Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
40. Luluh


__ADS_3

"Iya ... papa lagi ada acara sama Mama. Ezra di rumah sama Mbak dulu gak papa, ya! Siap. Hati-hati di rumah, Za! Wa'alaikumssalam!"


Bara yang saat itu menelpon di sisi dinding kaca rumah sakit itu berbalik menatap Nabila yang kini sedang menatapnya dengan posisi berbaring menyamping. Dia mendekat kemudian duduk di kursi kecil, tepat di depan istrinya hingga dia bisa bertemu tatap dengan wanita itu.


"Kenapa belum tidur?" tanya Bara.


"Aku mau ngomong, Mas! Bukan sebagai karyawan kamu, tapi sebagai ibunya Ezra!"


"Katakanlah ... tidak perlu bangun. Bicara dalam posisi seperti itu!" cegah Bara saat melihat Nabila hendak duduk.


Nabila mengangguk. Hembusan napas panjang keluar dari mulut wanita itu. "Mas ... aku tahu kamu ingin melakukan yang terbaik untuk melindungi kami ... aku sudah bilang jangan membiarkan kami harapan. Lagipula, kita seharusnya gak usah menegur orang yang bersinggungan dengan Ezra. Mereka masih anak-anak. Kalau dirasa sudah keterlaluan, kita akan bicarakan ini dengan guru mereka dan meminta guru untuk mempertemukan kita dengan orangtuanya. Anak-anak itu akan menjauhi Ezra. Kasian Ezra Mas."


Bara tidak langsung menjawab, dia hanya menatap mata Nabila dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Apa yang ada di mata laki-laki itu, tidak ada yang tahu. Apalagi Bara sangat mudah merubah ekspresi wajahnya.


"Mas ... aku tahu, mungkin aku lancang, tapi ... bolehkah jika kita belajar mendalami agama dengan ini!" minta Nabila seraya meletakan telapak tangannya yang masih dipasang selang infus di atas dada kiri suaminya. "Aku mau, Mas Bara belajar untuk sabar, bolehkah?" tanya Nabila menatap suaminya dengan tatapan memohon. Tatapannya sangat lembut, senyum yang ditunjukkan Nabila juga sangat menenangkan. Entah kenapa, melihat Nabila yang seperti ini membuat jantung Bara berdegup sangat kencang. Dia bisa melihat ketulusan di mata istrinya, bukan tatapan hormat atau takut dan marah, kali ini tatapannya benar-benar menusuk hati Bara ke bagian terdalam.

__ADS_1


"Tidurlah!" jawab Bara menarik tangan Nabila dari atas dadanya.


Wanita itu tersenyum. Dia tahu, suaminya ini mengerti apa yang tadi dia minta. Namun, mau atau tidak mendengarkannya, terserah pada suaminya itu. Nabila hanya berharap kalau suaminya ini mau belajar lebih dalam tentang apa yang mereka yakini.


Hari sudah semakin larut. Bara masih sibuk dengan laptopnya. Ruang rawat itu terlihat sangat besar. Interiornya lebih terlihat seperti sebuah kamar hotel daripada kamar rawat rumah sakit. Terlihat Bara yang sesekali melirik ke arah ranjang istrinya. Wanita itu tidur sangat lelap. Syukurlah, Bara sudah sangat khawatir kalau mag istrinya kambuh lagi. Merasa sudah cukup dengan pekerjaannya, Bara menutup laptop kemudian berbaring di atas sofa. Ada selimut dan juga bantal di sana, jadi Bara masih bisa tidur nyaman.


Senyum simpul tersungging di bibir seorang Nabila. Dia berjongkok di samping suaminya yang sedang terlelap, tangan kanannya terulur mengabsen setiap sudut wajah suaminya namun tidak langsung menyentuh kulit sang suami, hanya usapan di atas angin. Tetapi, itu bisa membuat Nabila senang.


Dia beranjak dan berbalik, infus yang ada ditangannya sudah dilepas karena memang dosis yang diberikan dokter tidak terlalu banyak. Nabila sudah merasa lebih baik. Syukurlah ... kali ini Nabila tidak harus merasakan sakit lebih lama.


Bruk!


Sepasang netra itu melotot ketika Bara menarik tangannya hingga dia masuk kedalam pelukan sang suami. Sofa itu tidak terlalu besar, mereka berdua harus tidur menyamping jika tidak ingin Bara yang ada di sisi sofa jatuh ke lantai.


Degup jantung Nabila tidak bisa dia kondisikan. Apalagi saat Bara semakin mengeratkan pelukannya, hangat ... itulah yang Nabila rasakan saat ini. Dia ingin protes, akan tetapi Nabila takut kalau suaminya akan terbangun. Jika sudah bangun, dia pasti akan kesulitan untuk tidur lagi. Pada akhirnya Nabila ikut memejamkan mata. Dia ikut mendekap suaminya, menikmati apa yang suaminya itu lakukan. Tanpa Nabila sadari, senyum simpul tersungging di bibir laki-laki itu, dia bergerak semakin intens sengaja membuat dekapannya semakin erat.

__ADS_1


....


"Bapak yakin mau aku kenalin sama Nabila? Maksudnya mau aku comblangin sama temen aku itu?"


Maurin menatap Fino yang sedang menikmati makan malamnya dengan tatapan menelisik. Maurin harus tahu, apakah laki-laki ini serius atau tidak. Banyak tanda tanya yang muncul di benak Maurin saat ini.


"Nabila itu wanita yang baik, Maurin. Dan ... jangan panggil Bapak kalau di luar kantor seperti ini. Kita akan berteman!"


"Karena aku teman Nabila?" tanya Maurin menyelidik.


Fino mengangguk mengiyakan. "Saya mau kamu bantu saya untuk mengenal Nabila lebih jauh. Saya mau Nabila jadi calon istri saya!"


"Secepat itu?"


"Iya ... jika bisa, saya mau menikahi wanita itu secepatnya!"

__ADS_1


__ADS_2