
"Kau menyukai Nabila?" tanya Maurin dengan wajah terkejutnya. "Apa kau tahu kalau dia sudah punya anak?"
"Punya anak?" sahut Fino, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada wanita yang ada di depannya. Memang dia belum banyak mencari tahu siapa Nabila. Bahkan, dia punya suami atau tidak saja dia benar-benar awam.
"Mangkanya, jangan asal suka sama orang. Liat asal usulnya. Kalau Bapak tiba-tiba mengungkapkan cinta, apa yang akan Bapak lakukan jika saat itu Bapak tahu kalau wanita yang Bapak tembak sudah bukan single lagi. Kan gak lucu!"
"Saya tidak masalah kalau memang Nabila sudah memiliki, anak!"
"Hah ...." Maurin kembali dibuat terbengong dengan jawaban kilat laki-laki di depannya. Dia masih kekeuh padahal sudah tahu kalau Nabila sudah memiliki anak? Sebesar apa rasa suka yang laki-laki ini miliki, atau ... Fino sebenarnya hanya penasaran saja.
"Apa Bapak tidak berniat untuk mundur? Anak lho, Pak! Nabila udah punya anak!"
Bukannya tersinggung, Fino malah tersenyum kecil, dia menatap Maurin dengan binar di matanya. "Kau mengatakan dia sudah memiliki anak, bukan suami. Jadi tidak masalah dong kalau saya menyukainya. Lagipula, Nabila itu wanita yang layak untuk disukai. Tidak masalah jika dia memang seorang Janda. Dan ... jika dia memang memiliki suami, bisa saja dia meninggalkan suaminya. Benar tidak?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir, kenapa ada orang seperti Fino, budak cinta yang tidak bisa menilai seseorang. Apa tidak ada wanita lain, yang masih single dan tidak memiliki anak. Kenapa harus mendekati Nabila. Mengganggu ketenangan orang lain saja.
....
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Wa'alaikumssalam," sahut orang dari dalam.
"Mbak! Ezra mana?" tanya Nabila masuk ke apartemen dengan wajah khawatirnya. Dia melepaskan outer yang dia kenakan kemudian masuk ke kamar anak semata wayangnya itu.
"Sayang!" panggil Nabila. Anak kesayangannya sedang duduk termenung di atas ranjang seraya memeluk kedua lututnya. Anaknya tidak menangis, akan tetapi Nabila bisa melihat jika Ezra sedang sangat kesal saat ini. "Kenapa? Boleh mama tahu alasan Ezra seperti ini? Kenapa kata Mbak kamu gak mau makan, hmmm?"
Ezra mendongak menatap wajah sang mama yang kini sedang memeluknya. Entah bagaimana ceritanya, pelukan ini terasa sangat hangat. "Ma ... temen-temen Ezla bilang kalau Ezla ini bodoh. Meleka bilang Ezla gak bisa bilang El (R) seperlti meleka. Kenapa Ezla gak bisa bilang El Ma? Apa Ezla memang bodoh?"
Nabila tersenyum, dia menangkup wajah sang anak kemudian mengecup kening anaknya beberapa kali. Karena saat itu ada masalah dengan kandungan ibunya Ezra, bocah kecil harus ini lahir sebelum waktunya. Dia lahir prematur dan entah bagaimana, memang ada perbedaan perkembangan dari sang anak. Saat anak seusianya sudah bisa berjalan, Ezra masih belum bisa melakukan itu, bahkan saat anak-anak lain melewati fase merangkak, Ezra malah Ngesod, saat bisa berjalan pun lebih sering jatuh secara tiba-tiba. Terlebih, saat berbicara rasanya agak sulit dan Nabila memang harus memberikan perhatian lebih. Meskipun begitu, kecerdasan anak ini sebenarnya ada di atas rata-rata anak pada seusianya. Ezra merupakan anak yang cerdas dimana dia bisa mengerti banyak hal yang teman-teman seusianya belum paham.
"Sayang ... dengerin, mama! Gak masalah kalau mereka bilang seperti itu. Pada kenyataannya Ezra tidak bodoh, masalah bisa bilang huruf R atau tidak, itu tidak bisa menjadi patokan. Mama yakin, Ezra paham maksud, mama apa. Lagipula, bagaimanapun Ezra di mata orang lain, Ezra tetap anak mama yang paling pintar. Ezra tahu? ... enggak semua anak seusia Ezra bisa memainkan rubrik, latto-latto, dan puzzle dengan 1000 kepingan. Semua manusia gak harus sempurna, Sayang. Gak papa kita kurang dalam satu hal, banyak kelebihan kita yang orang lain mungkin tidak tahu, dan kita juga tidak harus memberitahu mereka tentang apa yang kita miliki. Mama sayang sama Ezra. Apa itu tidak membuat Ezra bahagia?"
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Dia memeluk Nabila erat yang mana itu membuat Nabila kembali tersenyum. "Maafkan Ezla Maa. Ezla udah bikin Mama kecewa!"
"Ezla ngadu sama Mama. Padahal Ezla anak laki-laki!"
Nabila terkekeh kecil saat mendengar penuturan sang anak. Bocah kecil itu benar-benar sangat lucu . Sejak kapan dia tahu hal-hal seperti ini. "Mama seneng kamu bilang sama mama. Lain kali, kalau ada apa-apa, kita ngobrol bareng lagi, ya. Jangan dipendem sendiri. Boleh?"
Ezra mengangguk yakin. "Ezla sayang, Mama!"
__ADS_1
"Mama juga sayang kamu, Nak," ucap Nabila mengecup kepala anaknya cukup lama. "Sekarang makan dulu ya. Mama harus kembali ke kantor!"
"Ezla mau di suapi Mama!"
Nabila tersenyum kecil, dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sebenarnya sudah hampir masuk jam kerja, tapi tidak apa-apa, dia bisa menyuapi anaknya sebentar.
....
"Aku telat lha ini!" kata Nabila seraya memarkirkan mobilnya di depan perusahaan. Dia tidak mungkin masuk ke basement karena waktunya memang tidak cukup.
Langkah cepat kaki itu membawa Nabila masuk ke dalam lobby perusahaan, beberapa kali dia hampir menabrak orang jika dia tidak menghindar, Nabila ada rapat dengan Bara dan juga para petinggi di perusahaan tersebut untuk merencanakan produk lanjutan dari produk sebelumnya. Habislah dia jika sampai dia telat. Padahal ini adalah rapat pertamanya dengan para petinggi di perusahaan tersebut.
Napas wanita itu terengah-engah saat dia sampai di depan ruang rapat setelah dia kembali dari ruangannya untuk mengambil laptop dan juga berkas-berkas yang harus dia bagikan kepada orang-orang yang ada di dalam.
"Oke, bismillah! Insyaallah lancar, Bil!" kata Nabila pada dirinya sendiri. Namun, beberapa detik kemudian, rasa percaya dirinya menghilang karena dia sudah telat 20 menit.
Krakk!
Pintu besar itu terbuka. Akan tetapi, senyum yang yadi menghiasi wajah Nabila mendadak hilang saat melihat seseorang yang sedang duduk tepat searah jarum jam 12. Laki-laki yang selama ini selalu mengganggunya sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit Nabila artikan. Wajah itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Masih sama seperti biasa, hanya saja, kini ada sedikit cahaya yang memberikan Nabila sedikit rasa aman.
__ADS_1
"Pak Bara!" ucap Nabila dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu mendekati suaminya. Rasa kecewa melanda hatinya saat itu. Dia gagal dalam persentasi pertamanya bukan? "Maafkan saya, Pak!" ujar nya lagi seraya menunduk dalam. Cukup lama Nabila ada dalam posisi itu sampai dia tidak sadar jika air matanya jatuh mengenai lengan jas yang dipakai suaminya.
"Dimana sikap profesional mu, Nabila? Bukankah kau mengatakan jika kau tidak akan mengecewakanku? Sekarang apa yang akan kau lakukan? Rapat ini bukanlah rapat kecil. Yang datang adalah para petinggi termasuk pemegang saham. Dan kau tahu ... riset pasar yang kau lakukan dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan divisi yang kau pimpin adalah yang yang paling penting. Ada apa denganmu!" sentak Bara dengan nada suara dingin nan tegasnya.