
Ezra menutup kedua matanya saat melihat Bara dan sang mama bertemu pandang. Bocah ini mungkin masih sangat kecil, tapi saat Nabila mengatakan jika Bara bukan ayahnya, Ezra mempercayai itu. Namanya juga anak kecil. Namun, bukan salah Ezra juga jika dia ingin memiliki sosok seorang Ayah. Selama lima tahun, Ezra hanya hidup berdua dengan sang mama, bukan tidak bahagia. Hanya, sosok seorang ayah pasti dia butuhkan dan dia rindukan.
Kedua orang itu masih saling menatap dari jarak yang sangat dekat. Mata keduanya saling beradu pandang. Untuk pertama kalinya, mereka bisa melihat manik mata satu sama lain dari jarak yang sangat dekat. Mereka terdiam cukup lama, hingga, tangan mungil Ezra menarik tangan Bara membuat laki-laki itu sedikit tersentak dan menunduk ke arah bocah kecil itu.
"Papa ... Ezla mau pipis!" ujarnya masih dengan salah satu tangan yang menutupi matanya. Jangan salah, jemarinya yang mungil tidak bisa menutup matanya secara penuh. Bara masih bisa menatap mata bocah itu dengan leluasa.
"Kita pergi sekarang!" ucap Bara. Dia melirik Nabila, menjentikkan jari di depan wajah wanita itu membuat sang wanita kembali tersadar dari lamunan.
"Astaghfirullah ...!" Nabila mengelus dada sembari mengembuskan napas panjang. Syukurlah, ujian untuknya telah berakhir, dia menolehkan kepala ke arah dua laki-laki tadi berjalan, sungguh, geramnya hati seorang Nabila melihat betapa menyebalkanya Ezra dan Bara. Entah kenapa mereka bisa akrab secepat ini, padahal. Bukan sekali dua kali Nabila menerima ajakan berteman dari pria, dan rata-rata mereka semua orang baik, tetapi, tidak pernah sekalipun Ezra menerima mereka. Jangankan menerima melihat saja dia sangat enggan.
"Apa mungkin dia pakai jampi-jampi?" gumam Nabila bermonolog. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Bara bisa memiliki sikap yang berbeda kepadanya dan juga kepada Ezra. Apa mungkin orang itu pernah merawat anak kecil. Banyak hal yang berkecamuk di benaknya. Nabila tidak mau terlalu pusing karena hal itu. Sekarang dia harus fokus pada pemulihan Ezra, baru setelah itu dia akan memikirkan cara supaya nyawanya aman dari predator ganas seperti buaya buntung itu.
....
Hari demi hari telah berlalu, siang yang berganti malam, begitupun sebaliknya. Kesehatan Ezra sudah semakin baik, dan hari ini, bocah itu sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Selamat, Ezra!" ucap dokter Fathan sembari mengusap kepala Ezra lembut. "Sekarang kau sudah sembuh. Jangan mampir-mampir kesini lagi, ya!"
Bara memutar bola mata pelan. Memangnya siapa yang ingin mampir ke rumah sakit. Jika bukan karena terpaksa, tidak mungkin Ezra berada di sini.
__ADS_1
"Dia memang sedikit, gila!" bisik Durant kepada Bara.
Nabila hanya menggelengkan kepala. Meskipun Durant menggunakan bahasa Prancis, tapi Nabila sedikit mengerti.
"Terima kasih, Dok!" ucap Nabila dengan senyum di bibirnya. Mereka hanya bertemu tatap sebentar setelah itu Nabila mengambil tas berisi pakaian anaknya yang langsung direbut oleh Durant. Dia sangat cekatan bukan? Iya, jika tidak seperti itu, Bara pasti sudah menendangnya ke Antartika.
Dokter Fathan menatap kepergian Nabila dan Ezra dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Seharusnya dia senang karena Ezra sudah sembuh dan mereka bisa pulang. Namun, hati kecil Fathan seolah menolak kepergian orang-orang itu.
Drttt! Drttt!
Fathan mengambil ponsel dari saku jas putih yang dia kenakan. Dokter itu langsung menempelkan ponselnya ke telinga saat tahu siapa yang menelpon.
"Iya, Bu. Baik, saya akan menjemputnya sekarang. Iya, terima kasih!"
"Nana!" panggil Fathan sembari tersenyum menjemput anak kecil yang sedang mengerucutkan bibir di bangku yang ada si depan sekolahnya. "Maafkan ayah, Sayang. Ayah tidak sengaja. Besok Ayah akan menjemput Nana tepat waktu. Besok Ayah libur!"
Anak gadis itu sama sekali tidak menjawab. Dia lebih memilih melengos meninggalkan ayahnya daripada harus mendengarkan celotehan sang ayah yang tidak pernah berujung.
"Terima kasih, Bu. Maaf!" ucap Fathan, membungkuk kemudian masuk ke dalam mobilnya. Hal tidak menyenangkan terjadi, dimana saat itu, Nana malah duduk di jok belakang alih-alih duduk di sampingnya. Jika sudah seperti ini, Fathan tahu jika skala kemarahan Nana bukan skala kecil.
__ADS_1
"Honey ... jangan marah lagi, ya ... Ayah janji, besok gak telat deh."
Nana, bocah berumur 5 tahun itu masih bergeming. Tidak ada yang mau dia katakan kepada sang ayah. Mungkin karena dia terlalu kecewa.
Fathan mengembuskan napas kasar. Dia memilih untuk melajukan mobilnya tanpa menunggu persetujuan dari Nana. Anak kecil itu memang agak spesial. Dia seorang anak perempuan tapi memiliki pendirian yang kuat, Fathan tahu itu saat umur Nana menjelang 3 tahun. Dia sudah tidak bisa mengatur anaknya dan anaknya tidak pernah mau ketika Fathan meminta dia untuk mengikuti apa yang Fathan mau.
....
Nabila dan juga Bapak Mantan Mafia somplaknya tiba di depan rumah kontrakan tiga petak yang sudah Nabila dan Ezra tinggali satu tahun ke belakang. Rumah yang sangat sederhana, tetapi, bisa membuat seorang Bara terbengong. Ya, bagi Bara, rumah ini lebih terlihat seperti gubuk, ah, tidak, mungkin kandang bintang karena dia memang tidak pernah menginjakkan kaki di rumah yang sangat mungil seperti ini.
"Awas, Bos!" ingat Durant kepada Bara saat bosnya itu akan melewati pintu. Pintu itu jelas-jelas hampir memiliki tinggi 2 meter, si Durant terlalu berlebihan. Bara tidak mungkin terbentur kusen pintu bukan?
"Jadi ini, kandang kalian?" tanya Bara kepada Nabila dan Ezra.
Nabila tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala, menaruh tas berisi baju Ezra kemudian menatap Bara dengan tatapan tidak suka. "Pak, saya dan anak saya sudah sampai dengan selamat. Sekarang, Bapak dan Pak Durian ...!"
"Durant, Nyonya!" sanggah Asisten Bara.
"Iya, maksud saya itu. Intinya, kalian pulang dulu saja. Meskipun ada mahram saya di sini," lirik Nabila pada Ezra, "tapi alangkah lebih baik jika kalian pergi sekarang juga. Saya akan mulai bekerja setelah Ezra benar-benar bisa saya titip ke orang."
__ADS_1
Bara tersenyum meremehkan, bukannya mendengarkan apa yang Nabila minta, dia malah duduk di sebuah kursi yang ada di rumah itu. "Saya mau kamu dan Ezra ikut bersama saya!" kata Bara.
"Maksud Bapak?" tanya Nabila agak bingung. Tidak mungkin dia tinggal satu rumah dengan orang gendeng seperti ini. Iya, mungkin Nabila memang harus menjadi asisten rumah tangga Bara karena perjanjian yang mereka buat, tetapi, kalau tinggal di rumahnya ... ini agak terlalu berlebihan.