Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
46. Permulaan


__ADS_3

"Iya. Mungkin yang istri Anda maksud adalah adab. Memang, afdhol-nya kalau selesai jima seandainya tidak langsung mandi sebaiknya berwudhu dulu. Sunahnya seperti itu!"


"Baiklah ... terima kasih, Ustadz. Saya ingin bertemu jika Ustadz ada waktu ...!"


"Mas!"


Bara menoleh ke arah pintu kamar mandi, dia tersenyum masih dengan ponsel yang melekat pada telinganya. "Baiklah ... assalamualaikum!"


"Kenapa?" tanya Bara. Laki-laki itu sudah ada di depan pintu kamar mandi, menatap sang istri yang hanya menyumbulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi itu.


"Baju aku kotor, gak mungkin dipakai lagi. Terus mau shalat gimana? Disini ada musholla?"


"Saya sudah meminta Durant untuk mengambilkan keperluan mu. Mungkin sebentar lagi dia akan ke sini!" Baru juga berbicara, seseorang dari arah pintu sudah mengetuk pintu itu. Bara mengisyaratkan Nabila untuk masuk lagi ke kamar mandi agar dia bisa mengambil apa yang istrinya butuhkan.


"Ini, Bos!" ucap Durant menyodorkan beberapa paper bag kepada bosnya itu. Dia berusaha untuk melihat keadaan di dalam sana, akan tetapi Bara hanya membuka pintu itu sedikit. Durant terlalu khawatir pada nyonya bos-nya. Bagaimana jika dia kenapa-napa.


"Apa yang kau cari?" tanya Bara dengan wajah kulkas 1000 pintunya.


"Itu, anu ... Nyonya baik-baik saja bukan?"


"Kau pikir saya hewan buas! Kenapa kau sangat mengkhawatirkan istri saya? Sudah berani?"


Durant menggelengkan kepalanya. Benar, Nabila adalah istri bosnya, tidak baik jika dia mengkhawatirkan nyonya nya itu terlalu banyak. Namun, untuk apa Bara meminta pakaian ganti dan semua ini. Tidak mungkin Bara mencelupkan Nabila kedalam kolam renang bukan? Bagaimana jika dia benar-benar menyiksa nyonya itu. Mungkinkah Nabila berlumuran darah?


Blammm!

__ADS_1


"Eishhhhhhh!" Durant menggelengkan kepala seraya mengelus dada ketika pintu dibanting kasar oleh majikannya. "Jangan sampai kau menyesali perbuatan mu, Bos!"


....


Pemandangan di depan sana membuat Durant menyunggingkan senyum. Dia sudah berpikir terlalu jauh tentang Bara dan juga Nabila. Orang-orang ini mungkin memang ditakdirkan untuk bersama. Meskipun mereka sering berseteru, tetapi perseteruan itu hanyalah bumbu dalam hubungan mereka agar mereka bisa menjadi lebih dekat. Melihat senyum dan binar di mata bosnya, Durant yakin jika saat ini sepasang suami istri yang sedang saling menatap seraya menikmati makan siang terlambat mereka sedang dalam mood yang baik.


"Mas!"


"Hmmm!"


"Besok aku mau kerja aja. Boleh, ya!" minta Nabila dengan wajah memelas. Dia tidak mungkin terus di rumah, Ezra juga masih sekolah. Lusa baru libur, dan itu pasti akan sangat membosankan.


"Tergantung!" jawab Bara datar.


"Tergantung bagaimana sikap mu. Saya tidak akan melarang mu melakukan apa yang kamu mau. Asalkan kamu bisa menjaga diri dengan baik, kamu aman!"


"Really?"


"Sure! Satu lagi!" ucap Bara membuat Nabila menatapnya dengan wajah berbinar.


"Bos!"


"Kenapa?" tanya Bara. Dia menarik ujung bibirnya saat melihat wajah kecewa sang istri.


"Ada hal mendesak terjadi. Kita harus ke perusahaan sekarang juga!" bisik Durant di samping telinga bosnya. Ini bukan hal yang baik. Bara masih ingin menghabiskan waktu bersama istri cantiknya. Kenapa Durant selalu mengganggu.

__ADS_1


"Ya sudah, kita berangkat sekarang!" jawab Bara berat. Dia beranjak dari duduknya kemudian duduk di samping sang istri. "Saya harus pergi sekarang, apa kau baik-baik saja dengan itu?"


Nabila tersenyum, dia mengusap punggung tangan suaminya dengan usapan yang sangat lembut. "Pergilah! Perusahaan lebih penting. Aku akan pulang setelah ini. Ezra pasti sudah menungguku!"


Senyum tipis tersungging di bibir Bara, dia mengecup kening istrinya kemudian beranjak. dan meninggalkan sang istri yang sekarang sedang menatap dengan tatapan sendu. Dia tahu, hari-hari seperti ini pasti akan terus menghampirinya. Baru akan menyuapkan makanan ke mulutnya, Nabila melihat sang suami berbalik dan kembali berdiri di sampingnya kemudian menunduk. "Jangan berdekatan dengan laki-laki, lain!" bisik Bara membuat Nabila mematung untuk beberapa saat.


....


"Bagaimana? Apa sudah ada jawaban dari klien kita?"


"Tidak ada, Tuan! Mereka benar-benar tidak bisa dilacak. Tim IT kita juga sudah mencari keberadaan mereka dari sinyal ponsel yang mereka pakai. Semuanya buntu. Titiknya tetap berhenti di apartemen itu."


Bara memejamkan mata untuk beberapa saat. Untuk pertama kalinya dia melihat sebuah perusahaan yang berani mempermainkannya seperti ini. Hebatnya, perusahaan itu hanya kedok untuk menutupi perusahaan inti yang mereka miliki. Bagaimana bisa mereka melanggar kontrak kerja sama seperti ini. Mata itu kembali terbuka. Bibirnya menyunggingkan senyum. Sebenarnya ini bukan hal yang sulit, jika wanita itu bisa membantunya untuk menemukan apa yang sedang dia cari.


"Halo cantik! Apa kabar?"


"Apa yang kau inginkan?"


Senyum itu semakin melebar. Wanita ini selalu tahu apa yang dia butuhkan. Hal yang paling Bara sukai dari seorang Eileria.


"Aku membutuhkan bantuan mu, Eil. Bisakah kau datang ke tempatku?"


"Berapa yang kau tawarkan?"


"Sesuai keinginan mu, Dear!"

__ADS_1


__ADS_2