Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
89. Baik-baik saja


__ADS_3

Bulir bening menetes dari pelupuk mata cantik wanita itu. Rasa haru karena bahagia membuatnya tidak bisa untuk tidak menangis. Suara detak jantung bayi yang ada di dalam kandungannya membuatnya ingin menangis meraung. Ya Tuhan ... jadi seperti inilah rasanya ketika seorang ibu mendengarkan detak jantung janin untuk pertama kalinya.


"Itu benaran detak jantung anak saya, Dok?" tanya Bara dengan wajah bodohnya. Dia sejak tadi berdiri gelisah seraya mengusap brewok tipisnya. Entah hal baik apa yang pernah dia lakukan sampai dia bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini.


"Ini benar-benar anak Bapak, ketiganya insyaallah sehat. Suplemen dan obat penambah darah yang saya berikan jangan lupa diminum. Ini adalah masa-masa kritis untuk janin yang ada di dalam kandungan istri, Bapak! Awasi istrinya dengan baik, barangkali obat yang saya berikan beliau buang!" canda dokter wanita itu. Sebenarnya itu bukan candaan karena semenjak menjadi dokter kandungan, dokter tersebut sangat sering mendengar keluhan tentang masalah ini. Kebanyakan ibu hamil enggan untuk mengonsumsi suplemen dan tablet penambah darah karena merasa jika mereka baik-baik saja. Padahal, efek obat yang dia berikan bukan untuk masa sekarang, tetapi nanti, setelah menjelang persalinan, barulah para ibu hamil ini akan tahu jika apa yang sudah mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.


"Saya akan menjaga istri dan anak-anak saya dengan baik, Dok! Terima kasih!" ujar Bara dengan mata berkaca-kaca. Dia menatap istrinya dalam. Andai dia bisa bertemu Nabila lebih cepat, mungkin dia tidak akan menunggu moment seperti ini untuk waktu yang lama. Namun, bagaimana jika saat mereka bertemu lebih cepat, Nabila masih menjadi istri orang lain. Tidak, semua ini sudah Allah gariskan. Dia tidak boleh protes.


"Mas kenapa?" tanya Nabila karena melihat suaminya menggeleng-gelengkan kepala.


"Akh, tidak!" jawab Bara tersenyum ke arah istrinya. Dia bergumam mengucapakan kata terima kasih akan tetapi tidak dengan suara. Nabila hanya mengangguk. Dia juga sangat berterima kasih karena suaminya ini selalu sabar dan mau mengurusnya dengan sangat baik.


Senyum simpul tersungging di bibir Nabila. Wanita cantik itu menggenggam tangan suaminya ketika keluar dari ruang pemeriksaan. Wajahnya berseri-seri. Tentu, dia sangat bahagia karena suaminya selalu ada untuknya. Sesibuk apa pun laki-laki ini, dia tetap akan mengutamakan nya dibandingkan dengan urusan lain.


"Nabila!" ucap seseorang dengan senyum sinis di bibirnya. "Kau! Sedang hamil juga!" ucapnya.


Nabila bukan tidak berniat untuk menjawab. Namun, tawa mengejek yang Adel lakukan membuatnya enggan dan langsung menarik tangan suaminya untuk pergi dari saja. Adel tentu tidak langsung menyerah, dia hendak meraih tangan Nabila akan tetapi, Bara langsung menarik tangannya membuat Adel meringis kesakitan.


"Mas!" panggil Nabila. Dia menggelengkan kepala meminta Bara untuk melepaskan tangan wanita itu. Saat Bara melepaskannya, sebuah hand sanitizer Nabila semprotkan di tangan suaminya yang mana itu membuat harga diri seorang Adel terluka.


"Cih, wanita seperti mu mau memiliki anak. Akan jadi seperti apa anak kamu kelak. Satu saja sudah merepotkan banyak orang, bagaimana bisa kau ingin menambah anak. Aku tahu, kau sekarang sudah memiliki suami yang kaya. Tapi ... mau di cover dengan cara apa pun tidak akan membuatmu terlahir kembali menjadi wanita yang baik. Bagaimana jika anak mu kelak tahu kalau kamu adalah seorang pelakor yang sudah merebut suami orang. Mungkin dia tidak akan memiliki muka untuk bertemu dengan teman-temannya!"


Nabila melepaskan genggaman tangan suaminya. Wanita itu berjalan mendekat ke arah Adel kemudian menunduk melihat perut buncit wanita itu.


"Hamil di luar nikah, ya!" bisik Nabila yang seketika membuat Adel mematung. "Dengarkan saya, Adel! Baik buruknya seseorang, kau tidak berhak menilainya. Haruskah terlahir kembali untuk menjadi wanita yang baik? Sebaiknya pikirkan kehidupan mu sendiri! Berani mengusik kehidupan saya sekali lagi! Saya tidak akan segan-segan untuk mengambil semua yang kau miliki. Termasuk janin yang ada di dalam kandungan mu!" Nabila menarik wajahnya dengan senyum menyeringai. Dia merapikan kerudung yang dikenakan Adel agar kerudung itu bisa menutupi dadanya.

__ADS_1


"Sayang!" panggil seorang laki-laki yang berlari menghampiri Adel. Wanita yang semula berwajah masam itu tersenyum. Nabila benar-benar dibuat heran dengan tingkah Adel yang membuatnya sangat muak.


"Ayo, Honey!" ajak Bara menarik tangan istrinya. Sekali lagi Nabila menatap Adel dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Bibirnya memang tersenyum. Namun, ada ambisi di matanya.


"Kau kenal mereka?" tanya laki-laki itu.


Adel menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak kenal mereka. Aku hanya tidak sengaja berpapasan."


Laki-laki itu mengangguk kemudian mengajak istrinya untuk mengantri di poli kandungan.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Bara seraya memakaikan seat belt untuk istri cantiknya.


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Wanita itu sangat keterlaluan. Aku mendengar kabar jika dia sudah menikah dengan laki-laki kaya. Tapi ... tentu saja tidak sekaya Mas Bara!" ujar wanita itu dengan cengirannya.


"Kau sudah bisa membanggakan suami mu, hah?" keluh Bara. Baru kali ini dia merasa diakui karena istrinya yang terlihat sangat bangga atas apa yang dia miliki.


Bara mengangguk yakin. "Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Selama kau bahagia, saya tidak keberatan dengan apa pun!" ucapnya.


"Kalau begitu, aku mau seblak, Mas!"


"Seblak?" tanya Bara mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Ho'oh. Itu lho, jajanan anak muda, Bila mau ya. Please!" rengek Nabila memohon agar suaminya mengijinkan.


"Isinya apa?" tanya Bara menyelidik.

__ADS_1


"Eummm ... itu, sayuran sama jamur! Iya itu!" bohong Nabila. Jika suaminya tahu isinya hanya jenis-jenis kerupuk dan yang lain, Bara pasti tidak akan mengijinkannya.


"Baiklah! Kita beli sekarang!" ucap Bara.


Nabila bersorak heboh dalam hati. Dia tidak menyangka jika suaminya akan dengan cepat menyetujui apa yang dia inginkan.


....


"Mas!" panggil Nabila sambil menggoyangkan lengan suaminya. Di depannya sudah ada seblak yang tadi dia minta. Namun, dia belum berani makan karena suaminya itu masih merengut seperti bebek.


"Mas ikh ... Bila boleh makan ya! Ini yang mau anak-anak Mas Bara lho, kalau enggak di makan mana bisa tidur nanti malem. Dikit aja! Nyobain aja ya! Mas~~ suamiku yang paling tampan, Mas yang baik hati dan paling keren, boleh ya. Mas adalah suami dan ayah terbaik di dunia ini. Mas itu!"


"Ya sudah makan! Tapi jangan banyak-banyak!" kata Bara menahan senyum di bibirnya. Nabila kembali bersorak dalam hati. Sekarang dia tahu bagaimana cara membujuk suaminya agar suaminya ini bisa menurut.


"Bila makan ya!"


"Hmmmm!"


"Mas mau?" tanya Nabila.


"Enggak. Kamu aja yang makan. Saya mau angkat telpon dulu!"


Nabila hanya mengangguk. Terserahlah suaminya mau apa. Yang penting dia bisa makan seblak dengan puas.


"Bagaimana?" tanya Bara kepada orang di sebrang telpon. Dia sesekali melirik ke arah istrinya untuk memastikan jika istrinya itu baik-baik saja.

__ADS_1


"Ya sudah! Jangan biarkan dia hidup tenang! Semakin banyak buku hitam yang dia miliki. Itu semakin bagus. Oke! Saya tunggu kabar baiknya."


__ADS_2