Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
44. Melupakan Amarah


__ADS_3

Mobil hitam mewah itu melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sang pengemudi sama sekali tidak memperdulikan kendaraan yang ada di di sekitarnya. Tangan kirinya menarik dasi yang dia kenakan dengan sangat kencang. Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Dulu, saat dia melihat Eileria dengan Nathan, perasannya tidak sekacau ini. Memang ada perasaan marah dan ingin membunuh laki-laki itu. Akan tetapi, tidak sebesar dan sekuat saat ini. Wajah Fathan dan juga senyum istrinya, membuat Bara benar-benar sesak. Dia tidak bisa mengontrol emosinya. Perasaan ingin membunuh kembali muncul, tepat saat dia melihat interaksi yang dilakukan oleh Nabila dan dokter sialan itu.


"Arghhhhhh!" geram Bara memukul stir mobilnya beberapa kali. Laki-laki itu melirik ke jalanan dan kembali menginjak gas saat dirasa memiliki kesempatan. Mobil mewah itu berhenti di sebuah bangunan yang sangat sepi. Ya, terlalu sepi untuk bangunan besar. Untuk satu hal, Bara menyukai tindakan yang dilakukan oleh Durant. Asistennya itu benar-benar sangat cekatan dalam hal mengamankan situasi.


"Ruangan khusus, Anda sudah kami bersihkan, Tuan!" ucap seorang laki-laki berpakaian serba hitam saat membukakan pintu besar yang ada di lantai paling atas dibangunan tersebut.


"Jangan biarkan siapapun masuk!"


"Baik, Tuan!"


....


"Maaf untuk ketidaknyamanannya, Dokter! Mungkin suami saya salah paham."


Fathan menggelengkan kepalanya. "Ini bukan hal baru, Mbak. Sebaiknya kalian pulang dulu! Saya juga harus membawa Nana pulang!"


Nabila mengangguk mengerti. Dia menarik Ezra, meminta bocah itu untuk masuk ke dalam mobil. Banyak hal aneh yang berkecamuk di dalam pikirannya, Nabila tidak tahu kenapa dia malah menyesal setelah membentak suaminya meskipun dia tahu kalau suaminya itu memang sudah melakukan kesalahan.


"Aku pulang ya, Na!" kata Ezra melambaikan tangan kepada teman barunya.


"Hmmm ... hati-hati. Besok kita ketemu lagi!" pekik Nana antusias. Nabila membungkuk ke arah Nana dan ayah bocah itu. Di tersenyum meski dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Ayah baik-baik saja?" tanya Nana pada sang ayah. Fathan tersenyum. Dia berjongkok di depan Nana kemudian mengusap wajah anak kecil itu dengan usapan yang sangat lembut. Dia yakin, Nana tadi melihat semuanya. "Nana ... Nana tahu 'kan kalau ini hanya salah paham? Kami tidak benar-benar serius saat melakukan itu. Hanya tidak sengaja, Sayang!"


Nana mengangguk. Dia memeluk Fathan. Dekapan itu sangat erat, tangan mungilnya mengusap kepala Fathan dengan usapan yang sangat lembut. "Papa yang sabar ya ... Tante Bila sudah punya suami, Papa cari Tante yang lain aja, tapi cari yang seperti Tante Bila!"


"What?" Fathan terbengong, dia menatap mata sang anak dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksud Nana? Kanapa Nana bilang kayak gitu, Hmm?"


Nana hanya tersenyum. Dia berjalan mendekati mobil ayahnya dan meminta sang ayah untuk membukakan pintu mobil untuknya. "Nana bukan anak kecil, Ayah!"


"Hah?" ....

__ADS_1


....


Nabila terus bergerak gelisah di dalam kamarnya. Sudah dua jam sejak suaminya itu pergi, tapi saat menanyakan keadaan suaminya kepada Durant, laki-laki itu selalu mengatakan jika Bara sedang memenangkan diri. Nabila tidak tahu, maksud dari menenangkan diri yang dikatakan oleh Durant seperti apa. Ini juga sudah hampir jam makan siang, bukan, sebenarnya sudah pas jika memang ingin makan siang.


"Astaghfirullah ... kenapa aku sangat khawatir!" gumam Nabila. Rasa bersalah itu semakin lama semakin besar. Seharusnya dia tau kalau suaminya ini emang memiliki temperamen yang kurang baik. Belajar sabar pun seperti masih sangat baru. Kenapa dia harus begitu marah. Bara itu mungkin memang sudah sangat dewasa. Sudah pantas untuk menjadi seorang ayah. Namun, untuk hal lain, Bara itu masih seperti seorang balita yang tidak tahu apa-apa.


"Mbak!" panggil Nabila pada pengasuh sang anak.


"Kenapa, Bu?"


"Saya titip Ezra sebentar ya! Saya harus mencari suami saya!"


"Baik, Bu! Ezra juga baru tidur!"


Nabila tersenyum, dia mengambil ponsel dan juga kunci mobil milik suaminya kemudian segera bergegas.


"Bu!"


"Makan ini!" ucap Marlina. "Jangan sampai sakit lagi!" katanya seraya tersenyum.


Nabila mengangguk, dia mengambil buah apel yang disodorkan Marlina kemudian keluar dari apartemen itu.


Tok! Tok! Tok!


Klik. Pintu apartemen terbuka.


"Bosmu di mana?" tanya Nabila pada Durant.


"Bos sedang tidak bisa diganggu, Nyonya!"


"Saya tahu, tapi saya khawatir, Durant! Sekarang beritahu saya dimana suami saya! Atau kita benar-benar akan menyesal. Saya harus meluruskan sesuatu. Ayolah, tolong saya, Durant!"

__ADS_1


Durant berpikir untuk beberapa saat, benar apa yang dikatakan oleh Nabila, dia juga sangat khawatir jika Bara akan kembali seperti dulu. Bagaimana jika laki-laki brengsek itu kembali melampiaskan amarahnya pada perempuan. Ini tidak boleh terjadi.


"Biar saya antar!"


Nabila hanya mengangguk. Oh syukurlah, jikapun dia harus menyetir sendiri, Nabila takut jika dia tidak bisa fokus. "Ini tempat apa, Durant?" tanya Nabila setelah sampai di tempat tujuan. Bangunan pencakar langit itu agak menyeramkan untuknya. Iya, penjagaannya terlalu ketat. Durant tidak menjawab, dia hanya tersenyum yang mana itu membuat Nabila semakin penasaran.


"Silahkan ikut saya, Nyonya!" pinta Durant. Nabila pun masuk mengikuti Durant dari belakang. Dia berhenti saat melihat Durant sedang berbicara dengan seseorang. Matanya kembali melihat area sekitar, bangunan apa ini? Mungkinkah tempat orang-orang seperti Bara menenangkan diri, hampir terlihat seperti hotel akan tetapi nuansanya agak horor.


"Ini kamar, Bos Bara, Nyonya!" ucap Durant membukakan pintu itu dengan kunci yang memang diberikan oleh penjaga tempat yang sekarang Bara tempati. "Hati-hati! Bos bisa saja mencelakai mu, Nyonya!"


Nabila mengangguk, dia sebenarnya sangat gugup, akan tetapi Nabila benar-benar harus melihat kondisi suaminya sekarang juga. "Pergilah! Terima kasih, Durant!"


"Saya yang harusnya berterima kasih, Nyonya!"


Pintu itu tertutup otomatis saat Nabila masuk ke dalam ruangan itu. Lagi-lagi Nabila dibuat terperangah. Bagaimana mungkin hal seperti ini ada di dalam sebuah gedung? Interior yang didominasi warna hitam, kolam kecil yang cukup untuk berendam banyak orang, alat olahraga, juga sebuah ranjang yang lebih terlihat seperti sebuah gazebo ada di sana, hampir keseluruhan dinding terbuat dari kaca, Nabila seolah bisa lebih dekat ke dengan langit di kota itu.


Sura pukulan demi pukulan memenuhi gendang telinga Nabila membuat segala lamunannya lenyap seketika. Dia melihat jauh ke ujung ruangan tersebut, sang suami sedang memukuli samsak. Keringat sudah memenuhi punggung suaminya yang hanya tertutup sebagian kaos dalam yang suaminya kenakan. Dia tidak mengunakan sarung tinju, hanya saja buku-buku tangannya dibalut kain tipis berwarna putih.


"Assalamu'alaikum!" ucap Nabila. Wanita itu berdiri tepat di samping suaminya.


"Para bajingan itu. Saya sudah menyuruh mereka untuk tidak membukakan pintu untuk siapa pun!" geram Bara dengan wajah iblisnya. Pukulan demi pukulan yang dia lakukan semakin kuat, keringat besar bercucuran membasahi rambut, leher sampai ke dada bidangnya.


"Mas! Hentikan! Kau bisa terluka!"


Bara tidak mengindahkan apa yang Nabila katakan yang mana itu membuat Nabila kesal dan merebut samsak itu dan memeluk samsaknya. Hampir saja wajahnya akan menerima pukulan jika Bara tidak menghentikan pergerakan tangannya.


"Keluar, Nabila!" ketus Bara berbalik menjauhi istrinya.


"Tidak bisa!" jawab Nabila. Dia berdiri lagi di depan suaminya, menatap mata suaminya dengan tatapan memohon. "Jangan seperti ini, Mas! Aku minta maaf!"


Bara mengepalkan kedua tangannya, dengan luapan emosi itu, dia menangkup wajah istrinya, sedikit menekan tangan itu, mengabaikan Nabila yang sudah merasa kesakitan. Bukannya merasa iba, Bara seolah menambah siksaan untuk Nabila saat dia meraup bibir istrinya kasar. Nabila menitikkan air mata, perlakuan kasar ini membuat hatinya sakit, namun, dia lebih sakit saat melihat Bara menyiksa dirinya sendiri. Dia seperti terjerat benang merah yang entah sampai kapan akan terbentang diantara hubungan mereka berdua. Ini terlalu menyakitkan karena dia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Nabila!" gumam Bara menatap nyalang mata berkabut didepannya.


__ADS_2