
Marlina duduk termenung dipinggiran ranjang setelah selesai dengan rutinitas malamnya. Kamar ini, kamar hotel yang menurutnya sangat luas ini terasa begitu mencekam. Jantungnya tidak bisa untuk tidak berhenti berdegup kencang. Guyuran air shower di kamar mandi membuat tubuhnya gemetar. Ini belum terlalu malam, masih sekitar jam 8 dan dia bingung harus melakukan apa. Atas permintaan Bara, dia menerima pinangan Max. Marlina bukan tidak menyukai laki-laki itu, hanya saja, dia terlalu takut jika suatu saat Max akan menyesal karena sudah menikahi wanita dengan keluarga berantakan sepertinya.
Merasa sesak dengan udara di dalam, Marlina berjalan menuju balkon kamar hotel tersebut. Semua pasilitas tidak ada yang biasa saja, Bara dan Nabila memberikan yang terbaik untuk mereka berdua. Termasuk tiket honey moon. Disinilah Marlina sekarang, di atas balkon kamarnya yang menghadap langsung ke bibir pantai. Udara saat itu sangat dingin. Namun, itu semua tak lantas membuat Marlina merasakan itu. Kepalanya mendongak, menatap langit malam bertabur bintang. Sangat cantik dan sangat ramai. Seperti keluarga yang berkumpul dan bercengkrama. Saling bercanda juga tertawa bersama.
Tubuh Marlina terperanjat. Sepasang tangan kekar melingkar di atas perutnya. Wanita itu menunduk. Tidak berani untuk mengangkat kepalanya karena terlalu gugup.
"Kenapa masih di sini? Kau bisa masuk angin!" ucap Max yang kala itu sudah menyandarkan dagunya di atas bahu sang istri. "Kau gugup?" tanya Max lagi. Laki-laki itu memutar tubuh Marlina yang bergetar. Jemarinya menyentuh dagu sang istri dan mengangkatnya sedikit agar dia bisa melihat wajah istrinya itu. Sederhana, manis, dan cukup cantik untuk dikagumi.
"Kau tidak kekurangan apa pun. Kenapa kau harus malu? Kau tidak percaya diri dengan apa yang sudah Allah berikan padamu!" ujar Max. Dia menatap mata istrinya lekat ketika netra mereka bertemu.
"Kita mungkin belum saling mencintai. Namun, percayalah! Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Aku membutuhkanmu dan kau juga membutuhkan ku. Sekarang kita adalah suami istri. Hubungan kita sudah halal. Kita sudah bukan orang asing lagi!"
Marlina masih menatap Max dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya kelu, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada laki-laki didepannya.
"Percayakan semuanya padaku! Jika kau tidak bisa berdiri di kakimu sendiri. Aku siap menopang mu! Boleh seperti itu?" tanya Max masih menatap istrinya.
Marlina mengangguk. Max tersenyum karena anggukan itu. Perlahan, kepalanya semakin munduk. Dia menarik tengkuk Marlina dari balik hijab yang wanita itu kenakan. Perlahan tapi pasti, Max mulai menyatukan bibirnya. Tangannya yang lain menarik pinggang sang istri, mencoba untuk menyangga istri cantiknya itu yang tubuhnya semakin bergetar dan semakin lumer.
"Bernapas!" titah Max tepat di depan wajah istrinya. Max mengalungkan tangan sang istri di lehernya lantas mengangkat tubuh istrinya itu dengan kaki sang istri yang saling terkait di belakang pinggangnya. Decit pintu yang dia tendang sama sekali tidak mengganggu apa yang sedang dia lakukan. Tanpa melepaskan ciumannya, Max membaringkan Marlina di atas ranjang masih dengan pancingan-pancingan yang dia lakukan.
__ADS_1
"Bolehkah?" tanya Max menatap Marlina dengan tatapan sayu juga suara serak putus asa. Senyum simpul tersungging ketika kepala sang istri terangguk mengiyakan apa yang dia minta.
....
"Berdiri!" kata Nabila pada Ezra dengan wajah seriusnya. "Angkat satu kaki kamu!" ucap Nabila lagi.
"Honey! Jangan terlalu keras padanya! Dia masih anak-anak. Wajar jika dia seperti itu. Dia belum mengerti apa-apa!"
"Mas itu kebiasaan. Jangan suka memanjakan Ezra kelewat batas. Bocah ini keterlaluan. Masa dia udah berani bawa-bawa cewek. Dia baru lima tahun, Mas! Lima tahun!" kata Nabila merentangkan jemarinya di depan wajah sang suami.
"Siapa yang ngajar kamu!" tanya Nabila lagi.
Astaghfirullah ... Nabila benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa. Tidak mungkin dia menceramahi bocah kecil ini. Ezra belum benar-benar mengerti apa itu arti pacaran dalam dunia orang dewasa.
"Za ... sini, sekarang kamu duduk di samping Mama!" kata Nabila menepuk sofa yang ada di sampingnya.
"Minum susu dulu!" titah Bara menyodorkan segelas susu pregnant kepada istrinya.
"Terima kasih!"
__ADS_1
"Hmmm!"
"Mama tahu kamu belum paham apa itu arti pacaran. Tapi, Ezra masih ingat kan bagian-bagian mana saja pada tubuh orang lain yang tidak boleh kita sentuh, terutama pada tubuh lawan jenis?"
Ezra mengangguk. "Yang ini! Ini ... dan ini! Ini juga!" tunjuk Ezra pada bibirnya. Nabila bernapas lega karena hal itu. Sebenarnya, dia ingin membahas masalah ini lebih jauh, akan tetapi, Nabila tahu jika Ezra belum siap untuk mencerna semuanya.
"Za ... sebenarnya, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram itu tidak baik jika bersentuhan. Kayak pegang tangan aja enggak boleh!"
"Tapi Mama sama Papa boleh!" jawabnya polos.
Nabila tersenyum. Dia mengusap kepala anaknya dengan usapan yang sangat lembut. "Itu karena mama sama Papa udah nikah, Sayang! Sudah diperbolehkan. Jadi gak papa kalau mama pegangan tangan sama Papa."
Ezra mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Dia menatap Nabila dengan senyum di wajahnya. "Kalau begitu, Ezla juga mau menikah dengan Nana, biar bisa pegangan tangan lagi!"
Owalaa ... Nabila menepuk keningnya kuat karena perkataan anal laki-lakinya. "Mas! Bila butuh pencerahan dari Ustadz Faisal!" ujar Nabila dengan wajah dongkolnya.
"Mau nikahin Ezra sama Nana?" tanya Bara menatap istrinya penasaran.
Dua kali, dua kali Nabila dibuat terjengkang karena dua laki-laki di depannya. Astaghfirullah ... haruskah dia menyewa tukang servis untuk membenahi otak anak dan suaminya.
__ADS_1
"Aku pasrah ... aku benar-benar pasrah, Tuhan!" lirih Nabila dengan mata terpejam.