Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
96. Lara & Bahagia


__ADS_3

Degup jantung seseorang mungkin sudah seperti sebuah gendang yang ditabuh tak beraturan. Jangankan indah di telinga, untuk sekedar didengar saja itu terlalu menyiksa. Kaki Bara terus bergerak tanpa henti. Kepalanya menunduk, sesekali mendongak untuk menahan desakan air mata yang ingin keluar dari singgasana. Hidup tapi mati, itulah yang Bara rasakan saat ini.



Entah sampai kapan pintu itu akan terus tertutup. Ada bagian dari dalam dirinya yang mendorongnya untuk mendobrak pintu itu dan memastikan jika orang-orang dengan jubah hijau melakukan tugasnya dengan benar. Hidup dan mati seseorang sudah ditentukan sejak awal. Akan tetapi Bara ingin egois untuk sekali ini saja. Jika Tuhan memang belum mengijinkan dia untuk memiliki keturunan karena dosa-dosa yang telah dia lakukan di masa lalu, setidaknya selamatkan wanita yang sangat dia cintai. Jangan mengambilnya tanpa permisi. Bara mungkin hanya manusia berlumuran dosa. Namun, bukankah orang yang banyak memanjatkan doa adalah hamba yang Allah damba.


"Dokter!" Bara langsung mendekati pintu ruang operasi. Dokter tersebut meminta Bara untuk tidak mendekat dulu karena bayi-bayi yang ada di atas brangkar harus segera dia pindahkan ke tempat lain. NICU. Ya, Bara sudah tahu jika ini akan terjadi, bukan karena dia mendahului sang pencipta, hanya saja para dokter ini memang telah mewanti-wanti nya sebelum operasi dilakukan.

__ADS_1


"Dokter istri saya bagaimana?" teriak Bara. Kini dia benar-benar sangat yakin jika cinta yang dia miliki untuk istrinya itu bukanlah cinta di permukaan bibir. Kenapa? Harus bagaimana Bara menejelaskan semuanya, bayi-bayinya sudah keluar dari ruang operasi, akan tetapi hatinya tidak merasa bahagia. Ya, pikirannya semakin kacau. Sangat kacau hingga dia menjatuhkan dirinya di atas kursi tunggu yang ada di lorong tersebut.


"Papa!" panggil seorang bocah. Bara menoleh, Ezra, bocah itu berlari dengan kaki mungilnya. Respon seperti apa yang harus Bara berikan ketika wanita yang dia cintai sedang berjuang hidup dan mati karena bocah ini. Tidak, itu memang bukan salah Ezra. Ini sudah menjadi takdir dari Tuhannya. Namun, Bara juga manusia biasa. Dia benar-benar merasa hancur sekarang.


"Papa!" panggil Ezra lagi. Bocah itu berdiri di depan Bara, takut untuk mendekat karena saat itu Bara tidak menjawab atau menunjukan reaksi apa pun. "Papa, Ezla minta maaf. Ezla pantas di hukum. Ezla udah bikin Mama teluka. Apa adik-adik bayi baik-baik saja? Ezla udah minta sama Allah bial Ezla aja yang pelgi. Kata Nana, ibunya Nana pelgi setelah melahilkanya. Tapi Ezla gak mau Mama ninggalin Papa. Ezra gak mau Mama mendelita. Adik bayi masih kecil, Ezla sudah besal. Papa, hukum Ezla saja. Ezla memang salah, Ezla!"


Tangis keduanya pecah di lorong rumah sakit tersebut. Dokter Fathan mengusap sudut matanya. Dia melirik ke arah pintu ruang operasi dengan jantung berdegup tak karuan. Kejadian ini, persis seperti kejadian 5 tahun yang lalu ketika wanita yang paling dia cintai harus terbaring lemah di ruang operasi sampai pada akhirnya dokter mengumumkan kematian. Sakit? Tentu saja. Itu sebabnya dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Tidak berani memberikan harapan untuk Bara karena dia sendiri tidak suka ketika orang-orang menyuruhnya untuk tenang dan sabar di saat-saat terakhir sang istri kembali kepada sang Khaliq.

__ADS_1


Seseorang dengan kain panjangnya bersujud dengan waktu yang cukup lama, tidak, itu sangat lama. Mungkin sama seperti ketika seseorang melantunkan juz terakhir di dalam Al-Qur'an. Bibirnya tidak berhenti mengucapakan apa yang dia minta. Memuji Tuhannya, juga menangis tanpa suara. Sesak? Tentu. Nabila bukan orang bisa, wanita ini adalah wanita yang selalu melakukan kebaikan. Surga mungkin merindunya, Allah mungkin sangat mencintainya. Besar kemungkinan Nabila kembali karena amal baik yang sudah dia lakukan. Jariyah wanita ini tidak main-main. Mengurus dan mencintai anak yatim piatu, membawa suaminya pada agama yang mereka percaya. Berbaik sangka pada orang-orang yang sudah mendzaliminya, juga selalu membantu orang yang seharusnya dia benci. Surga mungkin yang terbaik untuk wanita ini. Namun, Marlina sangat berharap jika Tuhan akan sedikit saja, mengurangi kecintaannya agar Nabila bisa tetap hidup. Banyak orang membutuhkannya. Bukan karena mereka tidak percaya kepada Tuhannya, hanya saja, iman mereka tidak sekuat wanita yang rela mempertaruhkan nyawa untuk malaikat-malaikat kecilnya.


Wanita berpakaian putih itu tersenyum lebar. Wajahnya bercahaya, binar pada wajahnya seolah menjadi penerang di taman bunga dengan bau harum semerbak. Dia terus berlari kesana-kemari, berusaha untuk menggapai kupu-kupu dengan tangannya. Sesekali dia terkekeh. Sangat jelas jika saat itu sang wanita sangat bahagia. Benar-benar bahagia.


"Ibu! Ayah!" panggilnya. Dia berlari menghampiri sepasang insan yang juga berpakaian serba putih. Wajah mereka tak kalah bersinar. Persis seperti mentari, memberikan cahaya juga kehangatan untuk banyak orang.


"Ibu! Ayah! Nabila sangat merindukan kalian. Ibu tahu, Nabila saaaangattttt bahagia. Nabila memiliki suami yang baik, anak yang cerdas dan juga, Nabila memiliki saudara yang sangat menyayangi Nabila."

__ADS_1


Sepasang paruh baya itu tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya mendengarkan, dan menuntun Nabila untuk duduk di bangku taman tersebut. Sangat lama ... mereka bercengkrama sangat lama, dan memang, hanya Nabila saja yang berceloteh menceritakan semua kejadian yang dia alami semasa hidup di dunia.


__ADS_2