Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
54. Meminjam Uang


__ADS_3

Nabila berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan kaki yang masih belum bisa dia gunakan seperti biasanya. Dia masih cukup kesulitan, bahkan terkadang dia meringis saat tak sengaja menekan kaki yang terluka.


"Assalamu'alaikum!" sapa Nabila saat memasuki ruang rawat seseorang. Ruang rawat itu terlihat cukup besar, bukan cukup, akan tetapi sangat besar jika dibandingkan dengan ruang rawat Ezra sekarang.


"Wa'alaikumssalam!" jawab seorang wanita berusia 50an. Dia menarik Nabila, membawa wanita itu mendekat ke sisi ranjang. Di sana, sudah ada Paman Purnomo, adik dari ayahnya Nabila.


"Paman kenapa Bi?" tanyanya bingung. Dia mendekati Purnomo yang terbaring dengan beberapa alat bantu yang menunjang kehidupannya.


"Paman kamu ada kerusakan katup jantung, Bil," ucap Bi Susi yang menjadi istri dari Paman Purnomo. "Paman kamu harus segera melakukan operasi. Kalau enggak, mungkin hidupnya tidak akan tertolong!" ucapnya lagi. Kali ini dengan suara terisak, air mata bercucuran, membasahi wajahnya yang sudah tidak muda lagi itu.


"Inalilahi, ya Allah. Kenapa bisa seperti ini, Paman?" ucap Nabila dengan mata berkaca-kaca. Dia menyentuh punggung tangan Purnomo, meremas tangan itu pelan seraya menunduk, air matanya ikut menetes mengenai punggung tangan itu. Nabila mungkin tidak dekat dengan pamannya ini. Namun, hanya Paman Purnomo saya yang Nabila miliki. Dia yang merupakan anak tunggal dari kedua orangtuanya benar-benar kehilangan keluarga setelah Ibu dan Ayahnya meninggal. Nabila tidak ingin kehilangan keluarganya lagi. Budhe dan Pakdenya sudah membuang dia karena permasalahan Ezra. Hanya Paman Purnomo yang masih melihat ke arahnya.


"Bila, tolong Paman Mu, Nak! Kami membutuhkan biaya banyak untuk melakukan operasi. Belum lagi biaya rumah sakit yang sangat mahal. Tabungan Bibi sudah habis hanya untuk merawat paman mu dua hari ini. Paman kamu pernah bilang kalau sekarang kamu sudah menikah dengan orang kaya raya. Tolong Bibi, Nak!"


Nabila tertegun mendengar apa yang bibinya katakan. Dia benar-benar tidak keberatan untuk membantu keluarganya jika memang bisa. Namun, untuk biaya operasi dan biaya rawat jalan, bagaimana caranya dia bisa mengcover semua itu. Suaminya mungkin banyak uang, tapi bukan berarti mudah bagi suaminya untuk menggelontorkan dana. Hubungan mereka baru saja dimulai. Apa yang akan Bara pikirkan jika dia nekad meminta bantuan pada suaminya itu.

__ADS_1


"Bi ... sebenarnya Bila sedang tidak punya uang sebanyak itu. Lagipula, untuk biaya rawat jalan di rumah sakit ini juga pasti sangat mahal. Kenapa gak di rawat di ruangan biasa aja? Paling tidak di kelas 2 juga tidak apa-apa! Kenapa harus dirawat di ruang VIP."


Bi Susi yang mendengar itu menarik sudut bibirnya. Dia menatap Nabila dengan tatapan tidak percaya. Melotot menatap mata itu hingga biji matanya hampir keluar. "Kamu itu kalau gak mau bantu gak usah ngomong yang enggak-enggak. Nabila Bibi mau memberikan yang terbaik untuk paman mu ... apa kamu gak tahu terima kasih? Yang selama ini bantu kamu adalah kami ... kamu lupa, saat kamu membutuhkan uang untuk biaya perawatan Ezra siapa yang bantu kamu! Jangan karena Ezra sudah sembuh, kamu bersikap acuh tak acuh kepada kami. Kamu itu harusnya malu! Sudah sering ditolong, tapi gak ada tanda terima kasih sama sekali!"


Astagfirullah ... kalimat mana yang telah dia ucapkan yang membuat bibinya ini tersinggung. Nabila saja tidak berani mengambil kamar VIP saat membawa Ezra. Dan masalah balas budi, Nabila benar-benar tidak bermaksud melupakan pamannya. Tanda terima kasih apa yang harus dia berikan, sementara hidup saja dia bergantung pada suaminya. Kerja baru beberapa minggu, jelas saja dia belum menerima gaji.


"Bi ... Bila mau bantu kalau Bila bisa, tapi Bila gak bisa cover semuanya. Apa kita cari solusi lain saja? Kita urus pakai BPJS saja ya! Nanti bila bantu, Bi."


"Tidak usah! Kalau Bibi nggak mau paman kamu ditangani sembarangan. Kalau enggak mau bantu ya sudah. Bibi bisa nyari pinjaman ke orang lain! Udah kamu pergi aja!" usir Bi Susi menyeret Nabila keluar dari ruang pamannya. Meskipun Nabila sudah mencoba untuk meminta maaf dan mengatakan akan mencoba membantu, Bi Susi sama sekali tidak menghiraukannya dan malah menyeretnya sampai dia hampir terjengkang jika tidak berpegangan pada kusen pintu ruangan rawat itu.


"Akhhh!" Wanita itu menarik tangannya seraya mengibaskan tangan itu dengan cepat. Dia meremas semua jari tangan kanannya merasakan sakit yang teramat luar biasa. Pintu geser itu ingin dia buka kembali, tetapi sepertinya di kunci dari dalam.


"Bibi! ... Bi! Nabila janji, Nabila akan coba bantu, tolong jangan seperti ini, Bi. Nabila masih ingin melihat Paman. Bibi!"


Masih tidak ada sahutan dari dalam. Bibinya benar-benar bersikukuh untuk tidak membukakan pintu untuknya. Apa yang harus dia lakukan. Nabila sangat ingin membantu. Namun, bagaimana caranya dia bisa menjelaskan semua ini kepada suaminya. Apa Nabila pinjaman ke orang lain saja, tetapi itu lebih mustahil.

__ADS_1


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan!" lirih Nabila dengan mata berkaca-kaca.


....


Nabila turun dari mobil ketika Durant membukakan pintu untuknya. Rumah sakit yang merawat pamannya memang berbeda dengan rumah sakit yang merawat Ezra. Butuh waktu 30 menit untuk sampai di sana. Dia melirik jari telunjuk dan juga jari tengahnya yang memar. Bagaimana dia akan bekerja jika seperti ini keadaannya. Dia sudah terlalu sering libur, dan itu pasti akan menyebabkan kecemburuan sosial dalam perusahaan tempatnya bekerja.


"Nyonya, Bos!" panggil Durant. "Nyonya!


"Akh, kenapa?" tanya Nabila sedikit terkejut.


"Bos tadi menelpon saya. Beliau bertanya, kenapa Nyonya Bos tidak mengangkat telponnya?"


Nabila terkesiap, dia mengaduk isi tas yang dia bawa, tidak ada ponselnya di sana. Kemana larinya ponsel itu. Apa mungkin dia melupakannya. "Astaghfirullah ... sepertinya tertinggal di ruangan Ezra, Durant! Apa dia marah?" tanya Nabila dengan wajah paniknya.


"Sepertinya begitu, Nyonya!"

__ADS_1


__ADS_2