Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
88. Kebenaran


__ADS_3

Marlina menatap gundukan tanah di depannya dengan tatapan kosong. Dia tidak bisa memejamkan matanya untuk sesaat. Kerongkongan kering juga napasnya yang tersendat membuatnya ambruk di atas gundukan tanah itu. Marlina menunduk, menekan dadanya yang semakin lama semakin membuatnya sesak.


"Ayah? ... jadi Ayahku tidak sama dengan ayahnya Annisa?" gumam Marlina. Dia menatap gundukan tanah itu dengan linangan air mata. "Kanapa ... kenapa kau melakukan ini pada Ibu? Kenapa kau membuat hidupku menderita! Bajingan seperti mu seharusnya hidup lebih lama dan menderita lebih lama. Kenapa kau mati dengan mudah. Kenapa?" teriak Marlina mencakar tanah yang masih merah itu seolah dia ingin mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Bangun bajingan! Bangun! Kau harus meminta maaf kepada Ibu. Katakan padanya kalau aku tidak salah. Kau yang sudah memperkosanya. Kenapa aku yang harus menderita. Kebalikan masa kecilku, kebalikan kebahagiaan ku! Kembalikan!" teriaknya lagi dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. Max yang melihat itu mencoba untuk menenangkan Marlina, dia memegang bahu wanita itu akan tetapi langsung ditepisnya kasar.


"Sekarang kau mau apa? Kau lihat! Aku keturunan orang brengsek ini, Mas! Kamu sudah lihat! Keluarga aku berantakan, aku tidak mungkin menikah dengan mu! Sudahlah! Kau pergi saja dari sini!" usir Marlina masih dengan amarah di wajahnya.


Kepala Max menggeleng cepat. Tidak, bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya berusaha mencari tahu masa lalu Marlina karena dia membutuhkannya untuk melengkapi urusan pernikahan. Max tidak menyangka jika dia akan menemukan masalah sepelik ini. Dia ingin mengubur semuanya dalam-dalam Max tidak menginginkan Marlina tahu kebenarannya. Namun, bagaimana jika Marlina mengetahui ini dari ibunya atau dari orang yang memang tahu kehidupan masa lalu Bu Irma.


"Dengarkan aku, Marlina! Yang berhak memutuskan pernikahan ini berlanjut atau tidak itu saya. Kau lupa, kau sudah berjanji akan menerima saya dan tidak akan meminta berpisah dari saya. Lalu apa? Hanya masalah seperti ini, kau sudah ingin menyerah. Aku tidak perduli kau siapa, aku tidak mau tahu siapa keluargamu. Yang terpenting bagiku adalah kau, yang lain tidak aku pedulikan!"


"Tapi aku perduli!" teriak Marlina di depan wajah Max. "Aku perduli. Aku sangat perduli, Max!" katanya dengan suara yang semakin melemah. "Jika kau tidak ingin meninggalkan tempat ini, biar aku saja! Satu langkah kau mengikuti ku, aku tidak akan pernah mau bertemu dengan mu lagi!" tegas Marlina seraya berlalu meninggalkan Max. Laki-laki itu itu tentu tidak diam, dia tetap mengikuti Marlina meskipun jaraknya agak sedikit jauh. Sayang, Marlina malah menaiki ojek dan pergi jauh entah kemana.


"Sial!" geram Max mengepalkan tangannya.


....


Laki-laki itu hanya bisa berdiri mematung menyaksikan pemandangan di depan sana. Helaan napas lega keluar karena wanita yang sudah dia cari-cari sejak tadi sudah ada dalam dekapan majikannya. Max, dia bersyukur karena Nabila dan Bara benar-benar perduli kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Mungkin karena mereka sudah tidak memiliki siapa pun, hanya orang terdekat yang selalu ada untuk mereka begitu pun sebaliknya.


"Sudah! Kita pulang dulu, kau bisa sakit jika terus-menerus di sini!" kata Nabila. Dia membantu Marlina untuk duduk di jok belakang. Tadinya, dia juga ingin menemani Marlina, akan tetapi sang suami malah menariknya dan mendudukkannya di jok depan.

__ADS_1


"Kau basah kuyup," ujar Bara menyelimuti istrinya dengan selimut tipis. Lagi-lagi, Nabila malah memberikan selimut itu kepada Marlina. Membiarkan tubuhnya sendiri kedinginan agar Marlina bisa lebih nyaman. "Dasar keras kepala!" kata Bara. Namun, dia melepaskan jas yang dia kenakan untuk dia tutupi di tubuh bagian depan istrinya.


"Terima kasih," ucap Nabila tulus.


"Hmmm."


....


"Haciwww!"


"Nah. Inilah kalau kau nakal!" gerutu Bara menyodorkan teh lemon madu kepada istrinya itu. Nabila hanya tersenyum. Dia merentangkan tangannya meminta sang suami untuk memeluknya.


"Masih mau dipeluk, tapi susah dibilangin. Mau kamu apa?" tanya Bara mencubit hidung istrinya kesal.


Bara mengusap rambut dan punggung istrinya lembut. Dia tidak menjawab karena dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tidak memiliki kata-kata bijak yang bisa menangkan. Bara tidak ahli dalam hal seperti itu.


"Mas!"


"Hmmm!"


"Apa kita bisa menyelenggarakan pernikahan seusai jadwal? Bagiamana jika Mbak Marlina tetap menolak? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nabila mendongak menatap suaminya.

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak pikiran. Saya janji, Marlina tidak akan bisa menolak pernikahan ini," ujar Bara. Nabila hanya tersenyum dan kembali memeluk suaminya.


"Sekalipun dia menolak, dia tidak akan bisa!" Bara membatin.


"Mas!" panggil Nabila dengan mata membulat. "Ezra mana?" tanyanya yang baru sadar jika anak mereka belum pulang.


....


"Ngapain?" tanya Jessica saat melihat Durant malah memarkirkan mobilnya di depan kedai es krim alih-alih pulang. "Ini lagi hujan, lho, kenapa mampir ke sini?" tanya Jessica lagi.


"Permintaan Boss Kecil!" jawab Durant singkat.


Ezra sudah akan mengeluarkan suaranya akan tetapi Durant menyenggol tubuh kecil itu seraya menaik-turunkan alisnya seraya menunjuk Jessica dengan tatapannya.


Ezra mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Durant pun tersenyum, dia sangat berterimakasih dan sangat bersyukur karena Ezra mau mengerti dirinya.


"Ayo masuk, Tante! Om Dulant mau ngajak Tante kencan!" ujar Ezra enteng.


"Heiii?" teriak Durant geram. Dia sudah meminta kerja sama dari Ezra, tapi malah dibongkar di depan mata.


"Hehehe ... hanya sebentar!" ucap Durant menatap Jessica dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Ck. Kau benar-benar sudah tidak waras," ketus Jessica kesal.


__ADS_2