
"Ibu!" panggil seorang wanita saat masuk ke rumah kontrakan 3 petak yang ada di dalam gang. Dia langsung ambruk di samping kasur ibunya yang tidak beralaskan ranjang tersebut. "Ibu ... Ibu kenapa?" tanya Marlina menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Sebisa mungkin dia tidak menangis agar ibunya itu tidak sedih.
"Dia itu gak bisa dibilangin. Gue udah bilang jangan makan sembarangan. Tadi dia makan mie instan dua bungkus. Di tambah susu yang udah kadaluarsa. Jadi dia muntah-muntah!" papar seorang gadis remaja berusia 18 tahunan. Dia duduk di depan tv seraya memasukan kripik kentang ke mulutnya. Gadis itu tidak menunjukkan kekhawatiran. Dia seolah abai akan kesehatan ibunya yang semakin lama semakin menyedihkan.
"Annisa, kanapa kamu kayak gitu? Kakak udah nitip Ibu sama kamu. Kan kamu tahu, Kakak harus nyari uang lebih untuk kalian. Untuk biaya makan kita. Kenapa kamu ...."
"Sudah, Nak! Jangan marahin adik kamu. Dia itu masih kecil." Ibu dari anak-anak itu menyela. Wajah pucatnya tersenyum. Pertanda jika dia sudah lebih baik.
Marlina mengembuskan napas kasar. Selalu seperti ini. Ibunya tidak pernah memikirkan perasannya sama sekali. Dia sudah sangat khawatir, akan tetapi ibunya malah bersikap seperti ini. Bahkan saat Annisa salah, dia selalu benar di mata sang ibu. "Sampai kapan Ibu mau mau kayak gini? Annisa itu bukan anak kecil lagi. Nisa udah gede. Dia udah dewasa, Bu. Marlina capek. Marlina juga ingin seperti yang lain, bisa main, bisa jalan-jalan dan makan makanan yang Marlina mau."
"Gak ada yang minta Kakak buat kerja jadi baby sitter. Kakak! Pekerjaan seperti itu tidak ada bedanya dengan seorang pembantu. Nisa malu punya keluarga kayak kalian. Ibu cuma jadi buruh cuci. Kakak jadi pembantu untuk orang lain. Apa tidak bisa Kakak cari pekerjaan yang lebih bagus, yang gak bikin malu Nisa!"
"Annisa!" teriak Marlina seraya berdiri menatap adiknya dengan tatapan tajam. Tangan kanannya sudah terangkat ke udara, akan tetapi masih dia tahan. "Cukup, Nisa, Kakak gak pernah ngajarin kamu untuk mengatakan hal-hal seperti itu!" Pekerjaan bagus seperti apa yang menerima orang tidak berpendidikan sepertinya. Lulus SMA saja tidak karena saat itu dia kesulitan untuk mencari biaya. Marlina harus banting tulang untuk membantu perekonomian keluarganya.
"Cihhhh. Kenapa gak sekalian pukul aja! Nisa capek hidup miskin. Nisa capek kalau harus jadi bulan-bulanan temen-temen Nisa cuma gara-gara Nisa gak punya duit. Ini semua gara-gara Ibu! Coba kalau Ibu bisa dandan. Bapak gak mungkin pergi ninggalin kita."
Gadis itu keluar dari rumahnya setelah puas berteriak di depan Marlina dan ibunya. Dia sedikit terkejut saat melihat laki-laki dengan tubuh kekar berdiri di depan pintu kontrakan mereka. "Kakak lagi gak punya duit. Kenapa harus nagih malem-malem begini!" teriak Annisa seraya menyenggol bahu orang itu kemudian pergi dari sana.
"Nisaaaa!" teriak Marlina mengejar adiknya. Tak jauh berbeda dengan Annisa, Marlina juga terkejut saat melihat Durant sedang menatapnya tanpa ekspresi. Malu? Tentu saja, akan tetapi, saat mengingat jika Durant tidak mungkin bisa mengerti apa yang tadi dia bicarakan, Marlina sedikit lega.
"Ada apa?" tanya Marlina Marlina menyodorkan hp berisi pertanyaan yang sudah dia terjemahkan. Durant mengikuti apa yang Marlina lakukan dan memperlihatkan hpnya.
__ADS_1
"Nyonya Bos menelpon saya. Beliau mengatakan jika ibu kamu sakit. Bisakah kita pergi ke rumah sakit sekarang?"
Marlina tersenyum kemudian mengetikan sesuatu lagi. "Tidak perlu, Pak. Ibu saya hanya kekenyangan dan salah makan. Dia baik-baik saja. Bapak pergilah! Mungkin Bu Nabila lebih membutuhkan, Pak Durant. Saya tidak melihat Tuan Bara di rumah sakit. Kasihan beliau!"
Durant mengerutkan kening mendengar apa yang Marlina katakan. Namun, ketika Marlina mengangguk. Durant meminta maaf dan langsung pergi dari sana.
"Anjing yang setia," gumam Marlina menitikkan air mata, dia melirik ke arah dalam rumahnya. "Bu! Marlina cari Nisa dulu!"
...----------------...
Nabila tersenyum kecut saat melihat Bara bergeming di tempatnya. Dia berbalik hendak meninggalkan Bara, akan tetapi, Bara tiba-tiba menarik tangan dan pinggangnya kemudian menciumnya begitu saja. Nabila tidak berontak, dia diam. Sekuat apa pun Bara melakukan itu, Nabila tidak menunjukkan ekspresi. Hanya bulir bening yang keluar dari pelupuk matanya. Namun, saat bayangan Bara muncul ketika mencium wanita yang ada di ambang pintu, Nabila menarik diri seketika, kemudian menampar suaminya.
"Tunggu, Kak!" ucap Eileria menahan lengan Nabila.
"Ada apa?" tanya Nabila menatap wanita itu. Dia sama sekali tidak merasa kurang dari wanita di depannya. Namun, yang membuat dia tidak percaya diri hanya cinta suaminya yang mudah terbagi.
"Kau terluka. Biarkan aku membantumu!" pinta Eileria dengan senyum di wajahnya.
"Tidak usah. Saya bisa mengobatinya sendiri."
"Shuttt!" Eileria menaruh jari telunjuknya di atas bibir. "Kak Bara! Tolong minta plester besar dan perban! Ah, apa pun yang bisa digunakan untuk mengobati kaki keseleo bawa saja!"
__ADS_1
Bara tidak menjawab tapi dia melakukan apa yang Eileria minta, bukan pergi, tapi menelpon seseorang yang dia percaya agar bisa mengirimkan apa yang Eileria inginkan.
"Duduk dulu, hmmm ... aku akan mengobati mu. Aku juga akan menjelaskan semuanya. Kau hanya salah paham!" Untuk kesekian kalinya Eileria mengangguk meminta Nabila menuruti apa yang dia minta. "Kak ... anakmu membutuhkan mu. Jika kau sakit, siapa yang akan menjaganya? Aku juga akan membantu memeriksa Ezra. Dia akan baik-baik saja!"
"Kau tahu nama anak saya?" tanya Nabila menatap Eileria kemudian menatap suaminya. Kedua orang itu lagi-lagi mengangguk. Sangat kompak.
"Aku bisa sendiri!" cegah Nabila menolak bantuan suaminya ketika suaminya itu hendak memangkunya. Nabila masih sangat marah, dia tidak mau menerima Bara begitu saja. Lagipula, status dia dengan wanita di depannya masih belum jelas. Bisa saja mereka sedang berakting menjadi orang baik.
Eileria tersenyum. Dia membantu Nabila untuk duduk di atas ranjang dengan kaki menggantung. Wanita cantik itu mengambilnya sebuah kursi kemudian duduk dan membuka kaos kaki yang Nabila kenakan. Cantik, kaki orang ini sangat cantik. Namun, sepertinya ada sedikit pergeseran sendiri, ini bukan hanya keseleo. Nabila benar-benar diam saat itu, hanya memperhatikan apa yang Eileria lakukan tanpa mau menanyakan apa-apa.
"Pegangin dia, Kak!" pinta Eileria kepada Bara setelah laki-laki itu meletakkan peralatan yang tadi Eil minta di atas ranjang.
"Saya tidak memerlukannya," sahut Nabila masih enggan untuk disentuh suaminya. Eil tersenyum, dia mengangguk dan hanya meminta Bara untuk berdiri di samping wanita itu saja. Tangan mulus nan halus milik wanita itu mulai meraba pergelangan kaki Nabila. Sentuhan demi sentuhan yang ada membuat Nabila sedikit menarik dirinya. Mungkin karena sudah agak lama sejak dia keselo kakinya menjadi sedikit bengkak dan sakit saat disentuh.
"Ini akan sakit," ucap Eileria.
"Saya baik-baik, saja!" kekeuh Nabila.
Eileria mengangguk, dia menatap Bara, menggerakkan kepalanya seolah mengatakan kepada Bara untuk lebih mendekatkan ke arah istrinya. Usapan yang Eil lakukan semakin lama semakin terasa ngilu dan sakit. Nabila mencengkram pinggiran ranjang seraya mengigit bibirnya. Bara yang melihat itu seolah mengerti akan sakit yang sedang istrinya rasakan. Bagi Bara dan Eileria, hal seperti ini mungkin sudah biasa. Namun bagi Nabila, mungkin akan sangat menyakitkan.
"Biarkan saya memelukmu, Nabila!" Bara meminta izin.
__ADS_1