Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
81. Lebih Baik Tidak Tahu


__ADS_3

Nabila mengembuskan napas lega. Akhirnya dia bisa membujuk Bara untuk menghentikan aksi penyiksaan yang dia lakukan pada Maurin dan Fino. Mereka berdua memang salah, tapi Bara juga tidak berhak menghakimi sesama seperti ini.


"Semuanya sudah siap, Boss! Bukti, saksi, dan kaki tangan mereka sudah kami kumpulkan!" kata Max menginfokan. Bara sebenarnya masih belum puas. Setelah mengintrogasi mereka, Bara mungkin akan menyerahkan orang-orang itu pada kepolisian. Namun, tentu saja tidak semudah itu. Jika pun mereka mendekam di penjara, tidak ada celah bagi mereka untuk bisa keluar dengan mudah. Bara tentu akan menyiapkan seseorang untuk mengawasi Fino dan Maurin.


"Jika ada hal yang bisa memberatkan hukuman mereka, jangan simpan apa pun!"


"Baik, Boss!"


Max membungkuk ke arah mobil yang ditumpangi Tuannya. Sekarang semuanya sudah selesai. Tidak, mungkin ini baru awal. Max tahu, Bara bukan orang biasa. Musuh mungkin akan terus berdatangan dari sisi yang tidak diduga-duga. Sama halnya dengan Fino dan Maurin. Sejak awal Bara sudah mengetahui niat busuk Fino, hanya saja, Bara tidak ingin menyergapnya tanpa bukti. Sengaja membuat Fino berbuat semakin jauh agar hukuman yang akan dia terima nantinya bisa lebih berat. Bukan tidak bisa membunuh. Mereka hanya tidak ingin.


....


"Bisa saya lihat dulu?" tanya Bara menyodorkan tangannya pada Nabila. Wanita cantik itu menatap amplop coklat yang ada di tangannya. Dia baru tahu kalau amplop itu ternyata kiriman dari Fino, pantas saja itu terkirim saat Bara sedang tidak ada di rumah, mungkin Fino memang sudah sangat mengetahui jadwal suaminya.


Tangan itu terulur. Nabila pasrah dan memberikan amplop coklat itu tanpa ada keraguan dalam hatinya. Nabila tidak berusaha untuk mengintip isi surat tersebut. Dia malah melipir, keluar dari kamar membiarkan suaminya membaca surat itu dengan tenang.

__ADS_1


"Nabila, pertama, aku ingin meminta maaf karena aku menyukaimu. Kedua, aku ingin mengatakan jika kau adalah wanita yang baik. Kau pantas mendapatkan suami yang baik. Bukan aku bermaksud untuk menjelekan suamimu. Jika dia tidak bisa membahagiakan mu. Aku akan menunggumu, Nabila. Kau pantas bahagia. Bara, dia bukan orang baik. Dia adalah seseorang yang bisa membunuhmu kapan saja saat dia sudah tidak menginginkan mu! Aku akan pergi ke suatu tempat. Cari aku jika kau membutuhkan bantuan!"


Bara tersenyum sinis. Dia mengambil beberapa foto yang memperlihatkan dirinya juga orang-orangnya yang sedang menyiksa orang lain. Di sana juga ada foto dirinya saat bersama dengan Jessica. Haruskah Bara tertawa. Kedua bajingan ini berniat untuk menghasut istrinya 'kan? Dengan membuatnya terlihat buruk di mata sang istri. Bahkan, yang membuat Bara ingin mengumpat, satu foto terlihat sangat sensitif diaman saat itu Jessica sedang menunduk seperti sedang melakukan sesuatu padahal itu hanya ketidaksengajaan.


"Bajingan ini!" gumam Bara dengan suara tawa renyah. Dia memasukan kembali semuanya ke dalam amplop coklat. Kepalanya menoleh begitu mendengar pintu kamar terbuka.


"Ambilah!" ujar Bara menyodorkan amplop itu lagi. Dia menatap mata istrinya, mengangguk untuk meyakinkan istrinya bahwa dia boleh mengambil amplop itu lagi. Senyum itu kembali, senyum kekecewaan yang tidak pernah muncul sebelumnya. Awalnya Bara pikir Nabila akan berubah pikiran. Sejak awal, wanita itu sudah melukai hatinya saat dia lebih mempercayai Maurin daripada dia. Dan sekarang, wanita itu kembali melakukan hal yang sama. Dia mengambil amplop itu padahal dia sudah tahu jika pengirimannya adalah orang yang hampir menghancurkan perusahaan suaminya sendiri.


Bruk!


Bara berbalik, keningnya mengkerut ketika sepasang matanya melihat Nabila menjatuhkan amplop coklat itu kedalam tong sampah. Laki-laki itu bergeming. Tidak tahu harus bersiap seperti apa setelah melihat semua itu.


Nabila pun tersenyum. Senyum termanis yang bisa dia berikan. Langkah kaki itu membawanya sampai di depan sang suami.


"Aku mencintaimu, Mas!"

__ADS_1


Satu kalimat yang mampu membuat hati seorang Bara terenyuh. Tangan besarnya menangkup wajah sang istri, meraup bibir istrinya dengan gerakan yang semakin lama semakin melambat dan semakin melembut. Deru napasnya terdengar sangat jelas. Dia tersenyum di sela-sela ciuman yang dia lakukan meskipun dia tahu ini akan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak lagi malam ini.


"Aku mencintaimu, Nabila! Sangat!" ucap Bara memeluk istrinya. Membawa sang istri kedalam dekapan hangat yang tidak akan mereka dapatkan dari siapa pun.


....


"Morning!" kata Bara mengusap kepala istrinya lembut. Dia menunduk, memberikan kecupan kepada istrinya dengan kecupan yang selalu dia berikan setiap harinya. Nabila memutar bola mata, dia jelas tahu ini sudah tidak pagi karena, seingatnya dia tidur sebelum dzuhur.


"Kenapa Mas udah pulang? Masalahnya sudah selesai?" tanya Nabila merentangkan tangannya meminta sang suami untuk membantunya duduk.


"Ini sudah jam makan siang mu! Saya harus memastikan jika istri dan anak-anak saya makan dengan baik."


Nabila dibuat tersenyum dalam dekapan suaminya. "Aku mau wudhu dulu, Mas!" jawabnya. "Gendong!"


"Apa pun untuk mu, Honey!" kata Bara memangku istri cantiknya dan membawanya masuk ke kamar mandi. Nabila mengeratkan dekapannya pada leher sang suami. Dia bermaksud ingin turun, tapi telinganya mendengar sesuatu dari luar.

__ADS_1


"Kita ada tamu?" tanya Nabila mendorong bahu suaminya. Menatap suaminya itu penuh selidik.


"Hmmm ... kita memang kedatangan tamu. Ada yang ingin bertemu denganmu, Sayang!"


__ADS_2