
Nabila mengerejapkan matanya saat merasakan seseorang menggenggam juga mengecup jemarinya dengan kecupan yang sangat hangat. Dia menatap orang yang kini sedang menunduk seraya menggenggam tangannya dengan senyuman. Namun, saat orang itu menyadari jika dia sudah bangun, buru-buru Nabila menghapus senyum itu.
"Kau sudah sadar?" tanya Bara yang langsung berdiri untuk mengecup kening istrinya. Nabila bergeming, dia memalingkan wajahnya, enggan untuk melihat wajah sang suami.
"Kau marah, karena saya mengusir mu?" tanya Bara lagi. Nabila masih bergeming. "Dengarkan saya! Saya terpaksa melakukan itu, situsnya tidak memungkinkan untuk kau berada di sana."
Nabila masih diam, bukan tidak tertarik pada kata-kata suaminya, akan tetapi, dia sedang berusaha mencerna apa yang suaminya itu bicarakan. Situasi yang tidak mendukung. Mungkinkah saat itu ada orang lain di kamar suaminya. Dia ingin melindunginya? Dengan mengusirnya seperti itu?
"Honey! Saya janji, saya tidak akan membiarkan orang itu hidup. Siapa pun yang berani menyentuh mu, saya akan menghabisi mereka semua!"
Deg!
Kali ini Nabila berbalik, dia langsung bergerak untuk duduk, meskipun hampir terjengkang lagi karena kepalanya yang pusing, Nabila tetap melakukannya. Dia menatap Bara dengan tatapan tidak percaya. "Apa ini berhubungan dengan masa lalu mu, Mas?" Bara menggelengkan kepalanya. "Mas dengerin aku ... jangan menghakimi orang lain dengan cara seperti ini. Jika memang pelakunya tertangkap, Mas serahkan saja mereka pada pihak yang berwajib. Jangan kotori tangan, Mas! Aku gak suka!"
"Tapi kamu hampir mati," geram Bara. "Apa aku harus diam saja? Anggaplah kamu beruntung kerena kamu masih hidup. Kalau kamu mati gimana? Apa aku juga harus diam? Gak bisa Bila. Mereka itu iblis. Mata di balas mata, gigi di balas gigi! Apa yang salah dengan itu!"
Kedua mata Nabila terpejam melihat kemarahan suaminya. Nabila cukup mengerti kenapa sang suami bersikap seperti ini. Namun, banyak hal yang tidak semuanya harus kita selesaikan dengan kekerasan.
"Mas Bara!" panggil Nabila lembut. Dia menarik tangan suaminya, kemudian memeluk suaminya itu. Bibirnya menyunggingkan senyum karena Bara tidak menolak pelukannya. "Apa pun yang Mas lakukan, jangan pernah membunuh orang. Jika terdesak, cukup buat mereka kalah, jangan sampai mereka mati. Kita punya Allah, Mas! Biarkan Allah yang menghukum mereka. Aku gak mau Allah marah sama Mas Bara!"
Helaan napas terdengar dari mulut laki-laki itu. Dia yang pada awalnya tidak ingin membalas pelukan Nabila, pada akhirnya luluh dan ikut mendekap tubuh itu. Tak lama setelahnya, Bara melepaskan Nabila dari dekapannya kemudian ikut duduk di tepian ranjang.
__ADS_1
"Jangan pernah terluka lagi, Sayang! Mulai sekarang, jika kita sedang bersama, jangan sampai kau menghilang dari pandangan ku! Apa kau mengerti?"
Nabila hanya mengangguk, dia bergeser untuk memeluk suaminya lagi. Meraba setiap jengkal tubuh sang suami kemudian mendongak, tidak ada luka. Syukurlah jika suaminya itu baik-baik saja. "Mas!"
"Hmmm!"
"Bila sayang sama Mas Bara! Mas gak boleh kenapa-napa. Jangan tinggalin Bila seperti orang-orang yang Bila sayang. Mas harus bisa menjaga diri baik-baik!"
Bara tersenyum, dia mengangguk, mengecup kepala istrinya berkali-kali. Dia sangat bersyukur karena Nabila sudah tidak segan untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, dibandingkan dengan cinta dan kasih sayang yang Nabila miliki untuknya, dia lebih mencintai wanita ini. Jangan salahkan Bara jika dia kembali mengotori tangannya. Orang yang sudah berani menyentuh apa pun yang dia miliki, tidak pantas untuk mendapatkan kehidupan yang baik.
...----------------...
Mobil hitam mengkilap itu berhenti di sebuah pertambangan garam yang cukup luas. Bukan cukup, tapi sangat luas. Satu kolam es berisi air garam sudah tersedia. Lengkap dengan alat berat dan juga yang lainnya. Sepasang sepatu mewah dengan merek ternama keluar dari mobil tersebut. Dia berjalan mendekati kolam air es garam itu dengan wajah dinginnya.
"Sudah, Bos! Orang itu sudah kami ikat dan sudah siap untuk dicelupkan!"
"Cobalah!"
"Iya?" cengo Durant tidak mengerti.
"Masuk ke sana! Periksa apakah suhu airnya sudah pas!"
__ADS_1
Durant membungkuk, dia mengerti apa maksud dari perkataan Bara. Karena kesalahan yang dia buat sebelumnya, dia cukup beruntung jika Bara hanya menghukumnya dengan cara seperti ini. Bara tersenyum kecut, seseorang memberikan dia sebuah rokok di antara jemarinya, kemudian menyalakan pemantik untuk membakar rokok tersebut. Kepulan asap keluar dari mulut laki-laki itu. Bara tidak akan pernah memberikan kelonggaran pada siapa pun yang telah membuat istrinya menderita, sekalipun itu Durant sendiri, Bara tidak akan pernah melepaskannya.
Durant sudah kembali, dengan wajah pucat dan tubuh menggigil. Seluruh tubuhnya basah. Tidak ada yang terlewat. Bara tidak menyangka, dia keluar subuh-subuh begini hanya untuk melihat anak buahnya berendam.
"Celupkan mereka!" titah Bara pada anak buahnya!"
"Baik, Bos!"
"Bukan kau!" kata Bara pada Durant. "Saya menyuruh Max! Biarkan dia yang membereskan ini! Kau pergilah berganti pakaian! Saya harus kembali sebelum istri saya bangun!"
"Baik, Bos!"
"Max!"
"Siap, Bos!"
"Lakukan ini sampai mereka mau bicara! Jika tidak, terserah kau saja!"
"Baik, Bos!" ucap orang bersetelan hitam dengan sarung tangan yang memiliki warna senada dengan pakaian yang dia kenakan.
Senyum simpul tersungging di bibir Bara. Rasanya dia sangat puas ketika melihat orang-orang itu dicelupkan, di angkat, kemudian di celupkan lagi ke dalam kolam air menggunakan alat berat. Air yang mengandung garam 90% itu pasti akan sangat menyakitkan saat mengenai luka memar dan luka tembakan yang sebelumnya orang-orang itu dapatkan. Kepulan asap yang semakin lama semakin tebal, membuat senyum itu kembali hilang.
__ADS_1
"Bersembunyi dengan baik, Bajingan! Karena aku tidak akan pernah berbaik hati!"