menjadi ayahnya. Selain tampan, Bara juga memiliki wibawa yang sangat luar biasa. Aura yang memancar darinya benar-benar terlihat sangat mengagumkan.

__ADS_1


Berbeda dengan Ezra, Nabila malah dibuat terbengong. Wanita cantik itu sudah berpikir jika Ezra akan marah atau kecewa. Namun, apa yang baru saja dia dengar, Ezra malah memuji ayahnya yang sedang marah-marah.


Bara mengembuskan napas kasar. Laki-laki itu akan kembali memarahi karyawannya, akan tetapi amarah pada wajahnya langsung menghilang saat dia tidak sengaja melihat Nabila dan Ezra ada di sana.


"Kalian keluarlah! Saya akan bicara lagi nanti!"


"Baik, Tuan!"


Durant juga ikut keluar setelah menurunkan Ezra di samping ibunya. Dia juga membantu bodyguard Nabila menaruh kotak bekal yang wanita itu bawa.


"Papa!" panggil Ezra berlari kemudian menghambur ke pelukan ayahnya. Bocah kecil itu mengecup pipi Bara sekilas sebelum dia memeluk Bara lagi. "Papa kelen! Ezla suka!"


Nabila menggelengkan kepalanya. Enggan untuk berbicara karena dia sendiri pun bingung. Untuk apa Nabila melarang suaminya marah-marah, toh yang memegang kendali memang sang suami. Hanya saja, mungkin suaminya itu seharusnya bisa lebih bersabar sedikit. Untuk memuji Bara? Nabila juga merasa ini bukan waktu yang tepat.


"Mas!" panggil Nabila. Wanita cantik itu berdiri di depan suaminya dengan wajah merengut kesal. Dia menatap Bara dengan mata manjanya.


Mengerti dengan itu, Bara memangku Ezra dan mendudukkannya di sofa. "Giliran, Mama kamu, Sayang!" kata Bara mencubit hidung anaknya gemas. Ezra pun hanya mengangguk. Dia berjalan mendekati meja ayahnya kemudian duduk di kursi kebesaran sang ayah.


"Kenapa?" tanya Bara. Dia menarik pinggang Nabila, membantu wanita cantik itu duduk di atas pangkuannya.

__ADS_1


Nabila menahan senyum. Diperlakukan layaknya ratu oleh suaminya sendiri selalu membuat Nabila mensyukuri apa yang dia miliki. Ya, meskipun untuk sampai di titik ini, bantu loncatan yang dia pijak sangat licin dan terkadang menjadi tajam, Nabila bersyukur karena dia berakhir di tangan orang yang tepat.


"Mas ... jangan terlalu keras sama orang. Kasian mereka. Tegur lah dengan cara yang baik.. Insyaallah ... semuanya akan baik-baik saja. Mas orang baik, Mas tahu 'kan kalau melukai hati sesama itu juga sebuah dosa?"


Wanita cantik itu berbicara diantara leher suaminya. Tidak berani menatap mata sang suami karena takut suaminya tidak suka. Namun, sesaat kemudian dia mendongak karena tidak mendengar apa pun dari mulut sang suami.


"Mas marah ya?" tanya Nabila.


Bara menggelengkan kepalanya. "Kenapa saya harus marah," ujarnya seraya mengecup kening sang istri cukup lama. "Saya tahu, semua yang keluar dari bibir kamu ini adalah sebuah kebaikan. Saya harus bersyukur karena kamu masih selalu mengingatkan saya tentang banyak hal. Itu artinya, kamu memang cinta sama saya!"


Sebuah anggukan Nabila dia berikan beberapa kali. Alhamdulillah ... setidaknya suaminya sudah sedikit mengerti mengenai hal-hal seperti ini. Nabila sudah sangat khawatir. Biasanya, seorang laki-laki tidak senang saat diingatkan oleh istrinya tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Namun, tidak dengan Bara. Dia malah menerima semuanya dengan sukarela.


Kedua orang itu saling menatap. Bibir mereka sama-sama tersenyum. Tangan kanan Bara sudah bergerak mengusap wajah sang istri juga kepalanya yang semakin lama semakin menunduk ke arah Nabila.


"Ekhemmmm!" dehem seseorang ketika bibir mereka hampir beradu. Baik Bara maupun Nabila terkekeh kecil. Mereka menoleh ke arah meja kerja Bara yang di sana terdapat bocah yang sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam juga kedua tangan yang disilangkan di depan dada.


"Ezla lapal Mama!" ujar bocah itu. Nabila mengangguk kemudian turun dari pangkuan suaminya. Sedangkan Bara, laki-laki itu mendesah panjang, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan tubuh melemah seperti jelly.


"Kenapa aku lupa kalau ada tuyul itu!" Bara membatin. "Kau sudah harus puasa Alberto! Dan sekarang, menyenangkan mu dengan cara seperti ini malah semakin sulit! Anaconda yang malang," batinnya lagi seraya melirik ke arah paha terdalamnya.

__ADS_1


__ADS_2