
"Mas Bara!" gumam Nabila ketika matanya melihat sang suami tidur dengan posisi duduk seraya menggenggam tangannya. Dia tersenyum, mengusap kepala itu dengan usapan yang sangat lembut, sepertinya dia sudah merasa lebih baik karena perutnya tidak sesakit sebelumnya.
"Honey!" ucap Bara. Dia menarik tangan Nabila yang ada di atas kepalanya kemudian mengecup punggung tangan itu cukup lama. "Kau sudah bangun? Bagaimana? Apa perutnya masih sakit? Haruskah saya panggilkan dokter?"
Nabila tersenyum. Kepalanya menggeleng menanggapi apa yang suaminya katakan. "Sudah jam 5, Mas! Sebaiknya Mas shalat dulu! Aku baik-baik saja!" gumam wanita itu.
Bara mengangguk, dia memanggil seorang suster untuk memberikan keperluan istrinya terlebih dulu. "Apa mau ke kamar mandi? Aku bantu," kata Bara hendak memangku Nabila. Wanita itu menahan dada suaminya.
"Mas shalat dulu! Selesai shalat, baru bantu Bila ke kamar mandi ya!"
Mau tidak mau Bara menuruti apa yang istrinya katakan. Barulah, setelah semuanya selesai, dia membantu istrinya ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri dan yang lainnya. Nabila agak kebingungan. Sikap Bara ini membuatnya takut. Memang, Bara selalu memperlakukannya dengan baik. Namun, perhatiannya saat ini lebih meningkat dari perhatian sebelumnya. Bahkan, untuk sekedar berganti pakaian pun, Bara yang harus memakaikannya.
"Mas!" panggil Nabila sesaat setelah suaminya mendudukkannya di atas ranjang. "Apa aku sekarat?" tanyanya yang mana itu membuat Bara tertegun. "Apa dokter bilang kalau aku memiliki penyakit yang serius? Aku akan meninggal dalam waktu dekat?" tanya nya lagi seraya menunduk menatap suaminya. Mata Nabila berkaca-kaca, meskipun bibir itu berusaha untuk tersenyum, sangat terlihat jika saat ini dia sangat takut dan sedih. "Mas, jawab. Kenapa diem aja!"
Kening Nabila mengkerut ketika suaminya memegang kedua bahunya dengan bibir tersenyum. Senyum yang selama ini sangat jarang terlihat.
"Sebenarnya ... tadi malam dokter bilang sesuatu!"
"Bilang apa?" tanya Nabila semakin penasaran.
....
__ADS_1
"Jadi, bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Bara masih dengan wajah khawatirnya. Dia benar-benar bingung lantaran hal seperti ini memang jarang terjadi. Sudah ditanyakan kepada bodyguard yang menjaga istrinya pun, istrinya tidak memakan sesuatu yang salah yang akan membuatnya ada dalam kondisi berbahaya.
"Begini, Pak! Dari rekam medis yang saya lihat, sepertinya ada kesalahan di sini!"
"What? Kesalahan apa?"
"Kapan terlahir kali kalian berhubungan intim?" tanya dokter itu.
"Kemarin malam!" jawab Bara tanpa ada rasa malu sedikit pun.
Dokter itu terlihat mengangguk - anggukan kepalanya. Dia tersenyum seraya menyodorkan sesuatu kepada Bara. Karena proses pemeriksaan dilakukan tertutup dikarenakan dugaan awal yang salah, Bara memang tidak melihat hal ini. Terlebih saat itu Bara tidak ada ketika dokter sedang melakukan pemeriksaaan.
"Hah?"
Lagi-lagi dokter itu mengangguk mengiyakan. "Anda lihat bulatan di sini!" tunjuk dokter itu pada sebuah foto hasil USG. "Ini adalah kantung kehamilan, dan titik-titik ini adalah calon bayi Anda!"
Bara tertegun untuk beberapa saat. Dia masih berusaha untuk mencerna apa yang dokter itu katakan. Namun, saat dia menyadari sesuatu, ada yang salah dengan apa yang dokter itu sampaikan padanya. "Titik-titik, maksudnya anak saya ada dua?" tanya Bara memastikan.
"Lebih tepatnya tiga, Pak!"
"Ya Tuhan!" Bara langsung berdiri dari duduknya seraya membekap mulutnya tidak percaya. Bukan hanya satu atau dua tapi tiga sekaligus. "Dokter, Dokter tidak sedang bercanda, 'kan? Ini sungguhan? Apa Dokter tidak salah? Coba di lihat lagi!" ucap Bara masih tidak percaya akan apa yang dia dengar .
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini memang benar, Pak. Istri Anda hamil kembar tiga. Tapi ... saya harus menyampaikan hal yang mungkin akan kurang menyenangkan untuk Bapak!"
Bara kembali duduk, seolah-olah sudah memiliki setting khusus pada wajahnya, ekspresi Bara saat ini sangat berbeda dengan ekspresi sebelumnya. "Katakanlah!"
"Jadi, sebenarnya istri Anda tidak menstruasi. Itu flek karena kehamilan yang sedang dia jalani. Hanya saja, karena ini cukup beresiko, dan saya lihat kandungan istri Anda juga tidak sekuat kandungan ibu hamil pada umumnya, Anda harus bisa menjaganya dengan baik. Saya sarankan agar di trimester pertama kalian tidak melakukan hubungan intim dulu! Setelah trimester kedua, kita akan kembali mengevaluasi apakah ada keluhan lain atau tidak. Semakin banyak bayi yang istri Anda kandung, maka kehamilan ini juga akan semakin beresiko. Apa Bapak mengerti apa yang saya katakan?"
Bara hanya mengangguk. Bagaimana mungkin ini tidak jelas, dia sangat tahu dan sangat mengerti.
"Hmmm ... satu hal lagi, jangan bermain-main dengan dada istri Anda karena ini juga akan memicu kontraksi! Besok sore istri Anda sudah boleh pulang. Nanti akan saya akan meresepkan vitamin dan juga yang lainnya! Dan untuk sementara waktu, saya sarankan agar istri Anda tidak terlalu lelah dulu. Jika memang ada pekerjaan, semakin ringan semakin baik. Tapi, istri Anda harus tetap rajin bergerak ya Pak. "
Nabila menitikkan air mata untuk yang ke sekian kalinya. Dia menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Masyaallah ... Alhamdulillah ... Mas Bara gak bohong, 'kan?" tanya Nabila dengan wajah sendunya. Bara menggelengkan kepala, dia mengambil dompetnya dan memperlihatkan foto kecil hasil USG yang dokter berikan. Dia sampai harus meminta Durant untuk memperkecil ukuran foto itu agar muat di dompetnya.
"Masyaallah, Mas!" Nabila benar-benar tidak menyangka hari seperti ini akan datang padanya. Setelah dikatakan mandul oleh keluarga suaminya, kini dia bisa bernapas lega karena ternyata, Qodarullah, Bara berhasil membuatnya hamil, bukan cuma satu tapi tiga. "Ya Allah, Mas! Aku sedang tidak bermimpi bukan?"
Bara menggelengkan kepalanya, dia merengkuh tubuh bergetar sang istri. Nabila yang menangis semakin menjadi-jadi membuatnya ikut berkaca-kaca. Tangis bahagia istrinya ini membuat dia ikut merasakan apa yang istrinya rasakan. Rasa syukur Nabila atas kehamilannya seolah membuktikan jika wanita ini memang benar-benar sudah siap hidup dengannya.
"Sekarang, kau sudah menjadi milikku seutuhnya, Nabila. Tidak akan ada celah untuk kembali. Apa pun yang terjadi, kau akan tetap bersamaku!"
Dering ponsel di atas nakas membuat keduanya menoleh, Nabila yang saat itu masih sesenggukan mengambil ponselnya, menatap ponsel itu cukup lama.
"Bibi?" tanya Bara pada sang istri. Nabila hanya mengangguk mengiyakan. "Kita temui mereka untuk yang terakhir kali, Sayang!"
__ADS_1