
Bara mengehentikan aktivitasnya yang sedang menghirup bau wangi tubuh sang istri. Dia menggeser tubuh istrinya agar dia bisa dengan leluasa menatap mata istrinya.
"Kau takut?" tanya Bara dengan wajah seriusnya. Tangan besarnya terulur menyibak rambut Nabila ke belakang. Usapan itu perlahan menjalar ke wajah Nabila membuat wanita itu sangat gugup. Dia begitu takut jika Bara marah kepadanya karena pertanyaan yang dia lontarkan.
"Saya tanya apa kamu takut?" Bara mengangkat dagu istrinya dengan jari telunjuk dan jempol tangannya karena sang istri terus menunduk.
"Tidak!" jawab Nabila tegas. Bara menarik ujung bibirnya. Jawaban ini memang jawaban yang dia inginkan.
"Saya janji, saya tidak akan membunuh orang. Masa lalu saya tidak bisa membuat saya jauh dari barang-barang yang berbahaya. Saya harap kamu mengerti. Semua ini hanya untuk melindungi diri. Tidak lebih!"
Nabila mengangguk mengiyakan. Matanya mulai terpejam saat bibir itu menekan bibirnya cukup dalam. Usapan-usapan sensual yang suaminya lakukan membuat Nabila sangat nyaman. Namun, baru beberapa menit memulai, Nabila meringis seraya mencengkeram perut bagian bawahnya kuat.
"Sakit?" tanya Bara seraya menatap istrinya dengan tatapan mata teduh. Nabila mengangguk. Dia memeluk suaminya semakin erat saat rasa itu kian menyiksa. Ada apa ini, kenapa sakitnya malah semakin menjadi-jadi.
"Mas Bara ...!" lirih Nabila. Tanpa sadar dia menggigit dada suaminya. Bara tidak protes, dia hanya bingung kenapa Nabila bisa sampai kesakitan seperti ini. "Mas tolong!" gumamnya lagi.
Bara gelagapan. Dia memangku Nabila kemudian membaringkan istri cantiknya di atas ranjang, mencari coat panjang yang sekiranya bisa istrinya pakai. "Kita ke rumah sakit saja!" ujar Bara. Peluh di wajah istrinya membuat Bara yakin jika istri cantiknya itu tidak baik-baik saja. Semakin lama, Nabila juga semakin meringis. Rasa sakitnya malah semakin kuat hingga Nabila hampir menyerah. Dia memang sudah merasa kurang nyaman sejak berhubungan terakhir kali dengan suaminya. Namun, dia tidak pernah berpikir jika rasanya akan sesakit ini.
"Kau akan baik-baik saja!" ujar Bara menengkan. "Lebih cepat sedikit, Durant!" geram Bara. Durant meremas stir mobilnya kuat. Harus secepat apa lagi dia melajukan mobil itu. Haruskah dia membawa mobilnya terbang. Namun, wajah pucat majikannya juga membuat Durant khawatir.
"Apa kau salah makan?" tanya Bara dengan suara baritonnya. Nabila menggelengkan kepala. Tentu saja dia tidak memakan sesuatu yang aneh. Semua makanannya sudah lulus seleksi dari para bodyguard nya. Belum jika dia makan bersama Bara, laki-laki itu tidak pernah menginginkannya makan sebelum dia mencobanya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, Tuan!"
Tanpa menunggu lama, Bara melesat masuk ke rumah sakit dengan Nabila di gendongannya. Kini bukan hanya Nabila, tapi dia juga mulai berkeringat hingga wajahnya dipenuhi peluh.
"Dokter!" teriak Bara di dekat IGD rumah sakit itu. "Tolong istri saya! Dia sedang datang bulan tapi dia kesakitan, biasanya tidak seperti ini!"
"Letakan istri Anda di sana, Pak!" tunjuk sang dokter pada brangkar yang ada di IGD tersebut.
"Dokter bisa menangani ini 'kan? Kalau istri saya kenapa-napa. Saya akan menuntut mu juga rumah sakit ini!"
"Mas Bara!" gumam Nabila seraya menggelengkan kepalanya. Dia menggenggam tangan suaminya meminta sang suami untuk lebih tenang.
"Saya akan coba periksa dulu!" kata dokter itu.
"Tidak bisa, kita harus melakukan USG. Mungkin ini miom, meskipun saya berharap bukan. Apa sakitnya sering seperti ini?"
Nabila menggelengkan kepalanya. Dia memang selalu kesakitan di hari pertama menstruasi. Tapi apa mungkin dia memiliki penyakit seperti itu, ya Tuhan. Bagaimana jika dia mengecewakan Bara. Laki-laki itu sudah sangat menginginkan seorang bayi.
Setttt!
Bara mencengkram kerah baju dinas yang dikenakan dokter jaga di IGD tersebut. "Apa yang kau katakan? Bicara dalam bahasa yang aku mengerti!" teriak Bara di depan wajah dokter tersebut.
__ADS_1
"Mas!" panggil Nabila.
"Saya sarankan untuk memanggil dokter Obgyn saja! Bapak tidak usah khawatir. Ini hanya dugaan sementara. Tolong tenang, Pak!" pinta dokter itu menurunkan tangan Bara dari kerah baju yang dia kenakan.
"Panggil mereka sekarang!" teriak Bara pada dokter itu.
"Pak! Saya akan memberikan obat pereda nyeri untuk sementara waktu! Dokter Obgyn kami adanya hanya pagi dan sore saja. Tidak ada yang praktek malam! Sub spesialis di bidang ini juga sangat jarang menerima pasien tengah malam."
"Kau pikir saya tidak mengerti! Mereka sudah di sumpah untuk mengabdi, kenapa mereka tidak mau menolong istri saya? Mau lari dari tanggungjawab?" Bara melotot menatap dokter itu tajam. Sementara suster yang ada di ruangan itu terlihat sangat ketakutan. "Panggil mereka sekarang atau saya hancurkan rumah sakit ini!"
"Mas Bara!" teriak Nabila, dia ingin beranjak dari pembaringannya tapi perutnya malah semakin sakit.
"Panggil mereka sekarang juga!" teriak Bara untuk yang kesekian kali.
"Baik, Pak!" ujar dokter itu.
Bara mengembuskan napas kasar. Matanya terpejam mencoba untuk menetralkan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun. Siapa yang berani menantangnya seperti ini. Para bajingan ini membuatnya sangat muak. Mereka mengambil uang yang dia berikan akan tetapi mereka masih tidak mengerti.
"Mas Bara!" lirih Nabila menitikkan air mata.
"Kenapa, Sayang!" tanya Bara dengan wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Mas ... jika dugaan dokter itu benar gimana? Jika aku tidak bisa memberikanmu anak bagaimana? Apa Mas Bara akan meninggalkan ku?" Air mata itu menitik semakin sering. Dia benar-benar ketakutan. Dalam pernikahan pertamanya pun, Nabila kesulitan untuk hamil, mungkin itu juga alasan kenapa suaminya bisa sampai berselingkuh dengan ibu dari Ezra. Dan sekarang ... kejadian itu terulang kembali. Nabila mengerti kenapa Bara sangat ingin memiliki bayi. Dia sudah hampir berkepala empat. Sudah wajar baginya untuk menggendong anak. Tapi ... bagaimana jika Nabila mengecewakan suaminya itu. Banyak hal yang sudah Bara lakukan, pindah kewarganegaraan. Membuat pernikahan mereka legal di mata negara. Juga Bara yang sudah mulai membangun rumah untuk keluarga kecil mereka.
"Maafkan aku, Mas!" Nabila membatin.