
Debur ombak dengan terpaan angin sepoi-sepoi dengan bulan yang bersinar terang membuat orang-orang yang malam itu sedang menikmati acara mereka semakin betah berlama-lama di sana. Nabila yang sedang memanggang daging, sosis, jagung dan yang lainnya hanya tersenyum saat orang-orang sibuk dengan guyonannya.
"Nyonya, Bos. Biar saya saja. Nyonya bergabung saja dengan yang lain," kata Durant merasa kurang nyaman. Apalagi saat melihat delikkan maut Bara yang terus melirik ke arahnya membuat dia merasa sangat tidak nyaman. Durant mengerti kenapa Nabila bersikap seperti ini. Bukan karena dia enggan untuk berdekatan dengan Bara. Akan tetapi, mereka memang belum berniat untuk mengumumkan hubungan mereka.
"Apa tidak sebaiknya tidur lebih awal!" ucap Bara seraya memakaikan jaketnya pada sang istri. Nabila hanya tersenyum, dia melirik orang-orang yang sekarang sedang sibuk bercanda sebelum akhirnya menoleh ke arah sang suami.
"Mas Bara ... biarkan aku menghirup udara segar beberapa jam lagi, ya! Aku membutuhkan suasana baru. Boleh?"
Melihat puppy eyes yang ditunjukkan istrinya. Bara tidak bisa berkata-kata. Untuk sekarang, dia harus mengalah, dan mungkin, dia bisa menghukumnya nanti.
"Sudah! Mas duduk dulu! Nanti aku siapkan makannya!" Nabila mendorong tubuh itu hingga Bara kembali duduk pada kursi bundar yang ada di pantai tersebut. Mereka saling melempar senyum, tanpa mereka sadari seseorang di sudut sana mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengetat. Matanya memerah, dan itu dia tunjukan pada kedua orang yang tadi saling bertemu pandang.
Acara malam itu memang sangat ramai. Tidak jarang, ada beberapa karyawan wanita yang mengenakan pakaian terlampau minim. Termasuk Jessica dan juga Maurin. Kedua wanita itu seolah saling berlomba untuk mendapatkan perhatian dari Bara.
"Aku saja!" ucap Maurin menggeser Nabila yang pada saat itu sedang menggunting daging di atas piring suaminya. Maurin langsung menyebut gunting dan penjepit itu dari tangan Nabila. Namun, baru menyeleksi beberapa potongan, tiba-tiba Jessica datang seraya menyodorkan alkohol untuk Bara.
"Rasanya akan lebih nikmat jika diminum dengan itu, Tuan!" ujar Jessica seraya membungkuk memperlihatkan melon besar yang dia miliki.
"Tuan, Bara tidak meminum itu, Jess!" Nabila menjelaskan seraya tersenyum. Maurin menjulurkan lidahnya ke arah Jessica, dan tentu saja itu membuat amarah Jesica naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Biar gue aja!" Jessica merebut gunting dari tangan Maurin. Mereka berdua saling menatap sengit hingga biji mata mereka hampir keluar dari tempatnya.
"Aku aja!"
"Gue aja. Gue lebih handal!" ketus Jessica.
"Aku bilang aku aja!"
"Gue bilang gue!"
Karena perdebatan yang mereka lakukan. Mereka tidak sengaja menyenggol piring berisi daging dan yang lainnya hingga terjatuh mengenai celana dan pakaian yang dikenakan Bara.
"Kalian sudah gila!" teriak Bara seraya beranjak. Kursi yang dia duduki sampai terjengkang ke belakang. Semua orang mendadak diam. Begitu pun dengan Maurin dan juga Jessica. Mereka yang khilaf karena melakukan kesalahan kini hanya bisa menunduk seperti babi yang akan disembelih. Oh ayolah, Bara sudah mengeluarkan tanduknya. Tidak akan mudah untuk membuatnya memafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh Maurin dan Jessica.
Maurin dan Jessica saling menyenggol. Mereka terus menyalahkan satu sama lain tanpa mau saling mengalah.
"Kalian itu sudah tahu salah masih saja berkelahi. Kalau kalian di pecat, kita tidak akan perduli. Tapi kalau sampai kami ikut dipecat, kami yang akan rugi!"
Fino berjalan mengikuti Nabila yang kala itu sedang mengikuti suaminya, dan dibelakang Fino, ada Durant. Mereka seperti sedang bermain kucing-kucingan entah sedang melakukan permainan detektif. Fino celingukan melihat kanan kiri, gerak geriknya benar-benar sangat mencurigakan, dan itu membuat Durant semakin gencar untuk mengikuti Fino.
__ADS_1
"Tuan!" panggil Nabila. Bara sama sekali tidak mendengarkan panggilan istrinya. Dia masuk ke dalam kamar hotel diikuti oleh Nabila dari belakang.
"Masuk ke kamar Tuan Bara? Kenapa?" Fino bergumam dengan segala pemikiran aneh di kepalanya. Dia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana setelah berhasil mengambil foto Nabila yang mengikuti Bara sampai ke dalam kamar hotel tersebut.
"Cih, Bos tidak akan mengampuni mu, Fino!" ketus Durant. Dia berjalan melewati Fino, kemudian berjaga di depan pintu kamar hotel bosnya seraya menatap Fino dengan tatapan tajam.
"Mas!" Nabila berusaha untuk berbicara dengan suaminya. Namun, suaminya itu sama sekali tidak menganggap keberadaannya. Dia malah menarik kemeja tipis yang dia kenakan sampai semua kancing kemeja tersebut berserakan di atas lantai. "Mas istighfar!" ucap Nabila lagi. "Mereka memang sudah keterlaluan. Tapi Mas jangan marah seperti ini. Nanti Mas Bara sakit!"
"Keluar, Nabila?" geram Bara tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Mas aku ... apa salahku?"
"Saya bilang keluar!" bentaknya lagi yang mana itu membuat Nabila menarik jaket yang ada di bahunya dan melemparkan jaket itu ke punggung polos sang suami.
"Tidak perlu membentak ku seperti itu, Mas! Aku akan keluar! Dan jangan memintaku untuk kembali!" ancam Nabila seraya mengacungkan jari telunjuknya. Dia mengusap kasar bulir bening yang mengalir dari sudut matanya. Kenapa Bara harus marah kepadanya. Apa yang telah dia lakukan. Yang salah adalah Maurin dan Jessica. Kenapa dia juga harus menerima bentakan dari suaminya itu.
"Dasar banteng gila!" teriak Nabila membanting kan pintu kamar hotel itu dengan bantingan yang cukup kasar.
Durant bergeming. Dia tidak berani menanyakan apa-apa saat melihat Nabila sudah melesat jauh, wanita itu masuk ke dalam lift kemudian keluar di lantai paling atas. Lebih tepatnya di rooftop yang ada di hotel tersebut. Suasana hotelnya terlihat sangat nyaman. Bahkan, lebih nyaman dari suasana yang ada di pinggiran pantai.
__ADS_1
"Ya Allah, ini benar-benar sangat indah!" gumam Nabila saat berada di ujung pagar pembatas yang ada di atas rooftop tersebut. Namun, baru beberapa detik menghirup udara segar, tiba-tiba seseorang mendekap bahunya dan menutup mulut serta hidungnya dengan kain yang mana itu membuat Nabila kehilangan kesadaran hingga terkulai lemas dalam dekapan orang tersebut.
"Suamimu harus merasakan akibat dari perbuatannya, Jalan*!"