
Bara menatap langit malam dari balkon yang ada di apartemennya. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Nabila selalu menolaknya. Apa yang tidak dia miliki, se kurang apa dia sampai Nabila tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengannya. Berbuat baik sudah, meminta maaf sudah, lalu apa yang kurang. Herannya, kenapa dia tidak bisa melepaskan sosok Nabila. Banyak yang lebih cantik dari wanita itu. Bahkan Bara bisa saja mendapatkan seorang gadis yang masih belum di sentuh orang lain. Namun, kenapa sangat sulit baginya untuk melepaskan seorang janda dengan satu anak.
"Bos," panggil Durant dari arah dalam.
"Kenapa?" tanya Bara tanpa menolehkan kepala.
"Bos. Saya sudah mendapatkan informasi tentang masa lalu Nyonya yang sebenarnya."
Bara langsung menoleh, laki-laki itu masuk ke dalam kemudian duduk di sofa dan menyuruh Durant untuk ikut duduk juga. "Katakanlah!"
"Sebenarnya, Nyonya itu istri kedua, Ramadhan!"
"What?" kaget Bara seraya menyesap alkohol yang ada di gelas kecil di tangannya.
"Istri pertamanya adalah pemilik cafe yang waktu itu memarahi, Nyonya."
"Lalu?"
"Adel menuduh Nyonya sebagai perusak rumah tangga dia dengan Ramadhan."
"Maksud mu, Nabila menikah dengan laki-laki yang sudah beristri?"
Durant mengangguk-anggukan kepalanya tapi juga menggeleng. "Nyonya sebenarnya hanya korban, Bos. Dia tidak tahu jika suaminya itu sudah memiliki istri karena Ramadhan mengatakan jika dia masih lajang. Nyonya dan Adel sempat bercerai dengan laki-laki itu. Namun, tidak lama setelah itu, Nyonya kembali menikah dengan mantan suaminya. Banyak orang yang mengatakan jika Ramadhan ini orang yang sangat baik, dia pandai membuat orang termakan ucapannya."
"Aku mengerti," kata Bara yang mulai menemukan titik terang.
"Buka hanya itu, Bos! Ezra sebenarnya juga bukan anak kandung, Nyonya!" jelas Durant yang membuat Bara terkejut sehingga dia beranjak dari duduknya sambil menatap Durant dengan tatapan tajam.
"Ezra adalah anak Ramadan dengan istri sirinya, Katrin."
__ADS_1
Bara menggelengkan kepala, dia mendudukkan kembali dirinya di sofa dengan wajah kecewanya. "Ternyata ada laki-laki yang lebih brengsek dari saya, Durant. Pantas saja dia mengatakan jika dia tidak ingin membaca buku yang sama dua kali. Bajingan itu yang sudah membuat saya kesulitan untuk mendekati Nabila."
Durant tidak bisa mengatakan apa-apa. Jujur, dia juga sangat terkejut saat mengetahui jika calon majikannya ternyata memiliki masa lalu serumit ini. Di tambah bosnya yang menyulitkan Nabila selama 5 tahun. Pantas saja Nabila sangat membenci Bara. Jika saat itu Bara tidak melakukan kesalahan, mungkin kejadiannya tidak akan serumit ini. Nabila pasti tidak akan sulit untuk didekati.
"Apa yang harus saya lakukan, Bos?"
Bara mendelik, "Menurutmu apa? Si Ramadhan sudah mati, kau mau nyusulnya ke akhirat dan membuat laki-laki itu mati lagi ?"
Durant menggelengkan kepala. Bukan itu yang dia maksud, akan tetapi hal lain. Namun, jika Bara memang tidak ingin dia melakukan apa-apa, terserah dia saja.
....
Suara ketukan pintu terdengar, Nabila dan Ezra langsung menoleh ke arah pintu itu, mereka berdua tentu saja sudah tahu siapa yang datang. "Kita pergi sekarang, Sayang!" kata Nabila.
Ezra mengangguk antusias, bocah kecil itu menarik tangan Nabila membuat Nabila tidak bisa untuk mengatakan perlahan atau jangan terburu-buru.
"Papa!" pekik Ezra yang langsung di sambut pelukan hangat dari Bara. "Papa, Ezla mau ke taman hibulan, boleh?"
"Dia Kenapa?" tanya Nabila kepada Durant melihat Bara mendiaminya. Nabila tidak mendapatkan senyum, juga tidak menerima sapaan.
Durant hanya tersenyum kecil, "Bos lagi galau Nyonya."
"Galau?" tanya Nabila lagi.
"Iya, beliau galau karena tidak bisa menidurimu," gumam Durant dalam hati.
Selama perjalanan itu, Bara sama sekali tidak menghiraukan Nabila. Dia benar-benar hanya fokus kepada Ezra, bahkan saat Nabila mencoba untuk berbicara, Bara seolah tidak memberikan dia kesempatan untuk itu.
"Ezra mau main apa?" tanya Bara sesaat setelah mereka sampai di sebuah mall besar yang memiliki wahana teman bermain dengan pasilitas yang lengkap.
__ADS_1
"Ezla mau main salju, Papa!"
Bara tersenyum, kembali dia menggandeng Ezra. Namun, sebelum mereka masuk ke wahana permainan, mereka pergi berbelanja untuk membeli pakaian yang sesuai.
"Papa, Mama juga halus pakai jaket 'kan? Ezla mau main sama Mama sama Papa juga!"
Bara melirik Nabila sekilas, dia mengambil sebuah jaket kemudian melemparkan jaket itu pada wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Dasar gendeng, udah bawa anak orang main, lha ... sok jadi bapaknya banget."
"Kau dengar itu, Durant," kata Bara pada asistennya. "Jika kau tidak bisa mengingat dan menerjemahkannya, saya akan potong jari kelingking kamu!"
Durant langsung melongo, bagaimana bisa dia menerjemahkan apa yang Nabila katakan, boro-boro ingat, mengerti saja tidak. "Bos, saya!"
Belum sempat Bara menyelesaikan kalimatnya, Bara dan Ezra sudah melesat pergi dengan arahan dari seorang karyawan di mall tersebut. "Om Dulian gak ikut, Pa?"
"Biarkan dia bermain sendiri saja!"
Ezra mengangguk anggukan kepalanya. Bocah kecil itu menoleh ke arah Nabila, dia menggenggam tangan Nabila dan juga Bara dengan senyum di wajahnya. Bocah kecil itu terlihat sangat bahagia. Untuk pertama kalinya, dia bisa keluar dari rumah dengan orang tua yang lengkap. Bahkan sekarang, tidak ada yang berani mengolok-olok nya lagi. Justru tatapan kagum dan iri lah yang mereka dapatkan.
"Wuahhhh ... ada salju!" heboh Ezra dengan cengirannya. Bara melepaskan anak kecil itu dari tangannya. Dia hanya memperhatikan Ezra yang sedang berbaring di atas hamparan salju putih dengan senyum tipis.
"Apa Bapak sedang mencari perhatian?" tanya Nabila di samping Bara.
"Apa yang kau katakan?" Bara balik bertanya tetapi tatapannya masih fokus kepada Ezra.
"Bapak lihat, semua wanita yang ada di sini selalu mencuri pandang pada Bapak. Bukan hanya anak remaja, tetapi ibu-ibu juga."
Bara menautkan alis mendengar penuturan dari wanita di sampingnya. "Apa kau merasa tidak nyaman? Kalau iya, saya akan meminta Durant untuk mengosongkan area ini!" kata Bara santai seolah tanpa beban.
Nabila yang kala itu sedang membungkuk karena sedang menjahili Ezra langsung berdiri. Bola matanya membesar saat melihat Bara dari jarak yang sangat dekat. Saking terkejutnya, Nabila sampai kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tumpukan salju.
__ADS_1
Laki-laki itu menghampirinya Nabila, dia mengulurkan tangan ingin membantu wanita itu untuk berdiri. Namun, saat Nabila sudah mengulurkan tangannya, Bara malah menarik tangan itu kembali, dia merogoh sapu tangan dari saku celananya, kemudian melebarkan sapu tangan itu untuk melapisi telapak tangannya. Barulah setelah itu tangannya terulur kembali.
Nabila menerima uluran tangan Bara meskipun dia agak bingung saat melihat tingkah aneh yang laki-laki itu lakukan. Hingga mereka berdiri berhadapan, Bara menunduk kemudian membisikan sesuatu di telinganya. "Nikmati masa-masa sendiri mu, Nabila. Karena Minggu depan, kau akan menjadi istri saya!"