Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 22. Ezra Marah


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan terdengar ketika kain yang menutupi mobil itu ditarik oleh Bara. Wajah-wajah kagum dari orang-orang yang datang membuat senyum tipis di bibir pimpinan perusahaan mobil terbesar di kota itu. Dia menatap semua tamu bergantian. Bara benar-benar yakin, jika produk-produk yang dia buat akan bisa menjadi wabah dikalangan orang-orang menengah ke atas.


Saat semua orang sibuk memperbincangkan semuanya, Jessica justru sibuk merapatkannya diri di samping Bara, sebagai sekertaris juga penerjemah bos-nya itu, Jessica sangat menikmati apa yang dia lakukan. Bahkan ketika Bara tidak melirik ke arahnya, Jessica masih berusaha agar dia bisa membuat sentuhan dengan laki-laki itu.


"Apa yang kau lakukan?" geram Bara. Dia melirik ke arah asisten pribadinya. Durant yang menyadari itu langsung mendekat, menarik tangan Jessica agar dia bisa berdiri lebih jauh dari Bara.


"Berlaku sopan 'lah Jessica!" bisik Durant ikut jengah. "Kalau kau mau jari-jari kakimu tetap utuh, jangan membuat Bos marah!"


Jessica tidak mengindahkan apa yang Durant katakan. Dia bukan takut pada ancaman laki-laki itu, hanya saja Jessica tidak ingin Bara semakin membencinya dan akan mempersulitnya mendekati laki-laki keren di sampingnya.


Hari sudah semakin siang. Kini Bara sedang berbincang dan menyalami orang-orang yang ada di sana. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, banyak dari kliennya yang juga berasal dari luar negara. Produk ramah lingkungan dan juga masih ramah di kantong yang Bara keluarkan cukup banyak menarik perhatian orang-orang. Meskipun ini baru awal, sudah ribuan list masuk yang meminta mobil ini.


....


Suara helaan napas terdengar dari bangku pengemudi. Durant melihat ke belakang dari kaca spion depan. Wajah Bara benar-benar menunjukan rasa lelah luar biasa. Akan tetapi, mereka senang karena proyek kali ini berjalan dengan lancar tanpa kendala.


"Bos, maaf ... Bos, hari ini bukannya memiliki janji dengan Ezra?" tanya Durant. Laki-laki di belakang sana langsung membola, dia melirik arloji pada pergelangan tangannya. Ini sudah sore. Dia sudah terlambat.


"Kita pulang sekarang, Durant!"


"Acara makan malamnya, Bos?"


"Batalkan saja."


"Baik, Bos!"


....


Ketukan pintu lagi dan lagi terdengar. Laki-laki itu menunduk, dia juga memencet bel beberapa kali. "Ezra, ini Papa! Buka pintunya, Za!"


Lagi, Bara mengetuk pintu apartemen itu lagi. Sampai seorang wanita muncul.

__ADS_1


"Ezra mana?" tanya Bara pada pengasuh Ezra.


"Ada di dalam, Tuan!"


"Wa'alaikumssalam," kata Nabila mendekati Bara. Wanita itu menatap Bara dengan wajah kesal, siapa yang tidak kesal jika dia bertemu dengan laki-laki yang tidak bisa menjaga ucapannya.


"Ezra mana?" tanya Bara tidak menghiraukan tatapan permusuhan dari Nabila. Wanita itu sampai terbengong dan mengerutkan keningnya bingung. Ada apa dengan laki-laki ini, kenapa Bara menjadi sangat memprioritaskan Ezra ... wait ... kenapa juga dia terpengaruh.


"Tunggu, Pak Bara!" kata Nabila menghadang pintu kamar putarannya. "Ezra sedang tidak ingin diganggu. Dia sangat marah pada Bapak. Saya sudah bilang, jangan menjadikan apa pun jika Anda tidak bisa menepatinya. Jika sudah seperti ini, siapa yang kesulitan. Apa Bapak tahu kalau hari ini Ezra sangat kesusahan untuk fokus karena terlalu sedih? Bapak itu jangan memberikan harapan pada anak kecil, mereka tidak mengerti dengan kesibukan yang Bapak alami. Bapak ...!"


"Shhutttt!"


Bara menyingkirkan Nabila dari pintu kamar Ezra dengan mendorong bahu Nabila pelan. Nabila lagi-lagi terbengong.


"Eishhhhhhh ... dasar menyebalkan!" umpat Nabila.


"Ezra ... Sayang, ini Papa, Nak. Apa kau ada di dalam? Ezra ... maafkan Papa. Papa tadi ada urusan penting. Om Durant dan Mama tidak mengingatkan papa kalau hari ini papa ada janji sama kamu!"


Nabila menatap Durant yang ada di ruang tengah. Kedua orang itu melongo, mereka bahkan melotot menatap punggung Bara seraya menggelengkan kepala. Bisa-bisanya Bara menjadikan mereka kambing hitam atas kelemotan otaknya.


"Ezraaa. Jangan keluar, kalau kamu keluar, Mama gak mau ketemu kamu lagi!"


Untuk kesekian kalinya Nabila melongo ketika pintu kamar Ezra terbuka. Bocah kecil itu menarik tangan Bara membawa laki-laki itu keluar dari apartemennya.


"Ezraaaaaaa!"


Lengkingan 6 oktaf yang Nabila keluarkan tak lantas membuat orang-orang itu berbalik, pintu apartemen malah tertutup dengan apik. Emosinya benar-benar dipermainkan. Bisa-bisanya Ezra berkhianat. Apa 5 tahun yang Nabila berikan tidak cukup untuk Ezra? Haruskah dia kalah dari laki-laki brengsek yang baru sebulan mereka kenal?


"Minum dulu, Bu!" ucap Marlina menyodorkan segelas air pada majikannya.


"Apa saya kurang baik pada Ezra, Mbak? Kenapa dia lebih menyayangi Bapak-bapak itu?"

__ADS_1


Marlina menahan senyum. Dia tidak bisa berkata-kata. Ini adalah kejadian langka yang dia temukan selama bertahun-tahun bekerja sebagai pengasuh.


....


"Ezra mau maafin Papa, 'kan?" tanya Bara sesaat setelah mereka duduk di sofa.


Ezra mengerucutkan bibir dengan tangan tersilang di depan dada. Dia masih enggan untuk melihat Bara karena terlalu marah. Hari ini Bara sudah membuat satu kesalahan. Haruskah Ezra memafkan laki-laki ini dengan mudah?


"Sayang ... Papa janji, Papa gak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi, maafkan papa. Apa yang harus papa lakukan agar Ezra mau memaafkan papa?"


Bocah kecil itu menoleh menatap Bara dengan mata mengerejap lucu. " Ezla mau kita tinggal belsama, Pa. Papa, Mama, Ezla. Ezla mau selumah sama Papa!"


Bara tertegun. Dia melirik ke arah Durant. Durant hanya menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ini adalah hal yang sangat sulit. Terlebih Bara juga belum mempersiapkan apa-apa untuk melamar ibu dari anak yang sekarang ada di depan mereka.


"Papa akan menikah dengan Mama mu malam ini juga, kita akan tinggal di rumah yang sama hari ini."


Apa yang Bara katakan itu membuat Ezra tersenyum sumringah, sementara Durant hanya bisa menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Bos, bagaimana bisa?" tanya Durant. Bosnya ini sudah gila. Bagaimana mungkin dia menjanjikan hal yang mustahil.


"Hubungi ustadz Faisal, dan beritahu Nabila juga. Ada hal yang harus saya bicarakan dengan Ezra!"


....


"What?" pekik Nabila dengan biji mata yang hampir keluar dari tempatnya. Wanita itu menatap Durant dengan tatapan membunuh. "Apa dia sudah tidak waras?" teriak Nabila tidak terima.


"Maaf, Nyonya, Bos. Ini keinginan Bos Kecil. Bos hanya menuruti apa yang Bos Kecil minta."


Nabila mengembuskan napas kasar. Itu hanya Ezra. Ezra hanya seorang bocah yang permintaannya tidak harus dia turuti. Kenapa Bara malah mengiyakan permintaan tidak masuk akal ini.


"Bos mu itu benar-benar sudah tidak waras Durian."

__ADS_1


"Durant, Nyonya Bos!" ingat Durant.


"Eishhhhhhh ... kau juga sangat menyebalkan Durian!"


__ADS_2