
Nabila menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya Bara membiarkan dia bekerja di ruangannya. Di kursi kebesarannya sedangkan dia memiliki kursi lain di tempat itu. Terlebih, ada sofa yang ukurannya cukup besar, ya sangat pas untuk berbaring, bantal, selimut, jangan lupakan pengatur suhu udara. Kelembapan. Komplit sudah. Durant benar-benar menyulap ruangan ini menjadi sebuah kamar hotel.
Bibir itu masih mengerucut sambil menatap suaminya yang berada tak jauh darinya. Laki-laki itu terlihat biasa saja dan Nabila malah dibuat semakin kesal.
"Saya ada meeting sebentar. Kalau butuh sesuatu, telpon saya langsung! Semua kebutuhanmu sudah saya siapkan. Inget, setiap satu jam sekali lakukan perenggangan. Dan ya, jika saya terlambat, tidur siang tepat waktu!"
Nabila yang mendapat kecupan dari Bara masih tetap dengan wajah limau nya. Dia terlalu kesal saat mengetahui jika dia tidak boleh keluar dari ruangan ini barang semenit pun jika tanpa suaminya. "Ya sudahlah!" Toh dia niat ke sini juga untuk bekerja. Mungkin dia akan membutuhkan udara segar, tapi dia bisa meminta suaminya untuk menemaninya, nanti.
Baru tiga puluh menit bekerja, Nabila sudah mendengar suara keributan dari luar pintu ruangan suaminya. Dia melirik puntu itu dan berjalan mendekatinya. "Saya cuma mau lihat keadaannya. Saya tidak akan keluar!" ujar Nabila kepada bodyguard wanita yang sengaja berjaga di dalam atas perintah suaminya. Bodyguard itu mengangguk dan membukakan pintu untuk majikannya.
"Maurin!" gumam Nabila saat melihat sahabatnya sedang berdebat dengan para penjaga. "Ada apa?" tanya Nabila kebingungan.
"Ini, Bil! Anak buah suami kamu. Aku cuma mau kasih Teh jahe untuk kamu, tapi mereka melarang aku masuk. Teh jahenya keburu dingin," ujar Maurin dengan wajah sendu. Nabila mendelik menatap para bodyguard nya tidak suka. Dia menarik Maurin masuk ke ruangan suaminya dan membawanya duduk di sofa.
"Minum dulu, Bil!" ujar Maurin. Nabila hanya mengangguk tapi belum meminum teh buatan sahabatnya itu.
"Wuahhhh ... aku baru pertama kali masuk ke sini, Bil. Enak banget ya. Luas, pasti nyaman banget," celoteh Maurin memperhatikan isi ruangan itu. Nabila hanya tersenyum. Memang, saat pertama kali masuk ke ruangan ini, dia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang di rasakan Maurin sekarang.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Nabila dari dalam. Dia menatap orang yang baru masuk ke ruangan itu dengan seksama. Jessica, wanita cantik itu membawa sebuah cangkir teh.
"Bu. Tuan meminta saya untuk membuatkan Anda Teh Jahe!" ucapnya seraya tersenyum.
"Duduklah! titah Nabila. "Eummm ... gimana ya, saya sudah memiliki Teh dari Maurin, yang itu buat kamu aja, ya!"
__ADS_1
Jessica tersenyum, dia meletakkan tehnya di samping teh yang Maurin buatkan. Matanya memincing menatap Maurin tidak suka. Dia mendelik, menatap lurus ke arah dinding kaca kemudian tersenyum menyeringai.
"Astagaaaa! Apa ada orang jatuh?" ucap Jessica bertingkah seolah-olah jika saat ini dia sedang sangat terkejut dan ketakutan. Maurin dan Nabila refleks menatap ke arah dinding kaca yang dilihat oleh Jessica. Sementara Jessica sendiri, dia sibuk menukarkan gelas yang di bawa olehnya dengan gelas yang di bawa oleh Maurin.
Senyum simpul tersungging di bibirnya. "Loh, gak ada ya? Tadi aku beneran liat itu, kayak ada yang melayang!" ujarnya lagi.
Nabila dan Maurin mendesah melihat ke arah Jessica. "Kayaknya kamu salah lihat," gumam Nabila. Wanita itu mengambil teh yang ada di depannya. Namun, saat ingin meminum itu, tiba-tiba bodyguard datang menghampiri dia.
"Ya sudah, saya bagi!" ucap Nabila menuangkan sedikit tehnya ke atas alas piring kecil di bawah cangkirnya dan memberikan itu kepada bodyguardnya. "Bagaimana?" tanya Nabila.
"Aman, Nyonya Boss!"
Nabila memutar bola mata, dia meminum tehnya sedikit demi sedikit. Dua wanita di depannya tersenyum, termasuk Jessica yang tidak pernah bisa melepaskan fokusnya dari Nabila.
"Habiskan Bil! Sepertinya kau kurang enak badan ya. Wajahmu agak pucat!" tanya Maurin dengan wajah khawatirnya.
"Aku baik-baik aja!" jawab Nabila! "Minum aja, Tehnya, Jess! Maaf ya, nanti, kalau kamu datang lebih cepat, saya janji, saya akan minum teh buatan kamu!"
Jessica tersenyum kecut, "Tidak apa-apa, Bu! Kalau begitu, saya permisi dulu! Saya minum tehnya di belakang saja!"
Nabila mengangguk-anggukan kepalanya. Dia memperhatikan punggung Jessica yang semakin lama semakin jauh kemudian menghilang di balik pintu.
"Bil!"
"Apa?" tanya Nabila.
__ADS_1
"Kamu tahu gak sih? Dia itu kayaknya lagi berusaha deketin kamu! Apa kamu gak curiga? Suami kamu juga kan lagi meeting. Buat apa dia minta Jessica untuk kasih kamu teh. Untung kamu gak minum teh yang dia bikin! Nih aku kasih tahu, jangan terlalu percaya sama orang, bisa jadi, orang yang ada di sekitar kamu inilah yang gak suka sama kamu. Jessica pan udah lama suka sama suami kamu. Hati-hati aja!"
Lagi-lagi Nabila hanya mengangguk. Dia meminum teh buatan Maurin sampai tandas. Wanita itu tidak tahu jika teh yang dia minum sebenarnya bukan teh buatan sahabatnya melainkan teh buatan Jessica.
....
Bara menyunggingkan senyum saat dia melihat Nabila malah tertidur di atas kursinya. Dokter sudah memperingatkan dia jika tanda-tanda kehamilan mungkin akan segera muncul. Salah satunya saat Nabila mungkin lebih sering mengantuk.
"Saya sudah bilang kalau kamu seharusnya diam di rumah saja!" ujar Bara. Dia melepaskan jasnya kemudian memindahkan istrinya ke atas sofa besar. Tangan yang biasanya hanya memerintah itu melepaskan pantofel yang istrinya kenakan tanpa ada rasa sungkan atau apa, dia menyelimuti istrinya kemudian duduk di kursi kecil yang tak jauh dari tempat istrinya berada.
"Semoga kau selalu baik-baik saja!" ujar Bara mengecup kening istrinya lembut. "Jaga Mommy kalian ya Nak!" pintanya pada perut Nabila yang masih sangat rata. Cukup lama Bara menatap wajah istri cantiknya. Bara beranjak dari duduknya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Namun, tiba-tiba dia melihat Nabila terbangun seraya membekap mulutnya. Wanita itu langsung berlari ke arah kamar mandi kecil di ruangan itu.
Huekkk!
"Honey! Are you okay? Buka pintunya, Sayang! Biarkan aku membantumu! Kau kenapa?" Bara masih terus berusaha untuk mengendor pintu kamar mandinya tapi masih tidak ada jawaban. Dia hanya bisa mendengar Nabila memuntahkan isi perutnya. Jijik? Tidak. Dia hanya terlalu khawatir pada istri cantiknya itu. "Darling, please open the door! Honey!" Bara mulai putus asa karena istrinya itu tak kunjung keluar.
Kriettt!
Bara bernapas lega saat melihat istrinya membuka pintu. Dia langsung memegang kedua bahu sang istri karena istrinya itu terlihat sangat lemas.
"Kau baik-baik saja? Does your stomach hurt? Kita ke dokter ya!"
"I'm well, Mas Bara. "Don't be afraid, hmm! Mungkin aku hanya mual karena kehamilan."
"Tapi saya tidak yakin jika kita belum menemui dokter. Ikut ke rumah sakit ya? Please!"
__ADS_1