Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 16. Masa Lalu


__ADS_3

Nabila menatap nyalang langit malam dari dinding kaca yang ada di apartemennya. Wanita itu mengembuskan napas kasar untuk yang kesekian kali. Bayangan 5 tahun lalu kembali muncul. Hatinya, sakit, terluka, tentu saja. Bagaimana mungkin dia tidak terluka saat mengetahui fakta yang sangat menyedihkan.


Nabila tersenyum seraya menarik kopernya masuk ke pelataran rumah, wanita cantik itu baru pulang dari perjalanan bisnis dan langsung bergegas untuk menemui suaminya.


"Assalamu'alaikum!" kata Nabila seraya mengetuk pintu. "Mas Ramadhan. Nabila pulang, Mas!" ucapnya lagi saat tidak ada siapapun yang menyahut. Bahkan, asisten rumah tangga saja tidak ada. "Mbak ... ini saya pulang!"


Nabila mencoba untuk memencet bel beberapa kali, tetapi masih tidak ada siapapun. Wanita itu tersenyum saat mendengar ponselnya berdering. Awalnya dia pikir itu adalah Ramadhan, suaminya, tetapi saat mendengar suara di sebrang telepon. Nabila baru sadar jika itu adalah orang lain. Orang yang tidak dia kenal.


"Selamat, malam Bu, apa benar ini dengan Ibu Nabila?" tanya orang di sebrang telepon.


"Malam, Pak. Iya betul, saya sendiri! Ada perlu apa ya, Pak?" tanyanya kembali.


Nabila terus mendengarkan ucapan laki-laki di seberang telepon. Awalnya Nabila masih bersikap baik-baik saja. Namum, tiba-tiba setitik air mata jatuh dari pelupuk mata itu. Tatapan Nabila menjadi tidak fokus, dia melirik ke sembarang arah seolah bingung nan linglung.


"Ini tidak mungkin," kata Nabila seraya menggelengkan kepalanya. Dia langsung berlari menuju jalan besar dan menghentikan sebuah taksi.


...


Sura riuh dari banyaknya orang yang berlalu lalang seolah tak bisa menembus gendang telinga seorang Nabila. Dia masuk ke ruang mayat dengan langkah yang sangat lemah. Jantungnya berdegup sangat kencang, Nabila benar-benar berharap jika ini hanyalah mimpi. Semuanya akan kembali setelah Nabila bangun dan membuka mata di pagi hari.


Kini, tubuh wanita itu berhenti di samping tubuh sebuah mayat yang sudah tertutup kain putih. Tangan gemetar Nabila membuka kain itu hingga, nampak lah wajah sang suami, wajah yang biasanya tersenyum kini tidak menunjukkan ekspresi apapun. Pucat, sangat pucat, bibirnya sudah tidak ranum lagi. Kaki Nabila refleks mundur beberapa langkah, tangan kanannya menutup mulut yang ternganga karena keterkejutan luar biasa.


"Mas Ramadhan. Ini tidak mungkin, Pak, bisakah Anda mencubit saya!" pinta Nabila pada orang yang berjaga di ruangan itu. Nabila masih berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi. Namun, saat dia menggigit bibirnya, napas wanita itu langsung tercekat, pasokan oksigen dari paru-parunya seolah tertahan di kerongkongan. Buliran bening mulai meluncur degan sangat cepat. "Mas Ramadhan," gumam Nabila kembali mendekati mayat tersebut. Tubuhnya luruh ke lantai, bahunya bergetar sangat hebat. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia tiba-tiba harus menerima fakta seperti ini!

__ADS_1


"Mas ... Ramadhan!" gumam Nabila dengan suara yang sangat pelan. "Kenapa Mas ninggalin Nabila seperti ini, Mas!" Dia menangis cukup lama, hingga, saat dia mengingat sesuatu, Nabila kembali keluar dan menuju tempat lain.


Disinilah dia sekarang, di sebuah ruang ICU rumah sakit. Nabila menatap seseorang wanita yang terbaring di atas hospital bad dengan keadaan yang juga sangat menyedihkan.


"Nabila," panggil wanita itu dengan suara yang sangat lirih. "Maafkan aku, maafkan aku karena sudah mengambil suamimu. Kami tidak memiliki niat untuk mengkhianatimu. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul, kami tidak bisa menahannya."


Nabila tergelak, dia menengadahkan kepalanya ke atas, ya Tuhan, fakta apa lagi ini. Kenapa kebahagiannya harus direnggut dengan cepat. Terlebih, fakta kali ini jauh lebih menyakitkan, stelah melihat ponsel almarhum suaminya, Nabila baru sadar jika suaminya dan Katrin memiliki hubungan yang spesial. Nabila juga menemukan sebuah foto yang memperlihatkan sang suami dan juga sahabatnya yang sedang melangsungkan pernikahan siri.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Katrin. Aku sudah menganggap mu sebagai Kakak ku sendiri. Aku memercayai mu. Bahkan saat kau mengatakan akan pergi ke luar negeri, aku percaya. Namun, apa yang kau berikan ... kau dan Mas Ramadhan memiliki hubungan gelap. Dosa apa yang sudah aku lakukan pada kalian, kenapa kalian sangat tega!"


Suara Nabila benar-benar sangat lirih, dia sangat marah, rasanya Nabila sangat ingin mencakar wajah sahabatnya saat itu juga, tetapi, saat melihat kondisi Katrin yang tidak memungkinkan, Nabila di paksa untuk menelan kekesalan itu sendiri. Dia hanya bisa menangis, menangis sampai mata cantiknya sembab. Kepalanya pusing, Nabila mual dan sangat ingin muntah.


Bulir bening meluncur dari sudut mata Katrin. Wanita itu menangis dalam diam, dia benar-benar sangat menyesal karena sudah mengkhianati Nabila. Namun, dia bisa apa, cinta yang dia miliki untuk suami sahabatnya itu sangat besar.


"Nabila ... aku mohon, maafkan aku, tidak, jangan maafkan aku!" kata Katrin dengan suara tersendat. Nabila ingin keluar dari kamar itu, tetapi suara Katrin kembali menghentikan langkahnya.


Deg! Anak?


Nabila kembali berbalik, dia ingin menyumpah serapahi Katrin, tetapi, saat melihat wanita itu sedang kesulitan, Nabila mengurungkan niat.


"Tolong jaga anak kami dengan baik, Nabila. Maafkan kami ... kau adalah wanita yang baik. Maafkan kami ... maafkan kami!"


Napas Katrin mulai tidak stabil. Wanita itu bernapas seperti orang tercekik.

__ADS_1


"Istighfar, Kak. Istighfar!" kata Nabila seraya mengusap kepala Katrin lembut. Entah terbuat dari apa hati wanita ini sampai dia mampu menekan emosinya pada orang yang sudah memberikan luka yang sangat mendalam.


Nabila mendekatkan mulutnya ke kuping Katrin. Dia mulai menuntun Katrin untuk mengucapakan dua kalimat syahadat, dan saat kalimat itu selesai Katrin ucapkan, wanita itu benar-benar pergi meninggalkan Nabila dengan segala luka yang telah dia torehkan.


Air mata Nabila kembali menetes, dua orang ini mengalami kecelakaan mobil saat Nabila sedang dalam perjalanan pulang. Ini benar-benar sangat kebetulan, takdir yang sangat mengerikan. Sekarang, apa yang harus Nabila lakukan, siapa yang harus dia salahkan atas kesakitan yang dia rasakan. Dua orang itu telah pergi, tetapi rasa sakit yang mereka berikan tidak akan pernah bisa hilang.


"Mama!" panggil Ezra dari belakang Nabila. Wanita itu langsung mengusap air matanya. Dia berjongkok kemudian merentangkan tangan untuk memeluk malaikat kecilnya. Satu-satunya harta yang almarhum suaminya berikan.


"Kenapa Mama belum tidul? Ini sudah malam. Apa tangan Mama masih sakit? Mau Ezla tiupkan?"


Nabila menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Mama baik-baik saja, Sayang. Ezra kenapa belum tidur, mau mama bacakan dongeng?"


Ezra mengangguk antusias. Nabila terkekeh kecil, dia melepaskan pelukannya kemudian menuntun Ezra untuk kembali ke kamar mereka.


"Terima kasih karena sudah menitipkan anak sebaik Ezra, Mas, Katrin."


.


.


.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Bos?" tanya Durant pada laki-laki di depannya.

__ADS_1


"Belilah cafe tersebut atas nama Nabila. Jangan katakan apa pun pada wanita itu. Dia tidak boleh tahu jika kita menggunakan namanya untuk membeli properti!"


"Baik, Bos!"


__ADS_2