Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 29. Salah Fokus


__ADS_3

"Sayang!" teriak Nabila di dalam apartment. Wanita cantik itu keluar dari kamarnya dengan senyum lebar. Nabila bermaksud untuk menemui Ezra, akan tetapi, malah dua laki-laki itu sudah berdiri di depannya dengan senyum aneh.


"Kenapa memanggil kami?" tanya Bara yang mana itu membuat Nabila kebingungan.


"Saya cuma manggil dia, Pak!" tunjuk nya pada bocah kecil di samping Bara.


Mendengar jawaban itu, kedua laki-laki tadi saling menatap dan meninggalkan Nabila begitu saja. Nabila yang merasa sangat heran mengikuti mereka dari belakang, dia memperhatikan Bara yang sedang menikmati kopi hitam tanpa gulanya, sedangkan Ezra sedang meminum susu hangat. Bukan itu yang menjadi perhatian Nabila, tapi cara dan gaya duduk mereka benar-benar sangat mirip. Kenapa dua orang ini malah terlihat seperti ayah dan anak sungguhan.


"Za! Mama berangkat sekarang, ya! Kamu berangkat sama Papa!" ucap Nabila menunduk mengecup pipi anak kesayangannya.


Bara tidak mau kalah, dia berdehem tapi tidak dihiraukan.


"Mama!" pekik Ezra membuat Nabila kembali.


"Ada yang lupa!" Ezra mengingatkan.


"Apa?" tanya Nabila masih tidak mengerti.


"Papa juga harus di cium dong, Ma. Beldosa tahu! Mama itu istlinya Papa, liat tu, Papa melajuk!"


Bara berdehem, dia bertingkah seolah-olah dia tidak perduli dan malah fokus pada layar tablet yang ada di depannya, padahal dia juga sangat ingin mendapatkan perlakuan hangat dari Nabila.


Nabila melirik kanan kiri, jika dia menolak permintaan Ezra, dia pasti akan terlambat ke kantor Bara. Nabila tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Bara berikan. Mau tidak mau Nabila menunduk meskipun dia sangat gugup. Marlina sedang sibuk di meja pantry mungkin tidak apa-apa kalau Nabila mengecup pipi suaminya sekilas.


"Ezra tutup mata dulu!" titah Nabila


Bocah itu menutup matanya dengan jemarinya yang dia renggangkan. Sementara laki-laki yang ada di samping Nabila sudah menahan senyum. Tepat ketika Nabila mendekatkan bibirnya, Bara menoleh hingga pada akhirnya bibir mereka bertemu. Tangan Bara menutup mata Ezra saat dia sedikit memperdalam apa yang dia lakukan. Hanya sebentar dan itu mampu membuat Nabila mematung. Bara tersenyum saat melihat Nabila melongo. "Pergilah! Jangan lupa baca do'a!" ingat Bara. Nabila hanya mengangguk, dia mengucapakan selam dan keluar dari apartemennya. Lagi-lagi Bara tersenyum, menggerakan bibir, menjilat dan mengigit bibir itu beberapa kali. Rasa manis yang Nabila tinggalkan membuat hatinya berbunga-bunga.


"Eissshhhhhh, Papa! Ezra gak bisa liat apa-apa."

__ADS_1


Bara yang baru tersadar langsung melepaskan tangannya dari mata Ezra. Dia menunduk kemudian mengecup pipi Ezra sekilas. "Terima kasih, Za!"


"For what?"


Bara menggelengkan kepalanya seraya mengacak rambut Ezra gemas. Sementara Marlina, dia hanya bisa menahan senyum dengan jantung yang hampir meledak. Oh sungguh, hubungan yang terjalin antara keluarga ini sangat rumit tapi membuat siapa saja yang melihatnya candu.


....


"Astaghfirullah! Aku kenapa lagi?" gerutu Nabila mengetukan keningnya pada setir mobil. Dia tidak mengerti kenapa dia selalu tunduk pada laki-laki itu. Nabila sudah sering meminta hatinya untuk tidak tersentuh. Kebaikan apa pun yang Bara berikan, hubungan mereka tak lebih dari sekedar hubungan di atas kertas yang mana sewaktu-waktu, Bara bisa saja meninggalkannya. Nabila berpikir jika Bara hanya membutuhkannya untuk masalah ranjang saja. Meskipun dia selalu bersikap lembut, itu tidak bisa menjamin apa pun.


"Bismillah, berhenti over thinking, Nabila. Sekarang tinggal bagaimana kamu saja. Tidak apa-apa jika Bara meninggalkan mu, yang penting, jalankan kewajiban mu sebagai seorang istri."


....


"Selamat pagi, Mbak!" sapa Nabila pada resepsionis yang ada di lobby perusahaan Cullen Grup. "Saya mau interview kerja. Boleh saya tahu ruangannya di mana?" tanya Nabila lagi. Wanita cantik itu tersenyum. Resepsionis juga ikut tersenyum ke arahnya.


"Akh, saya mau interview untuk posisi direktur pemasaran!"


Dua resepsionis itu saling menatap. Salah satu dari mereka berjalan mengitari meja. "Biar saya antar, Bu!"


"Baik Mbak, terima kasih!"


Saat masuk ke dalam lift, Nabila membungkuk ke arah orang yang ada di dalam lift tersebut. Seorang laki-laki yang perawakannya cukup tinggi untuk orang Asia. Sepertinya dia juga orang yang penting karena setelannya rapi dan dia juga seperti memiliki wibawa.


"Mau ke mana, Mbak?" tanya Fino pada resepsionis.


"Saya mau mengantar, Ibu ini ke tempat interview direktur, Pak Fino!"


Fino mengangguk, dia memencet lift agar berhenti di lantai tertentu. "Saya yang akan mengantarkannya. Mbak bisa kembali!" kata Fino. Resepsionis itu mengangguk kemudian keluar dari sana. Sedangkan Nabila, dia bergeser agak ke pojok sesaat setelah pintu lift tertutup.

__ADS_1


"Saya Fino!" ucapnya mengulurkan tangan. Nabila tersenyum, dia mengangguk dengan tangan yang dia satukan di depan dada.


"Saya Nabila, Pak!"


Fino tersenyum kecut, dia menarik kembali tangannya, memasukan tangan itu ke dalam saku celana.


"Sepertinya saya pernah melihatmu sebelumnya, apa kau memang sudah pernah bekerja di perusahaan ini?" tanya Fino.


Nabila kembali mengangguk. "Iya, Pak. 5 tahun yang lalu, saya memang karyawan di sini."


Fino mengangguk-anggukan kepalanya. Laki-laki itu mengulurkan tangan, mempersilakan Nabila untuk keluar duluan dari dalam lift.


"Bapak duluan saja! Tidak baik jika seorang perempuan berjalan di depan laki-laki!"


Lagi-lagi Fino hanya mengangguk, dia tidak merasa tersinggung dan malah menatap Nabila dengan tatapan kagum. Wanita ini sedikit berbeda dengan para wanita yang selama ini dia temui. Nabila sangat cantik, anggun, dan sangat menjaga marwahnya. Benar-benar luar biasa.


"Ini adalah ruangannya. Kau bisa menunggu bersama yang lain. Saat giliran mu tiba ... akh ...." Fino mengangguk saat mengingat sesuatu. "Saya rasa kamu sudah sangat mengerti."


"Terima kasih, Pak!" ucap Nabila tulus.


Fino meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, sebelum dia benar-benar pergi, dia kembali melirik Nabila. Bibirnya menyunggingkan senyum. Wanita cerdas yang sangat langka. Pikirannya.


Nabila mengembuskan napas panjang. Sesekali dia menghirup napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Wanita cantik itu terus berdzikir dan berdoa agar interview nya lancar. Walau bagaimanapun, dia sudah lama tidak menekuni bidang ini. Nabila menjadi sangat gugup.


Derap langkah kaki banyak orang di koridor tersebut membuat semua pelamar yang sedang menunggu berdiri, termasuk Nabila. Namun, saat dia berbalik, alangkah terkejutnya dia ketika melihat sang suami ada di barisan paling depan, lebih tepatnya ada di tengah-tengah, di apit para petinggi yang mungkin akan menjadi orang yang melakukan penilaian.


Tatapan mereka bertemu. Untuk kesekian kalinya, Nabila tidak bisa berkedip. Syukurlah, Bara hanya melewatinya tanpa mengatakan apa pun. Dia tidak ingin orang-orang di kantor itu berpikir jika Nabila masuk ke perusahaan karena dekengan. Bukan karena kemampuan yang dia miliki.


"Apa orang itu harus turun tangan langsung!" gumam Nabila dengan wajah dongkolnya.

__ADS_1


__ADS_2