
Malam terakhir di Bali di tutup dengan perayaan para karyawan yang ikut bahagia setelah mengetahui pernikahan Bara dan Nabila. Jika di malam-malam sebelumnya Nabila dan Bara tidak berani untuk menunjukkan kemesraan mereka, kali ini benar-benar berbeda. Bara, laki-laki itu tidak melepaskannya Nabila bahkan hanya sedetik pun. Para karyawan wanita hanya bisa berteriak iri. Sedangkan Fino, dia tersenyum kecut meski tetap mengikuti perayaan kecil-kecilan tersebut.
....
Semilir angin di atas balkon itu sama sekali tidak membuat Nabila merasa kedinginan. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikirannya. Tentang hubungan mereka juga tentang ....
"Assalamualaikum!" sapa Nabila setelah menempelkan ponselnya pada telinga. Wanita itu terlihat agak kesal. Untuk beberapa saat, dia menjauhkan ponselnya. Namun, sejauh apa pun ponsel itu dari telinganya, Nabila masih bisa mendengarkan ocehan bibinya. Helaan napas terdengar sangat berat. Nabila bertingkah seolah-olah dia ingin membanting ponselnya akan tetapi tidak jadi, dia malah mengelus ponsel itu seolah ingin meminta maaf. Oh ayolah, ini adalah ponsel apel bekas keluaran terbaru yang suaminya berikan untuknya. Jika sampai rusak, laki-laki itu pasti akan membelikannya yang baru. Nabila tidak ingin suaminya menghamburkan uang hanya untuk masalah seperti ini.
Wanita cantik itu terkesiap, terkejut karena suaminya yang tiba-tiba datang. Sepasang tangan kekar melingkar di atas perut ramping Nabila. "Telpon dari siapa?" tanya Bara di antara telinga dan curuk leher sang istri. Menghirup wangi tubuh istri cantiknya itu menjadi candu untuknya, sekalipun masih tertutup dengan kerudung tipis, Bara masih bisa membaui harum tubuh Nabila. Sepertinya wanita ini baru selesai mandi. "Bibimu?"
Nabila hanya mengangguk. "Iya, Bi. Maaf, Bila udah gak ada tabungan lagi. Assalamualaikum!"
Nabila langsung berbalik dengan kening mengkerut seraya menjauhkan suaminya. "Geli, Mas!"
"Tapi aku suka!" ucap Bara dengan tatapan elangnya. Nabila tahu apa yang suaminya ini inginkan. Bolehkah dia menolak? Tentu saja tidak, Nabila tidak ingin membuat suaminya kecewa, terlebih, Bara selalu memperlakukannya dengan baik. Laki-laki ini tidak pernah terburu-buru, dia hanya akan memulai setelah dia berhasil memancing libidonya hingga pada akhirnya Nabila sendiri yang meminta jatah.
__ADS_1
"Aku ingin membuat bayi!" ujar Bara di samping telinga sang istri. Dia memangku istrinya itu membawanya masuk ke dalam kamar besar yang menjadi saksi pergulatan yang terjadi di antara mereka berdua.
....
Semua karyawan membungkuk ke arah Bara dan juga Nabila yang berjalan masuk ke perusahaannya berdampingan. Nabila hanya tersenyum, sesekali dia mengangguk ketika mendapatkan sapaan dari karyawannya. Gosip sangat mudah menyebar. Bahkan sesaat setelah mereka kembali, kabar tentang dia yang sudah menikah dengan Bara langsung mencuat dan menjadi perbincangan hangat para karyawan di kantor tersebut.
"Selamat bekerja!" ucap Nabila sesat sebelum pintu lift terbuka. Dia hendak keluar dari lift tersebut, akan tetapi Bara malah menarik pinggangnya hingga tatapan mereka kembali bertemu. "Kenapa?" tanya Nabila.
"Makan siang di ruangan ku! Jangan pergi ke kantin!"
"Aku pergi!" ucap Nabila setelah mendaratkan kecupan di bibir suaminya. Masa bodoh dengan Durant dan juga dua bodyguardnya. Dia harus memberikan pelajaran untuk para jomblo itu.
"Manis, Bos!" celetuk Durant. Bara tidak memperdulikan hal tersebut dia hanya menyatukan bibirnya beberapa kali. Sikap Nabila yang seperti ini, Bara sangat menyukainya.
"Apa kalian akan mengikuti saya ke tolilet!" geram Nabila pada dua orang di depannya. Orang bersetelan hitam itu langsung menghentikan langkahnya, mepet ke dinding untuk menunggu majikannya keluar dari toilet.
__ADS_1
Bilik di kamar kecil itu hampir semuanya tertutup. Hanya satu yang terbuka, dan itu berada di sisi paling ujung. Beberapa saat kemudian, dua orang keluar dari bilik toilet seraya tertawa di dekat wastafel.
"Kamu sudah dengar belum kalau Bu Nabila katanya udah jadi istri Tuan Bara!" ucap seseorang. Nabila yang akan keluar dari bilik toilet mengurungkan niat. Dia malah duduk anteng mendengarkan orang yang sedang menggosipkan dirinya.
"Ho'oh. Gila ya, gue penasaran, gimana cewek yang tampilannya alim kayak gitu godain laki-laki sekelas Tuan Bara. Ngeri anjir!"
"Hmmm ... mungkin servisanya udah di atas servisan si Flo kali. Biasanya, yang pendiam dan alim justru lebih ganas dari wanita-wanita seksi! Nih, gue yakin, dia mungkin jebak Tuan Bara. Bisa aja kan dia ngaku-ngaku hamil setelah Tuan Bara boking dia, belum lagi, dia bisa sampai di posisi ini, kalau enggak jual diri, mana mungkin bisa. Ini perusahaan elit, gak mungkin lah orang yang penampilannya kayak gitu bisa menempati posisi ini jika bukan dapet bantuan dari orang dalam!"
Nabila tersenyum kecut, dia mengepalkan tangannya di samping tubuh. Urat-urat di lehernya mengetat, sekuat tenaga dia mencoba untuk sabar, menarik napas, kemudian menghembuskanya perlahan. Terus seperti itu hingga dia merasa jauh lebih tenang.
"Gue rasa, dia itu emang udah ahli. Emang cantik sih, kulitnya juga bagus. Kalau pakai baju seksi, gue yakin, gak akan ada laki-laki yang gak tertarik. Apalagi kalau ditawari."
"Pak Fino aja, katanya suka sama dia. Bahkan, kabarnya, dia juga punya foto Bu Nabila pas dia masuk ke kamar hotel Pak Bara!"
Brakkk!
__ADS_1
"Anji**. Dasar lonteh teriak lonteh! Kalau iri bilang ajir!"