Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
85. Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Jadi bagaimana?" tanya Bara pada Max yang saat itu berdiri di depannya.


"Saya masih mencari tahu dimana ayah kandung Marlina."


"Tapi wanita itu menerima lamaran mu 'kan? Dia tidak menolak mu?"


Max menggelengkan kepalanya. "Tidak, Boss. Sepertinya dia sudah sangat tertekan oleh ibu dan adiknya."


"Dugaan kita selama ini benar 'kan? Marlina tidak benar-benar diinginkan oleh ibunya. Sebaiknya kau percepat proses pencarian mu! Jika tidak bisa, saya akan meminta tolong Eileria untuk membantumu! Satu lagi, sebaiknya bicarakan ini pelan - pelan dengannya. Jangan sampai dia tahu hal ini dari orang lain!"


"Baik, Boss!" jawab Max.


"Pergilah!" titah Bara. Laki-laki itu beranjak dari duduknya kemudian berdiri di depan dinding kaca yang ada di perusahaannya. Sebuah ponsel dia tempelkan di telinga.


"Wa'alaikumssalam! Honey! Apa yang sedang kau lakukan? Kau sudah makan siang?"


Wanita cantik itu tersenyum. Kedua matanya menatap lurus ke arah pigura besar yang ada di kamarnya. Foto pernikahan mereka terlihat sangat cantik. Nabila sangat menyukainya.


"Aku sudah makan, Mas! Mas Bara sudah makan blm? ... ya sudah. Jangan pulang terlalu malam!" ujarnya lagi. "Aku akan memasak makan malam yang sepesial. Jangan terlambat!"


Helaan napas pelan keluar dari mulut wanita cantik itu. Dia menoleh saat pintu kamarnya diketuk dari luar. "Ada apa, Mbak?" tanya Nabila.


"Anu Bu. Salad buah yang Ibu minta sudah dibuatkan."


Nabila mengangguk. "Ezra sudah tidur?" tanya Nabila.

__ADS_1


"Sudah, Bu!" kata Marlina. Dia membantu Nabila mengambil salad buahnya.


"Bagaimana dengan persiapan pernikahan?"


Marlina tersenyum kecil. "Saya kurang tahu, Bu. Semuanya sudah diurus pihak WO yang Ibu siapkan. Tidak akan ada undangan. Yang datang juga mungkin hanya karyawan Pak Bara, dan Bu Nabila."


Nabila mengangguk - anggukan kepalanya paham. Marlina sebenarnya sudah memintanya untuk mengadakan akad pernikahan saja. Tidak perlu ada resepsi. Namun, Nabila tidak tega. Ini adalah pernikahan pertama untuk Marlina. Nabila tidak bisa jika membiarkan kenangan indah untuk Marlina tidak berkesan. Sekalipun mereka bukan saudara dan belum lama bersama, Nabila merasa jika ini sudah menjadi tanggunawabnya untuk membahagiakan orang yang ada di dekatnya.


"Semoga semuanya lancar ya Mbak! Saya minta maaf kalau saya ikut campur dalam pernikahannya Mbak Marlina."


"Masyaallah ... saya justru berterima kasih sama Ibu. Tidak ada yang mau membantu saya. Bahkan, ibu saya pun tidak memperdulikan saya. Beliau malah sibuk dengan uang yang tadi dia minta dari Mas Daud!"


"Mas Daud?" tanya Nabila bingung. "Siapa Daud? Ketua RT di tempat mu?"


Marlina tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya. "Bukan, Bu! Max!"


"Iya, Bu! Beliau mengatakan jika nama aslinya adalah Daud. Saya tidak banyak bertanya. Saya malu, Bu. Saya takut jika Mas Daud tertekan karena masalah ini!" jujur Marlina. Kini kepalanya menunduk semakin dalam. Sangat dalam sampai Nabila tidak bisa melihat wajahnya.


"Mbak!" panggil Nabila. "Duduklah!" titahnya lagi menarik tangan Marlina.


"Mbak dengarkan saya! Jodoh itu sudah Allah atur. Dan kita semua sama di mata Allah. Jika Mbak berpikir seperti itu, selama ini Mbak juga memikirkan hal yang sama tentang saya?" kata Nabila dengan senyumannya. Awalnya Marlina diam, masih belum mengerti dengan apa yang Nabila katakan. Namun, beberapa detik kemudian, dia langsung beranjak dan membungkuk beberapa kali ke arah majikannya.


"Demi Allah. Saya tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Ibu adalah orang yang hebat. Ibu jelas-jelas berbeda dengan saya. Ibu sangat cantik, Ibu juga sangat baik. Terlebih, Ibu cerdas dan memiliki pendidikan yang tinggi. Sedangkan saya ...."


"Mbak!"

__ADS_1


Marlina langsung diam, dia tidak melanjutkan kalimatnya dan kembali menunduk.


"Hidup setiap orang berharga untuk diri mereka sendiri. Jangan membuat ukuran tentang baik buruknya seseorang dengan tolak ukur manusia. Kita tidak pantas melakukan itu, Mbak. Hanya Tuhan yang berhak. Setiap orang sudah memiliki garis hidupnya sendiri. Jangan insecure karena hal-hal seperti ini. Justru, kita harus insecure jika kita tidak bisa bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan pada kita. Allah titipkan Mbak kepada Daud, begitupun sebaliknya. Allah satu-satunya hakim yang adil. Mbak gak usah malu. Percaya diri. Saya yakin, Mbak memiliki apa yang tidak orang lain miliki."


"Ibu~~!" gumam Marlina dengan mata berkaca-kaca. Nabila tersenyum, memeluk Marlina, menenangkan wanita yang kini sedang menangis di dalam dekapannya.


"Terima kasih, Ibu! Terima kasih!"


....


"Sama-sama!" ucap seseorang dengan cengirannya.


"Gue gak minta dibawain makan siang! Bawa balik!" ketus Jessica kesal dengan kelakuan Durant.


"Ya Tuhan, Baby. Aku sudah membeli ini dari restoran yang paling mahal. Meskipun tidak semahal yang dibeli, Boss Bara!" kata Durant di depan meja Jessica. "Kalau kamu gak makan, aku bunuh koki yang sudah menyiapkan makanan ini."


"Kau sinting!" ketus Jessica lagi.


"Ya ... karena mu! Aku beli ini untuk meminta maaf. Jangan marah terlalu lama. Aku benar-benar tidak sengaja."


Jessica mengembuskan napas kasar. Wanita itu mengetukan keningnya pada meja di depannya berkali-kali. Namun, pada ketukan terakhir, dia merasakan tekstur lain dari meja yang ada di depannya. Dan ... ternyata itu adalah tangan Durant yang sengaja dia gunakan sebagai bantalan. Mungkin Durant berpikir jika itu akan mengurangi rasa sakit di keningnya. Dia mendongak, menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam.


"Ya sudah! Gue ambil makanannya. Tapi inget ya! Gue gak pernah nerima ini karena gue mau. Gue cuma kasian sama makanannya!"


"Siap!" kata Durant memberikan hormat.

__ADS_1


"Dasar gila!" gumam Jessica seraya menggelengkan kepalanya.


__ADS_2