Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
87. Kenyataan Pahit 2


__ADS_3

Nabila tersenyum saat melihat suami dan anaknya yang makan dengan sangat lahap. Meskipun makanan yang dia buat hanya makanan sederhana dan tidak mengandung banyak bumbu karena dia belum bisa mencium aroma yang terlalu pekat, kedua orang ini makan dengan nikmatnya. Dia? Hmmm ... Nabila hanya memakan oatmeal dan juga ubi rebus. Lagi-lagi karena napsu makannya belum kembali. Dia juga sering mual karena makanan yang baunya tidak sesuai. Lalu, kenapa dia bisa memasak? Nabila melakukan itu sambil menggunakan masker, jadi tidak terlalu bermasalah.


Kening wanita itu tertaut saat melihat ponselnya berdering. Bukan karena Nabila tidak pernah menerima panggilan. Hanya saja ini terlalu aneh karena Max melakukan panggilan padanya.


"Assalamualaikum!" sapa Nabila. "Loh, bukannya tadi pergi sama kamu! Kenapa nanya ke saya?"


Bara langsung menghentikan gerakan tangannya padahal saat itu sendok sudah ada di depan bibir Ezra. Bocah itu mendekati sendoknya tapi Bara malah terus bergerak. Kadang ke bawah, kadang ke atas, bahkan sampai sendok itu ditariknya lagi dan dia letakan di atas piring.


"Papa ikh ...." Ezra menggerutu kesal. Namun, Bara tentu tidak mendengar itu karena dia terlalu fokus pada istrinya.


"Ada apa?" tanya Bara. Nabila masih berusaha untuk mendengarkan Max yang sedang menjelaskan sesuatu yang membuatnya tidak bisa langsung menjawab pertanyaan sang suami.


"Baiklah! Saya akan mencarinya. Dia pasti tidak jauh dari tempat tinggal saya! Iya! Wa'alaikumssalam!"


"Kenapa, Honey?"


Nabila melirik Ezra sekilas. Dia bergeser mendekati suaminya dan berbisik di sana. Kening laki-laki itu ikut mengkerut mendengar apa yang istrinya katakan.


"Kita pergi sekarang boleh gak, Mas? Di luar juga sedang hujan. Aku khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?"


Bara mengangguk. "Kau sudah shalat?" tanyanya. Nabila mengangguk. "Kalau begitu tunggu sebentar. Kita pergi setelah aku shalat. Bicarakan ini dengan Ezra. Kita titipkan dia kepada Durant dan Jessica."


"Baik, Mas!" jawab Nabila dengan senyumannya. Senyum yang tentu saja tidak selebar biasanya. Siapa yang akan tersenyum lebar ketika hatinya sedang dilanda badai.


"Hati-hati!" kata Bara ketika istrinya hendak masuk ke dalam mobil.


"Apa Tuan tidak membutuhkan sopir?" tanya bodyguard Nabila.

__ADS_1


"Saya bisa sendiri! Jaga anak saya! Jangan sampai dia lecet sedikit pun. Jika sampai itu terjadi, kau juga tahu apa yang akan saya lakukan!"


"Baik, Tuan!"


"Mas! Ayo!" ajak Nabila lagi.


Para bodyguard dan juga penjaga di perusahaan tersebut membungkuk ke arah mobil yang baru saja melesat maju meninggalkan area perusahaan.


"Tuan Bara itu aneh ya!" kata seseorang.


"Aneh kenapa?"


"Ya aneh aja. Sama orang lain kok galak gak ketulungan. Tapi sama anak istrinya lembut banget! Kenapa bisa orang memiliki dua sisi seperti itu!" helaan napas terdengar sangat panjang.


"Ya itu karena dia laki-laki sejati. Artinya Tuan Bara adalah orang yang baik tetapi dia tidak menunjukkannya pada orang lain."


"Orang yang paling baik adalah orang yang bisa bersikap baik kepada orang-orang yang paling dekat dengannya. Tuan Bara sangat memperhatikan istri dan anaknya, aku jadi iri. Bisa gak ya kalau aku nyobain jadi istrinya sehari doang?" ucap karyawan wanita itu. Dia langsung melengos gugup karena mendapat tatapan tajam dari bodyguard Nabila.


"Om Dulian! Kulang heboh. Itu Tante Jessica udah nyanyi bagus. Masa Om Dulian gak bisa joget bagus juga sih!" Ezra merengut di atas kursi kebesaran ayahnya dengan kedua tangan yang terlipat.


"Ya gimana mau joget kalau kakinya di angkat satu gini, Boss kecil. Saya udah kayak Petapa saja!" katanya sedikit protes. Bisa-bisanya Ezra menyuruh dia berdiri layaknya anak SD yang sedang di hukum di depan kelas, bedanya, tangan Durant tidak menarik telinga, melainkan menyatu di depan dada.


"Tante juga udah salah lagi. Kan Ezla maunya lagu potong bebek angsa a sama e nya ganti pakai huruf o, Tante. Jangan lupa nada koplo yang seling Om Dulian putal!"


Jessica mendelik menatap Durant tajam. Jadi, laki-laki botak ini juga sangat menyukai dangdut koplo. Ya Tuhan, Durant benar-benar di luar ekspektasinya. Ini menyulitkan untuk Jessica karena dia tidak terlalu menyukai musik jenis itu.


"Lanjut!" kata Ezra dengan cengirannya.

__ADS_1


Hampir satu jam Jessica dan Durant dipermainkan oleh bocah kecil itu, akhirnya mereka bisa bernapas lega saat Ezra sudah tidur. Jessica menyelimuti bocah kecil itu, mengusap wajahnya pelan kemudian tersenyum.


"Jika kau ada, mungkin sekarang sudah sebesar ini, Nak. Maafkan mommy!" batin Jessica. Tanpa sadar air matanya menetes. Buru-buru Jessica mengusap sudut matanya yang berair.


"Kau baik-baik saja?" tanya Durant tiba-tiba. Jessica mendongak. Wanita itu tertawa kecil, tawa yang semakin lama malah menjadi tangis. Dia beranjak, menyembunyikan dirinya di sudut ruangan agar tidak mengganggu Ezra yang sedang tidur.


" Are u oke?" tanya Durant menyentuh pundak Jessica yang berjongkok membelakanginya. Wanita itu malah semakin terisak di sudut ruangan. Dia sengaja menghadap tembok karena sebenarnya dia malu untuk menangis di depan orang lain.


"Jessica ~~!" panggil Durant lembut. Dia ikut berjongkok di samping Jessica dengan satu lututnya yang dia jadikan tumpuan. Dia menarik pundak wanita itu kemudian memeluknya. Dekapan yang Durant berikan mungkin tidak sehangat dekapan beruang, akan tetapi itu cukup untuk Jessica bersandar dan menumpahkan kegelisahan dalam hatinya.


"Menangis lah! Aku siap mendengarkan. Tapi, setelah hujan, mentari harus kembali bersinar. Tumpahkan apa yang ingin kau keluarkan. Jangan sisakan apa pun yang membuat hatimu kesakitan."


Jessica diam. Wanita itu hanya menangis tersedu-sedu. Dia mencengkram kuat lengan laki-laki di depannya seolah-olah jika Durant lah yang sudah membuatnya terluka.


....


"Ya Allah, Mas ... kemana lah Mbak Marlina." Nabila masih terus celingukan mencari orang itu.


"Sabar, Sayang! Hujannya cukup lebat. Mungkin di sedang berteduh di suatu tempat!" kata Bara menenangkan. Nabila malah menggelengkan kepalanya.


"Mbak Marlina gak mungkin balik ke rumahnya atau ke rumah kita. Jadi kemana dia, Mas? Apa mungkin dia pergi ke sana!" kata Nabila lagi dengan mata membulat. "Kita ke sana sekarang, Mas! Buruan!" pinta Nabila lagi.


Mobil itu terparkir di sebuah taman yang memang tak jauh dari bangunan apartemen milik mereka. Nabila langsung turun begitu melihat seseorang sedang duduk di kursi taman membiarkan dirinya basah kuyup.


"Mbak!" panggil Nabila. Wanita itu menoleh. Dia tersenyum akan tetapi senyumnya sangat tipis. Matanya bengkak nan sayu. Nabila menitikkan air mata, dia duduk di samping Marlina, mendekap tubuh dingin itu erat.


"Tidak apa-apa, Mbak. Ini bukan salah Mbak. Jangan sedih, hmmm! Mbak harus kuat!" kata Nabila menenangkan.

__ADS_1


Bara mendengus kesal. Dia sudah hampir berteriak jika tidak melihat kondisi Marlina yang sangat menyedihkan. Dia hanya bisa pasrah dan memegangi payung di belakang dua wanita itu. Meskipun dia tahu istrinya sudah kebasahan akan tetapi dia tidak bisa membiarkan Nabila terguyur air hujan terlalu lama.


__ADS_2