
"Jangan Mas! Jangan lakukan itu!" mohon Nabila menarik jaket yang suaminya kenakan. Bulir bening meluncur dari pelupuk matanya. "Jangan siksa Maurin. Mas mungkin salah paham!" ujar Nabila masih berusaha untuk meminta pengampunan dari suaminya. "Mas ... Maurin adalah teman satu-satunya yang aku miliki. Mungkin ada yang sedang memfitnah dia!" kata Nabila lagi.
"Kau tidak ingin bicara, Maurin!" tanya seseorang dengan seringai di bibirnya. Suara heels yang beradu dengan lantai seolah menjadi backsound yang mengiringi langkah kaki wanita itu. Perhatian Nabila teralihkan. Dia mundur, menjauhi suaminya dengan kening mengkerut.
"Kenapa kau ada di sini?" sinis Nabila tidak suka. Dia menatap Jessica dengan tatapan permusuhan. Lain dengan Nabila, Jessica justru tersenyum. Dia membungkuk untuk meminta maaf atas kelancangannya.
"Ada apa ini, Mas?" tanya Nabila kembali beralih pada suaminya.
"Kau tidak mempercayaiku, bukan?" tanya Bara, dia memegang kedua bahu Nabila, memutarnya agar Nabila bisa kembali menatap Maurin dengan leluasa. "Tanyakan pada mereka!" ujar Bara lagi. Nabila kembali terbelalak. Seseorang yang tadi terguling di atas kursi kembali duduk dengan posisinya saat Max menarik kursi itu lagi.
"Pak Fino!" ujar Nabila. "Kenapa kalian ada di sini! Dan kenapa kalian diam saja? Bukankah kalian hanya di tuduh? Apa yang terjadi?"
Bara tergelak mendengar pertanyaan sarkastik istrinya. Secara tidak langsung Nabila sudah menuduhnya memfitnah dua orang gila ini. Setelah apa yang terjadi? Astagaaaa ... Bara benar-benar akan gila.
"Maurin dan Pak Fino sudah bersama sejak lama. Sepertinya mereka mulai menyusun rencana sebelum kita pergi ke Bali!" jelas Jessica. "Maurin juga yang menyebarkan gosip tentang Nyonya. Dua karyawan yang dipecat Tuan saat itu adalah orang-orang yang menerima hasutan darinya. Teh jahe yang sering dia buat untuk Nyonya juga teh yang dia tambahkan racun. Jika teh itu dikonsumsi, racun akan terus mengalir dengan darah!"
"Hahahaha!" Maurin tertawa terbahak-bahak. Dia sampai mendongak menahan desakan air mata yang ingin keluar dari sarangnya. "Kau sudah meminum teh yang aku buat, Nabila. Kau tidak akan selamat. Bersiaplah untuk kematian mu!" Maurin berbicara dengan seringai di bibirnya.
Nabila bergeming. Kepalanya berdenyut, bahkan saat menutup mata, semuanya malah semakin tidak terkendali. Kepalanya berputar seperti gangsing. Dia membuka mata, tepat saat melakukan itu, Bara menahan tubuhnya yang akan ambruk ke lantai.
"Apa kau sungguh - sungguh mengatakan ini, Maurin?" tanya Nabila dengan suara yang semakin melemah. Dia masih mengharapkan jawaban yang berbeda. Nabila ingin mendengar jika Bara dan Jessica sedang berbohong. Mereka hanya salah paham. Itu saja.
Maurin kembali tertawa. Dia menatap Nabila dari atas sampai bawah. "Dilihat dari manapun, kau sama sekali tidak sebanding denganku! Kau jelas-jelas lebih buruk dariku ....
Plakkk!
Nabila melepaskan tamparan pertamanya untuk Maurin. Seluruh tubuhnya bergetar. Dadanya sesak mengetahui fakta yang sangat tidak masuk akal ini. "Jadi, foto yang kau kirimkan itu!"
__ADS_1
"Iya, itu hanya foto biasa. Suamimu dan Jessica sedang menemui klien saat itu. Aku memotretnya agar kau berkelahi dengan suami mu! Kau tidak pantas untuknya. Wanita sepertimu hanya pantas untuk tukang sampah!"
Plakkk!
Kali ini bukan tangan Nabila yang mendarat di pipi Maurin, melainkan tangan Durant. "Maafkan saya, Boss! Saya tidak bisa diam saja mendengar ocehannya."
Bara hanya mengangguk. Dia mengangkat tangannya meminta Durant untuk kembali pada posisi awalnya. Durant pun menurut meskipun dia masih belum puas menghajar wanita gila di depan mereka.
"Apa yang membuatmu seperti ini, Maurin? Kita itu adalah teman bukan? Kau mengenalku sudah lama? Dosa apa yang pernah aku lakukan sampai kau bertingkah menyebalkan seperti ini?" Nabila menatap Maurin dengan mata berkaca-kaca. "Kau sungguh ingin membunuh ku?"
"Aku membencimu, Nabila!" teriak Maurin. "Kau ... kau itu siapa? Dari dulu sampai sekarang. Kenapa hanya kau yang menjadi pemeran utama? Kenapa aku selalu menjadi figuran. Ketika disekolah, guru lebih ramah padamu. Laki-laki yang aku cintai juga menyukaimu. Kau lebih beruntung dariku, Nabila. Kau sudah menjadi seorang direktur!" lirih Maurin tidak bisa menahan air matanya lagi. "Kau tahu, saat aku memutuskan untuk mencintai Pak Fino, aku juga mengetahui jika dia menyukaimu. Aku semakin membencimu, Nabila. Aku bosan jadi figuran. Aku ingin menjadi peran utama sepertimu. Namun, jika aku tidak memilikinya, kau juga tidak bisa!"
Nabila menengadahkan kepalanya degan hembusan napas kasar. Wanita itu mengusap wajahnya beberapa kali. Dia berjongkok kemudian berdiri lagi. Nabila benar-benar ingin marah. Tapi apalah daya. Kemarahannya tidak akan mengubah apa pun.
"Dengarkan aku Maurin! Setiap orang adalah pemeran utama dalam hidupnya masing-masing. Kau hanya salah masuk ruang. Ruang yang kau anggap aku sebagai pemeran utama adalah ruangan milikku. Kau terlalu fokus pada hidup orang lain sampai kau berpikir jika kau adalah figuran. Kau salah kamar dan kau mau menyalahkan ku? Kau sama sekali tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di titik ini. Jika kau tahu, kau tidak akan pernah melakukan hal seperti ini!" geram Nabila mengusap air matanya kasar. Dia kesal, sangat kesal.
"Untuk kalian yang ingin menyiksa mereka! Kalian dipersilakan!" ucap Bara. Dia menarik Nabila untuk menjauh. Duduk di sebuah kursi yang sudah dipersiapkan oleh anak buahnya dengan Nabila yang berada di atas pangkuan.
Semua orang maju, Max dan anak buahnya, bodyguard Nabila. Durant! Termasuk Jessica ikut menghampiri kedua orang itu.
"Kenapa kau maju lagi!" tanya Jessica kepada Durant.
"Belum puas, Baby! Aku ingin menghajar mereka sampai mati!"
"Gunduli kepalamu, baru boleh memanggilku seperti itu!" gerutu Jessica tidak suka.
"Satu orang satu tindakan!" ujar Bara seolah tahu jika anak buahnya ingin menghajar Maurin dan Fino habis-habisan. Dia mengambil air hangat yang disodorkan anak buahnya yang lain kemudian menyodorkan air itu kepada istrinya. Lebih tepatnya membantu sang istri untuk minum. "Apa tangan mu sakit?" tanya Bara seraya mengusap kepala istrinya dengan usapan yang sangat lembut.
__ADS_1
"Tidak lebih sakit dari hati Mas Bara!" jawab Nabila menitikkan air mata. Dia berusaha mati-matian untuk tidak menangis, tapi air matanya tidak ingin berkompromi.
"Shutttt! Jangan dengarkan apa yang dia katakan tentang mu. Kau adalah wanita terbaik yang pernah saya temui. Tidak akan ada wanita lain selain kau dalam hidup saya. Maaf, masa lalu saya juga tidak mengijinkan saya untuk menceritakan semuanya. Ini menjadi alasan kenapa saya tidak mengajakmu ke Prancis karena saya memiliki banyak musuh di sana. Saya harap kamu bisa mengerti!"
Nabila mengangguk. Matanya terpejam saat dia tidak sengaja melihat kekerasan yang terjadi di depannya. Bara masih seperti itu, menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. Dia menarik bahu istrinya agar Nabila bisa menyembunyikan wajahnya. Bara juga menutup telinga Nabila dengan kedua telapak tangan besarnya.
"Jangan sampai mati!" teriak Bara. "Saya masih membutuhkan keterangan dua orang itu!"
Jessica tersenyum lebar. Dia menjambak rambut Maurin membuat wanita itu mendongak. Durant dengan sigap memberikan botol air pada masing-masing orang. Jessica dan Max. Kedua orang itu mencekokoi Maurin dan Fino dengan air jahe yang lumayan kental.
"Uhukkk!" Maurin terbatuk dan hampir mengeluarkan lagi air jahe itu karena tidak tahan dengan rasa dan baunya.
"Kau tahu. Nyonya Nabila tidak pernah meminum teh yang kau buat karena aku selalu menukarnya!" bisik Jessica."Dan air jahe yang baru saja kau minum, sebagian dari itu adalah racun yang kau berikan untuk Nyonya Nabila!"
Mata Maurin yang sudah hampir tidak bisa dibuka karena bengkak terbelalak kecil. Wanita itu ingin memuntahkan kembali air jahe yang sudah dia minum, akan tetapi Jessica langsung membekap mulutnya dengan kain.
"Satu lagi!" bisik Jessica ditelinga Maurin. "Apa kau tahu jika Fino hanya memanfaatkan mu!" Jessica tergelak untuk beberapa saat. "Dia itu sudah membeli tiket untuk pergi ke Hongkong. Dia juga mengurus surat-surat kepindahan ke sana!" ujar Jessica lagi. "Dasar bego! Tolol banget jadi cewek. Lo itu brengsek, Maurin!"
Maurin melirik ke arah Fino. Dia mencoba untuk meminta Fino agar laki-laki itu memberikan isyarat untuk membantah apa yang Jessica katakan.
"Arghhhhhh!" geram Maurin melihat Fino hanya tersenyum sinis ke arahnya. "Bajingan gila!" batin Maurin berbicara. "Aku mempertaruhkan segalanya untuk mu! Dan kau hanya ingin memanfaatkan ku!" sinis Maurin. "Ini semua gara-gara kau Nabila. Jika kau tidak ada, aku tidak akan kehilangan apa pun. Aku membencimu! Aku membencimu!" geram Maurin dalam hatinya.
"Mas!"
"Hmmm!"
"Someone gave me a letter!"
__ADS_1
"What? Surat apa?" tanya Bara bingung sekaligus terkejut.