
Nabila mengembuskan napas panjang untuk yang kesekian kali. Segala cara sudah dia lakukan untuk meredam emosinya. Bahkan, bekerja sampai rasanya hampir pingsan pun dia lakukan demi menghilangkan segala kegelisahan yang melanda hatinya. Nabila bingung, meskipun dia sudah mencoba untuk melupakan apa yang dia dengar, dia masih mengharapkan Bara untuk menghubunginya dan mengatakan jika semuanya hanya salah paham. Namun, sampai jam di meja kerjanya menunjukkan pukul 20: 15 pun, Bara masih belum menghubunginya.
"Assalamualaikum! .... Iya, saya akan pulang sekarang, Mbak. Maafkan saya!" ujar Nabila. Dia menutup panggilan teleponnya kemudian keluar dari ruangan yang sebenarnya sudah sangat sepi. Ada beberapa karyawan yang masih tinggal, namun di lantai berapa Nabila tidak terlalu yakin. Penjaga di perusahaan itu pun sangat banyak, Nabila tidak harus mengkhawatirkan apa pun.
"Ya Allah, Nak! Maafkan mama, Sayang!" gumam Nabila. Tangannya bergetar saat dia menekan starter mobil yang sekarang sudah melesat membelah keramaian kota. Beruntung lah dia karena saat ini jalanan tidak terlalu padat. Jika sampai Nabila terhadang macet, entah apa yang akan terjadi.
Nabila sampai di apartemennya dan langsung menuju kamar sang anak, wajah cantiknya menunjukan kepanikan yang luar biasa. "Mbak!" panggil Nabila. "Ezra kenapa?" tanya Nabila seraya duduk di tepian ranjang kemudian menyentuh kening sang anak pelan.
"Astaghfirullah ...!"
"Abis makan, Ezra masih baik-baik aja, Bu! Entah kenapa dia tiba-tiba demam. Saya sangat khawatir. Mangkanya saya langsung telpon Ibu!"
Nabila menggelengkan kepalanya. Dia mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuh sang anak. "39° lebih lho ini, Mbak," gumam Nabila. "Kita bawa dia ke UGD saja, Mbak. Kok saya khawatir. Ezra biasanya gak kayak gini. Tolong bawakan selimut tipis, Mbak. Sama surat cek up nya yang ada di laci ... akh, gini aja. Mbak tolong bawa Ezra, saya ambil surat-suratnya dulu, saya janji, sebelum Mbak sampai di bawah, saya akan menyusul kalian. Tolong, Mbak!"
Marlina mengangguk. Perawat Ezra yang tadinya bekerja tanpa menginap kini memang harus menjaga Ezra full time, ya selama Nabila dan suaminya bekerja, awalnya Marlina tidak ingin seperti itu. Namun, karena dia sangat membutuhkan uang, Marlina pada akhirnya mau mengambil pekerjaan yang Nabila tawarkan.
__ADS_1
"Ini dia!" ucap Nabila setelah mengobrak-abrik isi laci yang ada di lemari anaknya. Nabila langsung mengambil selimut dan berlari keluar dari apartemennya.
"Akhhhh!" pekik Nabila yang hampir terjatuh. Kakinya keseleo yang mana itu membuat kakinya teramat sangat sakit. Nabila menitikkan air mata, namun buru-buru dia seka. Tanpa memperdulikan kakinya yang sangat ngilu, Nabila kembali berlari meski harus terpincang-pincang. "Masuk Mbak!" ucap Nabila mambukakan pintu untuk Marlina dan juga anaknya.
"Mbak ... gejalanya seperti apa? Kenapa Mbak gak nelpon saya dari tadi?"
Marlina tiba-tiba terisak. Dia sangat takut jika Ezra kenapa-napa karena dia yang tidak becus menjaga anak kecil dalam dekapannya.
"Ya sudah, Mbak gak usah nangis, ini sudah takdir dari Allah. Saya hanya butuh keterangan Mbak saja supaya nanti mudah untuk saya menjelaskan pada dokter!"
Marlina mengangguk, air matanya masih mengalir meskipun dia sudah tidak terisak lagi. "Sore ini, Ezra memang tidak seperti biasanya, Buk. Dia kayak kurang semangat gitu, tapi masih kuat main, cuma gak seheboh biasanya. Saya kasih makan juga mau, setelah isya, Ezra bilang mau bobo. Saya kelonin juga, saya bacain dongeng, Ezra masih tersenyum. Badannya juga masih belum panas. Satu jam setelah itu, saat saya memeriksanya lagi, Ezra sudah panas seperti ini, Ezra menggigil."
"Astagfirullah, Bu ... maafkan, saya! Saya harus pulang, Ibu saya keracunan makanan. Ya Allah, gimana dong Bu?" Marlina terlihat semakin panik, dia bingung harus melakukan apa. Di sisi lain Nabila dan Ezra sedang membutuhkannya. Namun, di sisi lain sang ibu juga jauh lebih penting untuk Marlina.
"Astaghfirullah ... ya sudah, berikan tas dan surat-surat itu pada saya! Kamu pesen taksi, sekalian telpon Durant! Minta dia untuk datang ke rumah kamu biar nanti dia yang bantu. Maafkan say, Mbak."
__ADS_1
Marlina menggelengkan kepalanya. Jelas-jelas dia yang harusnya meminta maaf, kenapa jadi majikannya yang meminta maaf padanya. "Terima kasih, Bu!"
Nabila hanya mengangguk, dia berlari kembali, masuk ke UGD untuk memeriksakan kondisi anaknya. Namun, saat hendak memasukan Ezra ke UGD, semua barangnya malah terjatuh. Untuk kesekian kalinya Nabila beristighfar. Dia tidak memperdulikan tas dan yang lain. Toh itu masih di dekat pintu UGD.
"Dok, tolong anak saya!" mohon Nabila pada dokter jaga di UGD tersebut. Nabila menjelaskan kronologi yang tadi dikatakan oleh Marlina. Barulah setelah itu dia keluar untuk mengambil surat-surat, riwayat kesehatan sang anak. Semuanya masih sama, berserakan. Bahkan Nabila bisa melihat beberapa orang yang menginjak ponselnya. Seraya menyeret kaki kirinya, Nabila menunduk, mengambil barang yang tadi dia jatuhkan kemudian kembali masuk ke UGD untuk menyerahkan apa yang dokter minta.
"Begini saja, Bu. Jika Ibu terlalu khawatir, sebaiknya kita melakukan pemeriksaan secara menyeluruh!" saran dokter jaga di UGD tersebut. "Tapi, karena dokter spesialis baru akan masuk besok pagi, kita evaluasi demamnya dulu ya Bu!" Nabila hanya mengangguk, dia menatap anak kecil yang terbaring tak berdaya itu dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan mama, Sayang. Maafkan, mama!" Nabila mengusap bulir bening yang menyeruak melewati kelopak matanya. Dia benar-benar merasa sangat bersalah. Karena kegelisahan yang dia rasakan, dia sampai mengabaikan Ezra. Menyibukkan diri dengan bertumpuk pekerjaan ternyata malah membuatnya menjadi sosok ibu yang tidak becus mengurus anaknya sendiri.
....
Wanita itu duduk tertunduk di samping ranjang sang anak. Hatinya hancur saat tahu, jika dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sampai kapan dia harus menunggu seperti ini. Ezra sudah diberikan obat, akan tetapi dia masih terlelap. Bocah itu mungkin hanya menerima efek obat yang dokter berikan, akan tetapi, Nabila benar-benar sangat gelisah. Dadanya sesak luar bisa. Tangan itu masih terus menggenggam tangan mungil Ezra seraya mengecupinya berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Nabila menoleh saat pintu ruang rawat itu terbuka. Bibirnya tersenyum, senyum sinis dengan mata sayu yang menatap tajam laki-laki di depannya.
"Apa yang kau lakukan di sini, PAK, BARA!" ketus Nabila seolah ingin menekankan jika Bara tidak seharusnya berada di sana.
__ADS_1
"Sayang!"
"Stop! I'm beats, Pak!"