
"Kamu siapa?" tanya Nabila kepada seseorang yang berdiri di dekat pantry.
"Saya Durant, Nyonya!" jawabnya singkat.
"Durant?" tanya Nabila dengan kening mengkerut dia menatap suaminya, akan tetapi suaminya hanya mengangguk mengiyakan apa yang menjadi kebingungannya. "Kenapa kepala kamu kayak cilok? Kamu gak papa 'kan?" tanya Nabila lagi. Dia mencoba untuk menahan senyum tidak ingin menyakiti perasaan Durant. Wajahnya benar-benar berbeda dengan wajah yang sering dia lihat ketika mereka bertemu. Kali ini wajah Durant yang semula menyeramkan malah memperlihatkan kesan sebaliknya.
"Hahahaha. Om Dulian. Om kenapa sekalang kepalanya licin? Om lucu!" kata Ezra dengan wajah polosnya. Bocah itu terlihat sangat antusias. Dia mendekati Durant, meminta Durant untuk menunjukkan kepalanya padanya. "Wuahhhh ... benal-benal seperlti bola penyihil!" ucap Ezra lagi. Ezra mengelus kepala Durant kayaknya bola lampu petir ala-ala dukun dalam film.
Nabila yang tadinya sudah bisa menahan senyum malah dibuat hampir pipis di celana karena ulah anaknya. Dia berbalik, membenamkan wajahnya di dada sang suami kemudian tertawa di sana. Hanya Bara yang tidak tertawa. Laki-laki itu menyunggingkan senyum seraya mengusap punggung sang istri.
"Mas! Kenapa dia sangat lucu!" ucap Nabila. Untuk beberapa saat Nabila masih melanjutkan tawanya. Namun, saat menyadari sesuatu, tawa itu langsung lenyap digantikan oleh wajah terkejut dan khawatir. "Bukan kayak gitu, Mas! Durant! Bukan orangnya yang lucu? Hanya kepalanya saja!" kata Nabila menatap suaminya. Dia berusaha meyakinkan sang suami jika dia tidak memiliki maksud apa pun. Nabila tidak ingin membuat Durant berada dalam masalah.
"Aku tahu!" jawab Bara singkat. Dia menatap istrinya dengan senyum kecil. Senyum yang semakin lama semakin memudar.
"Gaji mu akan saya potong, Durant!" kata Bara dengan seringai di wajahnya. Nabila sudah akan protes, tapi Bara mengeluarkan kata-katanya lebih dulu. "Itu lebih baik daripada kepalanya yang dipotong!" bisik Bara di samping telinga istrinya.
Glek!
Nabila tersenyum. Dia mundur satu dua langkah, akan tetapi, Bara kembali menarik pinggangnya hingga jarak yang ada di antara mereka berdua menipis begitu saja.
"Sudahlah! Jessica ingin bertemu denganmu!" ucap Bara memangku tubuh istrinya membawanya duduk di sofa yang sudah terdapat seorang wanita di sana.
"Tuan! Nyonya!" ucap Jessica membungkuk ke arah dua orang itu.
Nabila beranjak dari pangkuan suaminya. Namun, bukan untuk menjauh, hanya duduk di sampingnya dengan paha hang saling menempel seolah ingin mengatakan jika Jessica sudah tidak memiliki kesempatan.
"Silakan, saya buatkan teh hangat, Pak! Bu!" kata Marlina.
Nabila tersenyum menatap pengasuh anaknya itu. "Terima kasih, Mbak!" Marlina pun mengangguk dan kembali kepada Ezra.
"Pak Durant. Kau sangat tampan dengan tampilan barumu ini!" ucap Marlina mengacungkan jempolnya. Durant hanya tersenyum. Dia melirik ke arah Jessica sekilas kemudian fokus lagi kepada Ezra.
__ADS_1
"Saya ingin meminta maaf, jika semala ini saya sudah membuat Nyonya salah paham. Saya dan Tuan Bara tidak pernah memiliki hubungan apa pun. Jika Marlina pernah mengirimkan sesuatu kepada Nyonya Bara, itu semua bohong. Saya ...."
"Saya tahu!" jawab Nabila. "Saya yang salah karena sudah mencurigai mu, Jessica. Seharusnya saya mengerti jika teman saya itu memang tidak pernah tulus!" kata Nabila dengan senyumannya. "Maafkan saya!"
"Hah!" cengo Jessica dengan wajah terkejutnya. "Tidak, kenapa Nyonya meminta maaf kepada saya. Nyonya tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Justru saya mau berterima kasih, karena kebaikan Nyonya selama ini. Nyonya membuat saya menjadi yakin dan ingin menjadi orang baik seperti Nyonya. Saya sangat berharap jika Nyonya dan Tuan akan memberikan saya kesempatan agar saya bisa menebus kesalahan saya di masa lalu. Saya, dulu saya pernah meremehkan, Nyonya! Saya minta maaf!" Jessica mengucapakan itu dengan kepala yang semakin tertunduk dalam. Hal bodoh yang pernah dia lakukan adalah menilai orang lain dari covernya saja. Mulai sekarang, dia berjanji dia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.
Nabila tersenyum ke arah suaminya dia mengedipkan mata entah untuk apa.
"Eummm ... saya cukup tersanjung, saya juga tidak perlu menerima permintaan maaf darimu. Tapi ... apa kau ke sini bawa kendaraan sendiri?" tanya Nabila, wanita itu malah mengalihkan pembicaraan.
"Saya menggunakan taksi, Nyonya!"
Nabila kembali mengangguk - anggukan kepalanya. Wanita itu tersenyum ke arah Durant untuk beberapa saat. Meskipun Durant tidak menyadarinya, akan tetapi, Nabila yakin jika Durant akan senang karena hal ini.
"Makan siang lah di sini! Saya sudah mendengar semuanya dari suami saya. Nanti, Durant yang akan mengantarkan mu pulang!"
"Hah?" cengo Jessica menatap Nabila dengan wajah bodohnya.
....
"Baby!"
"Mau gue hajar?" ketus Jessica dengan mata melotot.
"Loh, kamu sudah berjanji, jika saya menggunduli kepala saya, kamu mau dipanggil seperti itu. Kenapa kamu ingkar janji?"
"Siapa yang ingkar janji, gue gak gitu!" ucap Jessica gelagapan. Dia sudah sangat ingin tersenyum, akan tetapi berusaha untuk menahan senyum itu.
"Maaf!" kata Durant. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Jessica, akan tetapi!
Plak!
__ADS_1
Klik!
Jessica melongo. Dia yang baru saja menampar Durant dibuat tercengang lantaran Durant ternyata hanya menarik sabuk pengaman dan memasangkan sabuk pengaman itu untuknya.
"Sorry!" ucap Jessica dengan wajah lemonnya. Dia benar-benar tidak tahu kalau Durant hanya ingin membantunya.
"Tidak apa-apa. Ini hanya kecelakaan!" jawab Durant. Dia tersenyum kemudian mengenakan seat belt untuknya sendiri dan mulai melajukan mobilnya.
Jessica terbengong. Haruskah Durant bersikap setenang ini. Kenapa tidak ada wajah kesal yang Durant tunjukan. Dia masih bisa melihat tanda kemerahan di pipi laki-laki berusia 30an itu. Jessica memperhatikan tangannya, mengangkat tangan itu berusaha menyamakannya dengan bekas tangan yang ada di pipi Durant.
"Eishhhh ... bajingan ini benar-benar sangat menjengkelkan!" gumam Jessica dalam hati.
"Kita mau langsung pulang atau mau ke mana dulu?" tanya Durant.
"Pulang saja!"
"Baik, Baby!"
Jessica mendengus seraya menggelengkan kepalanya. Dia hanya fokus pada ponsel yang sedang dia pegang tanpa mau memperdulikan Durant yang baru saja memanggilnya dengan panggilan aneh itu.
Kittt!
"Akhhhh!"
Jessica melotot tajam. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika kepalanya hampir saja terbentur dashboard mobil jika Durant tidak memegang dadanya. Tunggu? Dada? Jessica refleks menunduk melihat tangan Durant yang ada di dada sebelah kirinya.
"Oh, syukurlah. Ada orang yang tiba-tiba menyebrang!" kata Durant masih belum sadar dimana dia meletakan tangannya. Namun, ketika dia tidak mendengar apa pun. Dia menoleh, matanya langsung tertuju pada tangan tidak tahu etika yang berada di atas ....
"Bajingaaaaannnn gilaaaa!" teriak Jessica dengan suara 10 oktaf yang mampu membuat telinga Durant berdenging.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja!"
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu! Durian gila! Kau brengsek!"