
Nabila tersenyum kecil, senyum yang mampu membuat hati seorang Bara bergetar. Kenapa wanita ini tidak marah padanya. Jemari tangannya mengusap buliran air yang terus menetes membasahi pipi istri cantiknya. Senyum ini terlihat sangat tulus, dan itu membuat Bara semakin kesulitan. Dia sadar, senyum ini yang tidak pernah ingin dia lepaskan. Senyum ini yang membuatnya marah. Senyum ini yang membuatnya ingin kembali pada kesalahan dimasa lalu.
"Pergilah!" gumam Bara melepaskan tangannya dari wajah sang istri. Dia berbalik, hendak menjauh akan tetapi Nabila kembali manarik lengannya. Wanita mungil itu berjinjit kemudian menarik lehernya dan mulai memberikan ciuman yang sangat lembut. Peluh yang ada ditubuhnya benar-benar wanita itu abaikan. Bara sedikit membungkuk, menelusupkan tangan kanannya di belakang lutut sang istri kemudian membaringkan istrinya itu di atas ranjang.
Nabila tersenyum di bawah kungkungan suaminya. Wanita itu mengusap wajah Bara untuk yang kesekian kali. "Maaf!" gumamnya lagi. Bara menggelengkan kepala, dia kembali mendekatkan wajahnya, membelai wajah sang istri kemudian berbisik di samping telinga istrinya. "I love u, Honey!"
Deg!
"I can't hear you, Mas!" ujar Nabila dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
"I love u, so much. Aku mencintaimu, Nabila! Apa saya diijinkan?" tanya Bara menatap istrinya penuh harap. Mata wanita itu berkaca-kaca. Dia ingin bersuara akan tetapi lagi-lagi Bara membungkam bibirnya membuat dia tidak bisa mengatakan apa pun. "Diijinkan atau tidak, saya akan tetap mencintai istri saya. Kamu tidak berhak untuk menolak! Tidak akan pernah! Sekalipun kamu tidak mencintai saya, tidak apa-apa. Cukup terima semua cinta yang saya berikan."
Wajah Nabila bersemu merah, dia kembali mengalungkan tangannya dileher sang suami hingga penyatuan itu terjadi. Entah kenapa, ada rasa lega yang melanda hati mereka. Seperti tidak ada beban. Apa yang mereka lakukan sekarang, rasanya sangat jauh dengan apa yang mereka lakukan sebelum-sebelumnya.
Jemari lentik itu bergerak naik turun di atas dada menuju leher suaminya, membuat Bara yang sedang memejamkan matanya terusik. "Jangan menggoda saya lagi, Honey! Apa kau ingin saya membuatmu tidak bisa berjalan, heumm?"
__ADS_1
Kekehan kecil keluar dari mulut wanita itu. Dia ingin beranjak, akan tetapi, Bara malah menarik tangannya hingga dia kembali terjerembab di atas dada suaminya itu.
"Mas ... aku mau mandi, kita belum shalat Dzuhur."
Bukannya mendengarkan apa yang Nabila katakan, Bara malah semakin mengeratkan pelukannya. Dia sama sekali tidak ingin Nabila pergi darinya. Semuanya sudah cukup, tidak ada lagi penolakan. "Kamu masih memiliki hutang penjelasan kepada saya. Kenapa kamu lebih membela laki-laki itu dibandingkan suami kamu sendiri?"
Nabila mendongak, dia menarik kepala suaminya agar suaminya itu bisa menatapnya. "Yang Mas lakukan itu salah, Mas udah mukul orang tanpa alasan."
"Bukan saya yang memukulnya, tapi Durant!"
"Saya tidak minta Durant untuk memukul dokter itu, kok. Kenapa kamu nyalahin saya terus!"
Nabila mengembuskan napas panjang. Oh ayolah, bagaimana cara menjelaskan semuanya agar laki-laki ini paham akan apa yang ingin dia katakan. "Intinya, jika ada sesuatu yang belum jelas, jangan asal pukul, Mas. Bicarakan dulu baik-baik. Jangan membuat orang lain terluka. Nanti Mas berdosa!"
"Apa rahangmu masih sakit?" tanya Bara malah mengalihkan pembicaraan. Dia menunduk semakin dalam, memperhatikan wajah sang istri dengan seksama. Tidak ada lebam di sana. Ya Tuhan, tadi dia hampir membuat istrinya sendiri terluka.
"Mas!" bentak Nabila merasa kesal karena ulah suaminya.
__ADS_1
"Maaf," ujar Bara dengan wajah sendu. Laki-laki itu benar-benar berubah, dia sudah seperti kucing teraniaya jika memasang wajah seperti itu.
"Mas!" panggil Nabila dengan suara yang dia buat selembut mungkin. "Sekarang menjauh lah! Aku mau mandi. Kita lanjutkan mengobrolnya nanti."
"Ikut!" kata Bara yang mana itu membuat mata Nabila membulat sempurna. "Mas Bara!" pekik Nabila tertahan. Wanita itu langsung berdiri seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, akan tetapi. Lagi-lagi dia dibuat tercengang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. "Mas Bara ikh ... tutup itunya!"
Bara hanya terkekeh, siapa yang sudah menarik selimut hingga dia harus telanjang seperti itu, dan sekarang, dia pula yang marah. "Kau tahu dimana kamar mandinya, Honey?" teriak Bara dengan sisa-sisa senyum di bibirnya. "Mau saya bantu carikan, tidak?"
"No! Don't move! Aku akan mencarinya sendiri!"
Bara hanya mengangguk, setelah mengenakan celananya, dia duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang. Tangan besarnya mengambil gelas berisi air hendak minum karena tenggorokannya sangat kering.
"Mas! Jangan makan atau minum dulu, kalau belum mandi, wudhu saja dulu, baru setelah itu kau boleh makan dan minum."
Baru akan menanyakan alasannya, pintu kamar mandi sudah kembali tertutup. Bara mendesah pelan. Dia menatap nanar gelas yang ada di tangannya kemudian meletakan gelas itu di atas meja.
"Ustad Faisal!" gumam Bara. Tidak ada cara lain untuk mengetahui maksud dari perkataan istrinya selain menanyakannya langsung kepada ahli.
__ADS_1