Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
72. Menyembunyikannya


__ADS_3

"Apa maksud Mas Bara? Mas gak mau orang-orang tahu kalau aku lagi hamil? Kenapa?" tanya Nabila. Jujur, wanita itu agak kecewa saat mendengar permintaan suaminya. Bukan karena apa, Nabila tahu jika memang selalu mengumbar kebahagiaan itu tidak baik, tapi jika sengaja disembunyikan, kenapa? Apa yang sebenarnya suaminya ini inginkan.


Bara menarik Nabila kedalam dekapannya. Mereka sama sekali tidak memperdulikan Durant yang sedang menyetir. Bara memang sejak awal tidak memperhatikan hal-hal seperti ini. Namun, entah karena kebiasaan atau bagaimana, Nabila pun sepertinya sudah tidak canggung saat melakukan sentuhan-sentuhan kecil seperti ini di depan anak buah suaminya.


"Jangan berpikiran yang macam-macam. Saya melakukan hal seperti ini untuk melindungi kalian. Biarkan semua orang tahu seiring berjalannya waktu. Saya ingi kalian baik-baik saja tanpa gangguan dari orang luar. Mungkin kau tidak tahu, tapi saya tahu betul bagaimana kejamnya orang-orang dalam dunia bisnis ini! Karena itu juga saya tidak bisa menggelar pernikahan mewah untukmu. Buka tidak ingin, tapi tidak bisa. Akan lebih aman jika dibiarkan seperti ini saja. Maafkan saya, Baby!"


Nabila hanya mengangguk. Ya sudahlah, jika ini memang yang terbaik, Nabila akan menerimanya. Sikap suaminya ini sudah sangat membuktikan jika suaminya benar-benar perduli kepadanya. Begitupun kepada anak yang sedang dia kandung. Mata itu terpejam saat rasa kantuk melanda. Usapan yang suaminya lakukan membuatnya merasa sangat nyaman. Tidak perduli apa yang suaminya sembunyikan darinya, Nabila hanya akan menunggu sampai suaminya ini mau mengatakan segalanya. Masa lalunya yang katanya sangat berbahaya, Nabila juga sangat penasaran akan hal itu.


"Apa kau sudah menyiapkan semuanya, Durant!" ujar Bara.


"Sudah, Bos! Semuanya ada di bagasi! ... o iya, Bos! Kemarin malam Max mencari Anda!"


"Saya tahu. Biarkan saja dulu! Max sudah menemukan Bajingan yang ingin membunuh istri saya! Sekarang dia harus menerima siksaan yang sama seperti apa yang istri saya alami. Apa kau tahu pepatah yang mengatakan 'mata di balas mata, dan gigi di balas gigi' ini terdengar sangat adil bukan? Satu goresan yang mereka buat untuk istri saya harus kembali pada mereka!" Suara Bara semakin melemah saat melihat istrinya bergerak kurang nyaman. Dia dengan cepat memangku tubuh sang istri dan memindahkannya ke atas pangkuan.


....


"CK!" Max tersenyum miring melihat orang yang kini sedang dia gantung di atas penangkaran buaya. Baginya, hal seperti ini sangat menyenangkan. Orang-orang tidak tahu diri seperti Andreas memang patut diberikan pelajaran seperti ini. Orang tidak tahu diri yang ingin mencelakai Bara dan mengganggu apa pun milik bosnya itu selama ini tidak pernah selamat, seharusnya Andreas bersyukur. Penipuan yang dia lakukan tak sampai membuat Bara memenggal kepalanya. Dan bodohnya, orang-orang ini malah meminta di jadikan umpan buaya. Sungguh sangat memilukan.

__ADS_1


"Bajingan! Lepaskan saya! Ayah saya adalah seorang jendral. Jika sampai dia tahu kau memperlakukan saya seperti ini! Kau akan mati!"


Max tergelak mendengar kalimat sarkastik yang dikatakan oleh Andreas. Mau ayahnya seorang presiden pun, Max tidak perduli, jika mereka mau melawannya, Max akan menerima itu dengan senang hati. Mati di tangan musuh bukan hal baru untuknya.


"Dengar bajingan! Kau itu adalah seorang kriminal! Menurutmu, bagaimana jika aku ungkap semua aib mu ke publik. Apa yang akan terjadi pada ayahmu yang katanya seorang jendral itu?"


Max tertawa seraya melemparkan daging mentah di bawah kepala orang yang bergelantungan dengan posisi terbalik itu. Dia memang sengaja melakukan ini, sesekali Andreas akan di angkat dengan posisi kaki di bawah, tapi tidak lama setelah itu dia akan kembali di gantung dengan posisi semula.


"Bajingan! Jangan pernah melakukan itu!" teriak Andreas. Dia terus berteriak heboh saat kawanan buaya itu berkumpul membentuk Piramida untuk memperebutkan daging yang tadi Max lemparkan.


"Kau lihat saja! Bajingan! Jika aku tidak bisa membuat bosmu menangis darah, jangan panggil aku Andreas! Kau tidak tahu 'kan kalau aku sudah menaruh mata-mata di dekat wanitanya bos gilamu itu!"


"Heiii! Kau gila! Ayahku benar-benar akan membunuhmu, Bajingan!" teriak Andreas tidak terima.


....


"Apa yang kau lakukan? Aku sudah bilang, jangan terus menerus melibatkan Nabila. Kasian dia. Kita tidak pantas meminta uang darinya. Apa kau tidak malu?" sarkas Paman Purnomo pada istrinya. Bi Susi seolah tuli, dia yang sedang membereskan pakaian suaminya ke dalam tas benar-benar tidak ingin mendengarkan ocehan suaminya yang menurutnya tidak penting.

__ADS_1


"Nabila itu sudah sepantasnya membantu kita, Pak! Kau tahu, selama ini yang membantu Nabila siapa? Kita bukan? Yang meminjamkan uang juga kita? Kenapa sekarang kamu melarang saya untuk meminta tolong padanya? Dia itu sudah kaya. Uang yang dia berikan untuk kita hany uang receh bagi mereka!"


Paman Purnomo mendesah pelan. Dia bisa gila jika terus menuruti semua keinginan istrinya. "Nabila itu meminjam, kau itu meminta! Itu dua hal yang berbeda Bu. Kau juga meminjamkannya uang dengan bunga! Kau masih berpikir jika selama ini kita membantunya? Kita sudah bertingkah seperti seorang rentenir. Apa kau masih tidak sadar?" teriak Paman Purnomo. Bi Susi hanya menipiskan bibir.


"Jangan banyak bicara! Nikmatin saja semuanya!"


"Assalamu'alaikum!" ucap seseorang setelah membuka pintu geser di ruangan itu. Nabila tersenyum ketika melihat Paman Purnomo sudah lebih baik. "Apa kabar Paman?" tanya Nabila memberikan salam. Dia ingin membungkuk untuk menyalami Paman Purnomo, tapi Bara menghentikannya.


"Maaf, Paman. Istri saya sedang kurang enak badan!" kata Bara. Tangannya merangkul pinggang sang istri membuat tubuh mereka menempel tanpa celah.


Paman Purnomo tersenyum, dia menjawab setiap ucapan Nabila dengan sangat baik. Melihat Bara memperlakukan keponakannya seperti ini membuat Paman Purnomo yakin jika Nabila sudah memiliki kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.


"Kalian gak bawa apa-apa?" tanya Bi Susi sambil celingukan ke arah pintu. Nabila memejamkan mata untuk sesaat. Sementara Bara, dia tersenyum miris.


"Bu!" Paman Purnomo menyenggol lengan istrinya.


"Tidak apa-apa Paman! Kita sudah membawakan buah tangan untuk Bibi!" ujar Bara membuat Nabila mengerutkan kening seraya menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


"Mas bawa apa?"


__ADS_2