
Nabila bernapas lega setelah melepaskan semua pakaian yang sempat membelenggu dirinya. Matanya terpejam di pelukan suaminya. Sementara Ezra, bocah kecil itu membantu mengipasi Nabila yang masih merasa kepanasan padahal AC di sana sudah cukup dingin.
"Mas. Mana sih mereka, kok belum ke sini? Katanya mau fitting baju pengantin!"
"Mungkin terjebak macet, Honey. Nanti juga datang kalau memang sudah waktunya!"
"Itu meleka!" tunjuk Ezra pada sepasang sejoli yang datang menghampiri.
"Maafkan saya, Bu! Saya tadi bertemu dengan Ibu saya dulu!" kata Marlina. Nabila menggelengkan kepalanya. Dia kembali duduk dengan posisi yang lebih baik.
"Bagaimana dengan Ibu Irma, apa beliau sudah merestui kalian?" tanya Nabila dengan binar di wajahnya.
Marlina mengangguk. "Alhamdulillah Ibu merestui kami, Bu. Tapi saya malu!"
"Malu?" tanya Nabila dengan kening mengkerut. Marlina melirik Max sekilas. Melihat hal tersebut. Bara mengajak Max untuk berbicara sementara Marlina dia suruh untuk mencoba gaun pengantin yang akan dia kenakan nantinya.
"Mbak! Mbak mau nikah ya? Mbak mau ninggalin Ezla?" tanya bocah kecil di samping Nabila.
Marlina tersenyum. Dia berjongkok di depan Ezra, meraih kedua tangan bocah kecil itu seraya tersenyum. "Nak. Insyaallah, jika suami Mbak nanti mengijinkan, Mbak akan tetap bekerja, untuk menjaga Ezra. Mbak udah sayang sama Ezra. Mbak gak mungkin ninggalin Ezra!"
Nabila tersenyum. Wanita itu mengusap sudut matanya. Dari apa yang keluar dari mulut pengasuh anaknya. Kalimat yang Marlina ucapkan mengingatkannya pada sang suami. Dia yang selalu memaksa untuk meminta bekerja tanpa memperdulikan suaminya rhido terhadap apa yang dia minta atau tidak.
"Mas Bara~~!" gumam Nabila dengan suara tangis yang memenuhi ruangan tersebut. Ezra yang sudah akan menangis pun, air matanya kembali masuk karena keduluan oleh sang mama. Para karyawan di ruangan itu mendadak sangat panik. Begitupun dengan Bara dan Max yang sedang mengobrol.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Bara berjongkok di depan istrinya. Marlina bergeser dan berdiri di samping Ezra masih memeluk bocah kecil itu.
"Honey! Kenapa hmmm? Ada yang sakit? Kau terluka? Apa ada orang yang menyakiti perasaan mu? Kita ke rumah sakit ya? Atau mau saya hukum semua orang yang ada di sini?"
Para pelayan butik itu mulai saling berbisik. Mereka ketakutan karena takut di pecat oleh boss mereka karena sudah membuat pelanggan VVIP di butik tersebut tidak nyaman.
"Mas!"
"Apa?" tanya Bara mengusap wajah istrinya.
"Maaf!" ucap Nabila sesenggukan.
"Maaf untuk apa? You didn't make any mistake. What happened?"
Bukannya menjawab, Nabila malah menghambur memeluk leher suaminya. Dia kembali meraung. Namun, Bara dengan sabarnya mengusap punggung sang istri dengan usapan yang sangat lembut dan menenangkan.
"Baik, Pak!"
Bara tersenyum dengan senyum yang sangat jarang dia tunjukan setelah mendengar penjelasan dari sang istri. Entah kenapa dia malah dibuat gemas karena apa yang dilakukan istrinya itu. Wanita ini sangat takut dengan dosa yang dia dapatkan saat membuat suaminya tidak senang atau membuat suaminya itu tidak rhido terhadapnya.
"Sudah! Saya bukan tidak senang karena kamu bekerja. Untuk sekarang, fokus pada bayi-bayi kita dulu boleh 'kan? Saya sudah menyiapkan kepindahan kita ke rumah baru. Dan saya akan membawa Marlina, Max dan Jessica untuk pindah ke apartemen di depan rumah kita agar kau memiliki teman nantinya."
Nabila mendongak, dia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Mas gak bohong 'kan? Mbak Marlina sama Jessica gak akan berhenti bekerja?" tanya Nabila lagi.
__ADS_1
"Saya janji, Nyonya. Selama calon istri saya bersedia, saya tidak akan melarangnya untuk bekerja dengan Anda!"
"Huaaaaa ... Mas Bara!" tangis Nabila kembali pecah. Wanita itu benar-benar sangat bahagia karena dia tidak harus kehilangan orang-orang yang susah dekat dengannya dan keluarganya. Mungkin karena moodnya yang naik turun bagai rollercoaster, Nabila kesulitan untuk menenangkan perasaannya sendiri.
....
Hening. Tidak ada yang membuka suara saat Max dan Marlina berada di dalam mobil yang sama. Kedua orang itu bagai batu yang bisu. Tidak memiliki telinga, juga tidak memiliki suara. Hanya bising dari kendaraan - kendaraan yang berlalu lalang yang menjadi backsound pada keheningan yang terjadi.
"Mbak!"
"Mas!"
Keduanya tersenyum. "Namaku Daud. Maksudku nama asliku. Orang tua kandungku ada di Turki. Tapi mereka sudah meninggal sejak aku masih remaja. Dan sejak saat itu pula aku bertemu dengan Boss Bara!"
Marlina hanya mengangguk. Jadi ini alasan Max tidak pernah menceritakan masa lalunya. Karena semuanya memang sudah tidak ada.
"Maaf, Mas!" kata Marlina tidak enak karena merasa jika dia sudah mengorek luka calon suaminya.
"Tidak masalah. Itu memang fakta. Saya juga tidak dekat dengan orang tua saya. Kamu tadi mau ngomong apa?" tanya Max menoleh ke arah Marlina.
"Saya mau minta maaf. Karena Ibu saya, Mas Daud jadi terkena imbasnya. Saya janji, saya tidak akan menyulitkan Mas. Jika saya membuat kesalahan, saya siap menerima hukuman," ujarnya dengan kepala tertunduk. Marlina memainkan kuku-kuku jarinya. Merasa malu Karena sudah mengatakan hal seperti itu dengan begitu lantang. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Marlina capek karena harus terus mengikuti kemauan ibu dan adiknya.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan?" tanya Max. Marlina pun hanya mengangguk. "Saya memiliki syarat untuk mu sebelum kita resmi menikah!" ujar Max tanpa ekspresi.
__ADS_1
Marlina melihat semuanya. Wajah calon suami yang berbeda dari biasanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Entah kenapa, Marlina merasa sangat gugup. Dia tahu, pernikahan yang akan terjadi antara mereka berdua adalah pernikahan karena sebuah alasan yang bukan diawali dengan rasa cinta. Namun, Marlina sangat berharap jika Max ini adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang akan menyayanginya sebagaimana janjinya yang ingin membahagiakan Max dan menerima laki-laki itu dengan hatinya.
"Satu kali kita menikah, kau tidak akan bisa lepas dariku. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi meninggalkan ku. Seburuk apa pun masa lalu ku, kamu harus bisa menerimanya. Apa kamu sanggup?" tanya Max melirik calon istrinya sekilas.