
"Apa kau mau menikahinya?" tanya seseorang kepada orang yang lain namun dengan mata yang fokus menatap ke arah luar kaca mobilnya. Tangannya tidak berhenti menggosok dagunya merasa geram melihat tingkah 'seorang ibu' yang mau menjual anaknya demi kebahagiaan anak yang lain.
"Saya akan menerima apa pun perintah Anda, Boss!"
Seorang wanita di jok depan tersenyum sambil menunduk. Apa yang Bara berikan kepada orang-orang ini sampai semua bawahannya manut. Dia bisa mengerti jika masih dalam lingkup pekerjaan. Namun, jika sudah menyangkut masalah pribadi dan mereka masih tunduk. Jessica benar-benar tidak memahaminya.
"Saya tidak bertanya sebagai boss kamu! Tapi sebagai temanmu! Jika yang dikatakan Jessica benar, kau harus menolong wanita ini! Saya rasa kamu lebih paham dari saya!" sindir Bara menarik ujung bibirnya.
"Saya tetap menganggap ini sebagai perintah, Boss! Tapi saya menerimanya karena saya juga memiliki ketertarikan kepada wanita itu!" jawab dia lantang.
"Kau mengenalnya? Maksud saya, pengasuh anak saya?"
Laki-laki itu mengangguk. "Saya pernah bertemu dengannya satu kali."
Bara ikut mengangguk-anggukan kepalanya. Dia membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Dua wanita yang masih terdiam itu mengalihkan perhatian. Marlina membulatkan mata dan langsung membungkuk ke arah Bara. "Tuan!" sapanya. Marlina tentu sangat terkejut. Buru-buru dia mengusap air matanya karena malu dan merasa tidak berhak untuk memperlihatkan kondisinya yang seperti ini.
Bara tidak mengindahkan itu. Dia memilih untuk berhadapan dengan wanita yang sudah tidak muda lagi di depannya. "Saya mau melamar anak Ibu untuk teman saya! Jika Ibu memiliki hutang, saya yang akan melunasinya. Kapan Ibu menginginkan pernikahan? Berapa yang harus saya bayar agar Ibu mau melepaskan wanita ini! Dia ...!" Bara melirik Marlina tapi tidak melanjutkan kalimatnya.
Dari kejauhan, Nabila yang sejak tadi khawatir pada Marlina sedikit berlari. Senyum di bibirnya melebar saat melihat suaminya ada di sana. Namun, sesaat setelah mendekat, senyum itu sirna. Tergantikan dengan tirai kekecewaan. Wanita yang sering dia cemburui tengah berdiri dengan apik di samping suaminya. Dia masih mendekat tapi tidak berani untuk mengikis jarak. Tangan kanannya terangkat saat mendengar langkah kaki bodyguardnya seolah meminta mereka untuk diam di tempat.
__ADS_1
Jessica tersenyum setelah menerjemahkan apa yang Bara katakan. Wanita paruh baya di depannya melongo, begitupun dengan Marlina. Wanita itu menatap heran Bara. Siapa yang dia maksud dengan teman, Durant? Tidak mungkin. Anak buah Bara yang satu itu terlalu menyebalkan.
"Diterima atau tidak?" tanya Bara lagi.
"Berapa yang kau janjikan!"
Ah, Bara tidak bisa berkata-kata. Seharusnya orang ini menanyakan siapa orang yang ingin menikahi putrinya. Orang seperti apa dia dan bagaimana perangainya. Hati ibu Marlina ini sudah tertutup awan gelap karena uang dan status. Dia melirik Marlina sekilas merasa kasihan pada wanita itu. Selama ini dia tahu bagaimana Marlina yang selalu tulus dengan pekerjaannya. Sekalipun dia hanya pengasuh, dia memperlakukan Ezra dengan baik. Tapi, kenapa dia tidak beruntung karena memiliki keluarga seperti ini.
"Saya yang akan menikah dengannya, Bu! Biarkan saya yang membayar hutang-hutang Ibu dan membiayai kuliah adiknya, Marlina!"
"Max!" gumam Nabila dengan kening mengkerut. Dia memejamkan mata mendengar dan melihat semua yang terjadi. Apa yang sedang orang-orang ini lakukan. Membeli wanita untuk melepaskannya dari perbudakan, atau justru ....
"Apa Anda baik-baik saja Nyonya Boss? Kita pergi ke dokter sekarang!"
"Tidak, Durant! Saya baik-baik saja!" gumam Nabila dia berbalik untuk kembali menemui anaknya. Namun, tiba-tiba pandangan matanya kabur dan ....
Bruk!
"Panggil dokter istri saya ke IGD, Durant!" titah Bara. Inilah yang Bara takutkan, bukan dia ingin mengurung istrinya atau membuatnya terjauh dari dunia luar. Bara hanya tidak ingin istrinya kenapa-napa. Untuk sekarang Nabila beruntung karena dia berada di dekat rumah sakit. Jika tidak? ....
__ADS_1
"Baringkan saja si sana!" kata dokter Fathan dengan wajah paniknya. Bara menurut meskipun dia tidak menyukai dokter laki-laki itu.
"Istri saya sedang hamil!" kata Bara menjelaskan.
Fathan terdiam untuk beberapa saat tetapi tidak lama karena setelannya dia langsung memeriksa Nabila sambil menunggu kehadiran dokter yang Bara maksud.
"Mama Ezla kenapa Om Bala? Mama sakit?" tanya Ezra dengan linangan air mata. Mereka yang menunggu di luar IGD mendadak sangat khawatir.
Durant berjongkok, dia memeluk Ezra, berusaha untuk menenangkan bocah itu. Namun, Ezra malah menangis semakin menjadi. "Mama Ezla olang baik, Om. Mama gak boleh sakit, kasian Mama, Om! Bial Ezla aja yang sakit. Ezla kuat kok Om! Ezla gak papa sakit juga, asal Mama sehat, Ezla mau gantiin Mama!"
Marlina memalingkan wajahnya mendengar apa yang keluar dari mulut bocah berumur 5 tahun di depannya. Bahunya bergetar hebat. Anak ini, seharusnya hubungan antara ibu dan anak seperti ini. Marlina sangat tahu jika Nabila siap melakukan apa pun demi anaknya, begitu pun sebaliknya. Kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan. Hanya dia yang selalu merasa ada di posisi Ezra. Sedangkan ibunya. Mungkin dia sebenarnya keluar dari celah batu, ini alasan yang paling masuk akal yang bisa dia pikirkan.
Max menarik bahu Marlina, menempelkan kening wanita itu di depan dadanya. Dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya berdiri seperti itu. Bahkan tidak ada usaha darinya untuk menenangkan wanita itu.
"Ezra!" panggil Nana menarik Ezra dari pelukan Durant. "Mama Nabila akan baik-baik aja! Ayah akan menyembuhkannya. Kau tidak boleh menangis!" Nana mengusap bulir bening yang terus mengalir dari mata mungil sahabatnya. Dia mengambil kain kecil dari dalam tasnya untuk memencet hidung Ezra yang mengeluarkan ingus.
"Sudah! Mama Nabila tidak apa-apa, Ezra!" ujar Nana memeluk Ezra seraya mengusap punggungnya lembut.
Durant tersenyum. Dia berdiri kemudian menoleh ke arah pintu IGD dengan wajah sendu. "Kau akan baik-baik saja, Nyonya!"
__ADS_1