
Bara hanya membukakan pintu tanpa mau mengucapkan apa pun. Dia membalas salam setelah itu berlalu pergi ke kamarnya. Nabila mengerutkan kening saat Bara berlalu begitu saja. Dia menghampiri Marlina merasa kurang nyaman karena sikap suaminya itu.
"Mbak. Pagi-pagi udah ke sini. Gimana kabar ibunya?" tanya Nabila. Dia memperhatikan Marlina dengan seksama. Ada yang salah dengan pengasuh anaknya itu. Kenapa dengan dia.
"Alhamdulillah baik, Bu. Saya gak enak sama Ibu kalau datang terlalu siang."
"Padahal gak papa. Kamu sakit, Mbak?" tanya Nabila. "Kenapa mata Mbaknya merah gitu? Kalau sakit nanti saya temenin ke dokter."
Marlina mengibaskan tangannya dengan cepat. Dia tersenyum seraya memalingkan wajah, tidak berani untuk menatap majikannya. Dia terlalu malu kalau sampai harus mengatakan semuanya. Keluarganya yang terlalu bobrok tidak bisa dia umbar kemanapun.
"Saya baik-baik aja, Bu. Tadi malam saya baru diputusin pacar saya," bohongnya dengan sangat terpaksa. Nabila tidak boleh tahu tentang apa yang dia alami.
"Ahhhh ... saya pikir kamu sakit, Mbak. Ya udah. Alhamdulillah kalau kamu putus sama pacar kamu. Gak baik nyari kebahagiaan dari kubangan dosa. Mudah-mudahan kamu cepat dapat jodoh yang baik ya, Mbak. Jangan takut, Allah tahu yang terbaik untuk Mbaknya!" ucap Nabila seraya memeluk Marlina. Wanita itu malah menangis sesenggukan saat Nabila mengusap punggungnya lembut. Usapan dan dekapan yang tidak pernah dia dapatkan dari ibunya dan malah dia dapatkan dari orang lain.
"Shutttt! Jangan sedih, Mbak. Insyaallah, kalau jodoh gak akan kemana," ucap Nabila menenangkan. Marlina hanya mengangguk. Dia tidak tahu harus mengucapkan apa kepada majikannya itu. Marlina terlalu sungkan bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih pun, Marlina terlalu malu.
....
"Loh, Mas Bara. Sudah mau berangkat?" kata Nabila ketika melihat suaminya sedang mengancingkan kemeja hitam dengan rambut masih berantakan. Sepertinya tadi suaminya langsung mandi.
__ADS_1
"Saya ada pertemuan pagi ini. Tidak bisa menunggumu. Nanti kamu berangkat bersama Durant tidak apa-apa?" tanya Bara. Kini, bukan hanya Marlina yang berbohong, akan Tetapi Bara juga. Dia merasa jika terlalu lama berada di samping istrinya akan membuat adik bungsunya semakin tersiksa. Dia menunduk, menatap Nabila yang kini sedang memakaikan dasi untuknya. Tangan itu masih sangat cekatan meskipun Bara tahu jika istrinya ini masih kepayahan.
"Aku gak papa, Mas! Mas ajak Durant saja! Aku bisa berangkat sendiri. Aman lah!" kata Nabila. Dia mendongak kemudian tersenyum. Nabila menarik dasi itu lalu mengecup bibir suaminya sekilas. Satu kali, dua kali, dan sampai yang ke tiga, Bara hanya mematung. Ketika Nabila masuk ke walk in closet pun, Bara masih tetap dalam posisinya. Dia menjil*at bibirnya merasakan hangat sentuhan yang rasanya masih menempel di bibir itu.
"Manis!" gumam Bara meraba bibirnya.
"Apa yang manis, Mas?" tanya Nabila menatap suaminya heran.
"Enggak ada!" jawab Bara seenaknya. Wanita itu hanya mengangguk. Tidak berniat untuk melanjutkan pertanyaannya. Suaminya ini semakin hari semakin aneh. Tingkahnya selalu tidak tertebak. Benar-benar menjadi PR untuknya.
....
Nabila terpaksa meninggalkan Ezra dan Marlina. Bara juga sudah mengatakan jika dia telah menambah pengawalan untuk Marlina dan Ezra. Tidak perlu ada yang Nabila khawatirkan. Suaminya jelas mampu melakukan hal ini. Ezra? Dia hanya meminta oleh-oleh seorang adik bayi yang lucu. Mungkin Ezra berpikir jika mereka sedang akan pergi liburan. Padahal mereka hanya ingin membicarakan bisnis sambil healing, barangkali akan ada ide-ide baru yang muncul setelah otak mereka di refresh.
"Ada apa?" tanya Nabila pada Bara yang masih merengut.
"Saya sudah bilang kamu harus ikut saya. Kita bisa naik kelas VIP, kenapa kamu malah mau ikut kelas ekonomi?"
Nabila menggelengkan kepalanya. "Kita sudah sepakat. Sebelum Mas Bara urus surat kepindahan, Mas dan surat nikah kita, hubungan ini belum boleh go publik!"
__ADS_1
Bara mendesah pelan. Bisa-bisanya dia diatur wanita ini. Padahal, selama ini dialah yang sering mengatur orang-orang di dekatnya. Bara tidak suka tapi dia juga mengerti kenapa Nabila sampai harus melakukan hal seperti ini.
"Pindahkan semua orang ke kelas bisnis, Durant!" pinta Bara saat melihat istrinya keluar dari apartemen seraya menarik koper berukuran sedang di tangannya.
"Baik, Bos!"
Durant tersenyum, dia benar-benar tidak menyangka jika Bara akan melakukan hal seperti ini. Demi ayang, dia rela kehilangan banyak uang. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Dan hanya Nabila yang bisa menaklukan singa liar jantan yang berkedok manusia.
Semua orang terlihat senang setelah mendapatkan kelas yang lebih baik di pesawat yang mereka tumpangi. Meskipun pada awalnya mereka cukup kesal karena penerbangan mereka harus ditunda beberapa jam, mereka merasa cukup puas setelahnya.
"Gila sih, Bos kita itu keren banget ya Bil. Karyawan yang ikut hampir 50 orang, dan Bos Bara kita memberikan kita pasilitas seperti ini!" celoteh Maurin di samping Nabila. Wanita itu hanya tersenyum, dia jelas sangat tahu kalau suaminya itu melakukan ini hanya karena dia yang tidak mau ikut bersamanya di kelas VIP.
"Udah ... nikmatin aja," ucap Nabila masih fokus pada layar laptopnya. Setelah pekerjaannya benar-benar selesai. Nabila menutup laptop itu kemudian bersiap untuk melakukan penerbangan setelah mendengar pemberitahuan.
"Bil ... Tuan Bara itu udah punya cewek, 'kan. Tapi kayaknya ceweknya jauh, aku liat kamu deket sama Tuan Bara. Boleh gak sih kamu comblangin aku sama dia!"
Uhukkk!
Nabila terbatuk beberapa kali saat mendengar apa yang sahabatnya katakan. Ada apa dengan Maurin. Dia sudah tahu Bara telah memiliki wanita, tetapi masih ingin mendekati Bara. Oh ayolah, bagaimana mungkin dia bisa mencomblangkan suaminya dengan wanita lain. Gila kali.
__ADS_1
"Ayolah, Bil! Please! Aku suka sama Tuan Bara. Kali ini aja, ya. Pak Fino udah ngebet sama kamu, nanti aku bantu comblangin kalian. Biarin aku sama Tuan Bara. Kamu gak suka sama dia 'kan?"