Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
92. Rumah Baru


__ADS_3

"Masyaallah!" Nabila benar-benar dibuat tercengang ketika melihat bangunan yang sangat mewah di depannya. Wanita menoleh ke arah sang suami, dan Bara, dia hanya tersenyum. Menuntun tangan istrinya untuk segera memasuki rumah tersebut.


"Assalamualaikum!" kata Nabila saat sampai di sana.


"Wa'alaikumssalam!" jawab para maid serentak. Mereka membungkuk ke arah Nabila dan Bara. Untuk ke sekian kalinya, Nabila kembali dibuat tercengang. Untuk apa semua maid tersebut. Dan ... hebatnya, ada Marlina di sana, akan tetapi, tampilannya agak berbeda. Dia terlihat lebih rapih dengan gamis berwarna hitam dan juga kerudung yang senada. Sementara para maid, mereka mengenakan setelan dusty pink dan putih.


"Biar gak susah cari mereka!" bisik Bara yang hanya dipangguki oleh Nabila.


"Masyaallah. Tabarakallah, Mas! Ini benaran rumah kita?" tanya Nabila masih keheranan. Dia bisa melihat tangga yang cukup panjang juga sepertinya ada sebuah lift di sana.



"Ini akan lebih memudahkan mu beraktivitas. Saya tidak ingin kamu kelelahan, apalagi sekarang anak-anak kita sudah semakin membesar. Saya harap, kamu akan terbantu dengan ini."


Nabila menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia memeluk pinggang suaminya erat. Juga mengecup pipi sang suami mengabaikan para maid yang masih menunduk.


"Rumah ini sudah terdaftar atas nama mu. Kaulah pemilik rumah ini, Sayang! Apa pun yang ingin kau lakukan, lakukan saja! Jika tidak suka dengan interior nya, kita boleh melakukan renovasi lagi.


Nabila menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rumah sudah sebagus ini, apalagi yang harus dia renovasi. Semuanya sudah lengkap, dia hanya tinggal menempati rumah itu dan semuanya benar-benar sangat indah.

__ADS_1


Keduanya kembali menyusuri rumah tersebut. Sampai, Bara menunjukan ruangan yang lebih terlihat seperti sebuah basement di dalam rumah itu. Semua mobil yang dia miliki terparkir dengan sangat apik. Koleksi mobil Bara, dan beberapa mobil yang sudah dia beli untuk memenuhi kebutuhan istrinya juga ada di sana.



"Mas! Kenapa banyak banget mobilnya? Mau jualan di sini?" tanya Nabila mendongak menatap sang suami. Bara kembali tersenyum. Tentu saja dia tidak melakukan itu. Demi kebahagiaan istrinya, dia akan memberikan apa pun yang istrinya mau.



"Masyaallah ... Mas mau bikin butik di rumah?" Pertanyaan-pertanyaan itu terus terlontar dari bibir Nabila. "Gede banget walk in closet nya. Mas yakin Mas gak berhutang untuk menyediakan semua ini?"


Tawa renyah keluar dari mulut seorang Bara. Dia menuntun istrinya dan mendudukkan sang istri di atas kursi bundar di ruangan itu.


Nabila menitikkan air mata. Bahunya bergetar, dia menarik leher suaminya memeluk sang suami dalam dekapan hangat. Nabila semakin yakin, jika suaminya ini memang orang yang baik. Terlepas seperti apa Bara di masa lalu, Nabila tidak akan menoleh karena hal itu.


"Terima kasih, Mas! Bila sayang sama Mas Bara! Sangat!" ucap wanita itu masih memeluk suaminya. "Akhhh!" Tiba-tiba dia meringis yang mana itu membuat Bara melepaskan pelukannya.


"Apa yang terjadi? Apa mereka nakal lagi?" panik Bara seraya menunduk mengusap perut istrinya yang sudah semakin membesar.


Nabila menggelengkan kepalanya. Wanita itu tersenyum menanggapi kehebohan suaminya yang sering kali berlebihan. "Mungkin mereka ikut bahagia, Mas. Anak-anak kita senang karena sekarang kita tinggal bersama banyak orang. Bila tahu kok, Mas mempekerjakan banyak orang karena ingin membantu mereka yang tidak memiliki pekerjaan. Juga, Bila tahu jika Mas Bara sudah banyak menginfakkan uang Mas Bara untuk hal-hal yang baik. Bila seneng, Mas! Semoga ini menjadi berkah untuk Mas Bara, untuk keluarga kita."

__ADS_1


"Aamiin!" jawab laki-laki itu mengecup kening sang istri juga mengecup perut istrinya sebanyak tiga kali.


"Wihh ... dia nendang, Sayang!" kata Bara antusias. Dia semakin menempelkan pipinya pada perut itu saking sukanya Bara ketika berinteraksi dengan para bayi di dalam perut sang istri.


...


"Boss Kecil!" panggil Durant pada Ezra. Dia sudah membujuk Ezra untuk segera masuk ke rumah barunya, akan tetapi Ezra malah sibuk dengan ponsel. "Boss Kecil lagi apa?" tanya Durant lagi.


"Kilim foto!"


"Kirim foto? Sama siapa?" tanya Durant lagi.


"Ezla kilim foto sama ayang Nana. Dia pasti suka liat lumah balu Mama Nabila sama Papa Bala. Kata Papa, wanita itu suka hal-hal yang bagus. Itulah kenapa Papa suka kasih balang-balang mewah sama Mama!"


Durant hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Terserah lah Ezra mau melakukan apa. Dia sudah sangat bosan karena bocah kecil ini selalu menunjukan ke uwuannya dengan bocah kecil lain yang katanya adalah anak dokter yang dulu merawat Ezra.


"Tuh ... Nana bilang, Nana suka sama lumah balu Ezla!" Bocah itu menunjukan layar ponselnya kepada Durant. Ya, setidaknya Durant sudah bisa membaca percakapan WA Ezra dan Nana nya. "Mangkanya Om Dulant! Om juga kasih lumah buat Aunty Jess-Jess. Apa Om gak punya uang buat beli lumah? Nanti Ezla bilang sama Papa, bial Papa Ezla belikan ya! Papa Bara kan banyak uang!"


"Sombongnya!" ucap Durant melongo menatap Ezra yang sudah mulai masuk ke rumahnya. Dia ingin meruntuki mulut pedas bocah itu, akan tetapi, apa yang Ezra katakan ini memang patut dia coba.

__ADS_1


"Sepertinya aku memang harus membeli rumah untuk Ayang Jessica!"


__ADS_2