
Bara tidak banyak bertingkah saat Nabila sedang memakaikan dasi untuknya. Dia hanya menunduk, menatap wajah Nabila untuk mengisi baterai. Ya anggaplah seperti itu. Mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama, jadi Bara harus benar-benar memanfaatkan waktu ini untuk melihat wanita di depannya.
"Apa saya melakukan kesalahan lagi?" tanya Bara saat melihat Nabila menekuk wajahnya.
Nabila tidak menjawab. Wanita itu melengos dari kamar Bara menuju ruang cuci untuk membersikan pakaian laki-laki itu. Bara mengerutkan kening. Masalah kemarin lusa sudah selesai. Sekarang masalah apa lagi yang membuat Nabila marah seperti ini. Laki-laki itu mengangkat kedua bahunya. Masa bodoh lah dengan itu. Toh dia sendiri sangat yakin jika dia tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Aku berangkat!" kata Bara saat hendak keluar dari apartemennya. Dia sudah akan membuka pintu, tetapi tidak jadi karena orang itu masih belum menjawab. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah dalam dan kembali berteriak. "Aku berangkat!"
"Wa'alaikumssalam!"
Nabila mengembuskan napas panjang setelah mendengar suara pintu tertutup. Entah kenapa moodnya benar-benar hancur hari ini. Kesalahan apa yang telah dia lakukan sampai dia mendapatkan hukuman. Apa mungkin ... "Bismillah ... semangat, Nabila!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Semua pekerjaan telah selesai dia kerjakan. Hari ini pekerjaannya memang agak banyak karena dia harus membersihkan seluruh ruangan yang ada di apartemen tersebut. "Alhamdulillah!" ucap Nabila sembari tersenyum saat melihat apartemen itu kinclong, bersih tanpa debu. Sekarang dia hanya harus kembali dan bersantai bersama dengan Ezra.
....
Bara menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang sedang menelpon di ujung koridor. Bukannya apa, orang itu menunjukan gelagat yang tidak biasa. Ada yang mencurigakan. Pikir Bara saat itu. Bara berjalan semakin mendekat, sementara Durant ikut membuntutinya dari belakang. Mereka ini sudah seperti maling yang mengendap-endap hendak mencuri, padahal itu memang perusahaan milik Bara.
"Ada apa, Bos?" tanya Durant berbisik di dekat Bara. Laki-laki itu hanya menaruh jari telunjuknya di atas bibir karena dia benar-benar sangat penasaran akan percakapan yang dilakukan orang itu.
Setelah beberapa menit, ternyata Bara tetap tidak menemukan apa pun. Dia keluar dari persembunyian lalu menghampiri orang tersebut. "Pagi, Pak, Fino!" sapa Bara.
Laki-laki bernama Fino itu terperanjat kaget. Dia langsung memasukan ponselnya ke dalam saku celana tanpa mematikan panggilannya.
"Pak Bara!" kata Fino seraya tersenyum. Bara membalas senyum Fino, senyum yang dia yakini bukan senyum tulus. Melainkan hanya senyum keterpaksaan. "Bapak ada perlu sama saya?" tanya Fino canggung. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Bara akan menyapanya seperti ini. Rumor yang tersebar tentang Bara ini tidak baik. Banyak yang mengatakan jika Bara sangat tegas cenderung kejam dan sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.
Lagi-lagi Bara menggelengkan kepala. "Saya hanya ingin menyapa Anda, Pak." Bara menarik ujung bibirnya kemudian berbalik meninggalkan Fino yang masih mematung di tempatnya.
Fino kembali mengeluarkan ponselnya. Dia menempelkan ponsel itu ke telinga, kemudian meminta orang di sebrang telepon untuk mengakhiri panggilan. "Hmmm ... saya akan menelpon lagi nanti!" Fino tersenyum penuh arti. Dia menggerakkan kepalanya sedikit kemudian berlalu dari tempat itu.
Jika Fino sudah selesai dengan rasa terkejutnya, tidak dengan Bara. Laki-laki itu masih berusaha untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja Fino lakukan.
"Durant!"
__ADS_1
"Siap, Bos!"
"Selidik si Fino! Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang bisa merugikan perusahaan!"
"Baik, Tuan!"
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Bara.
"Selamat pagi, Pak!" sapa Jessika. Sekertaris Bara itu menyodorkan secangkir kopi kepada laki-laki di depannya. "Saya buat sesuai selera, Pak Bara."
Bara hanya menaikan salah satu alisnya tanpa mau melihat ke arah Jessica. Laki-laki itu kembali fokus pada layar laptop di depannya dengan wajah malas. Mengerti akan rasa kurang nyaman Bara, Durant pun mempersilakan Jessica untuk kembali ke luar. Wanita itu tersenyum, membungkuk ke arah Bara kemudian berbalik. Namun, sebelum menutup pintu, dengan tidak sopannya dia tetap berdiri di sana untuk mengintip bos-nya tersebut.
"Durant. Tolong, buatkan jadwal khusus untuk saya. Kau boleh mencocokan jadwal khusus saya dengan jadwal yang dibuatkan, Jessica, tapi jangan sampai dia tahu kegiatan apa yang akan saya lakukan!"
"Baik, Bos!" jawab Durant segera. Laki-laki itu melirik ke arah pintu dengan ekor matanya. Hembusan napas terdengar, Jessica ini selain menyebalkan ternyata juga sangat ceroboh, Durant dengan cepat menutup pintu itu dan kembali ke hadapan bosnya.
"Sial ... sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan!" gerutu Jessica. Dia melirik ruangan Bara dengan lirikan tajam. Namun, karena dia tidak bisa melakukan apa pun, dia kembali ke mejanya dan hanya akan menunggu sampai dia memiliki kesempatan.
Bara menyodorkan ponselnya. "Saya ingin bertemu dengan orang itu. Jangan sampai Nabila tahu, dan ya ... saya minta, kau juga belajar bahasa Indonesia agar kita tidak kesulitan. Cari penerjemah terbaik untuk mendampingi kami saat melakukan pertemuan!"
"Baik, Bos. Saya akan melakukannya!"
"Hmmm ... kau bisa keluar sekarang!"
....
Nabila memperhatikan Ezra dengan seksama. Anak laki-laki nya itu sudah sangat besar. Dia sangat bersyukur karena sekarang Ezra bisa beraktivitas layaknya anak-anak seusianya. Bayangan dimana dulu Ezra sering kesulitan karena harus membawa kateter kemana-mana juga dengan kondisi kesehatan yang buruk membuat Nabila kembali merasakan sesak seolah-olah dia sedang ada pada waktu tersebut.
"Mama!" panggil Ezra pada ibunya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Nabila seraya tersenyum.
__ADS_1
"Sini, Ma! Main sama Ezla. Ezla mau buat pesawat terbang," celotehnya. Di depan anak itu sudah banyak sekali lego yang berserakan. Nabila mengangguk, dia hendak menghampiri anaknya, akan tetapi tiba-tiba, dia mendapatkan telpon dari seseorang.
"Assalamu'alaikum. Iya, iya Paman. Iya, Nabila kesana sekarang!"
Wanita cantik itu kembali meletakan ponselnya di atas meja kemudian menghampiri sang anak. "Sayang ... ikut mama sebentar, ya. Mama mau ketemu sama Paman kamu!"
Ezra mengangguk antusias. Bocah kecil itu langsung beranjak dan berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Mbak!" panggil Nabila pada mengasuh Ezra.
"Iya, Bu!"
"Mbak, saya mau keluar sebentar. Tapi, kalau Pak Bara pulang lebih dulu, minta tolong sampaikan kalau saya lagi ada urusan."
....
Setelah beberapa saat, Nabila dan Ezra masuk ke sebuah cafe cukup terkenal di kota itu. Mereka tersenyum ketika melihat seorang laki-laki yang sudah tidak muda lagi mengangkat tangan ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum, Paman. Apa kabar?" sapa Nabila. Dia dan Ezra langsung duduk seteleh dipersilakan oleh pamannya.
"Wa'alaikumssalam. Alhamdulillah baik. Kalian apa kabar?" tanya Paman sambil tersenyum saat melihat Ezra.
"Alhamdulillah baik, Paman."
Laki-laki di depan Nabila mengembuskan napas kasar. Dia tersenyum ke arah Nabila tetapi dengan senyum terpaksa. "Paman sebenarnya mau minta maaf. Bibi kamu, dia minta paman untuk menanyakan uang yang waktu itu," kata Paman Purnomo dengan wajah lesu. Dia sebenarnya tidak tega mengatakan ini, tetapi karena sang istri terus mengoceh, Purnomo tidak bisa melakukan apa pun. Lagipula, dia memang sedang membutuhkan uang itu. "Maaf, Bil, paman bukannya tega sama kamu. Tapi uang 25 juta itu bukan uang yang sedikit. Kami butuh uang itu untuk modal. Kalau bisa, di cicil aja gak papa, tapi jangan sampai gak di bayar seperti sekarang."
Nabila tersenyum, dia sama sekali tidak tersinggung. Dia memang memiliki hutang, dan hutang itu memang harus dia bayar.
"Begini, Paman. Bila baru ada uang 10 juta, kalau Paman gak keberatan, Bila bayar segitu dulu."
Paman Purnomo mengangguk dengan senyum tipis. Tentu saja dia tidak akan keberatan. Bagaimana mungkin dia menolak 10 juta. Daripada tidak di bayar, mending ya di ambil saja uangnya.
Karena terlalu asik berbincang, Nabila tidak sadar, jika saat itu, Ezra sudah tidak ada di sampingnya. Bocah itu sedang berkeliling di area cafe. Memang pada dasarnya dia anak kecil, semua barang yang dia lihat dia sentuh.
__ADS_1
"Jangan!" tiba-tiba seorang pelayan berteriak ke arah Ezra. Ezra yang kala itu berbalik dengan cepat tidak sengaja menyenggol sebuah vas kecil hingga vas itu jatuh berkeping-keping.
"Ezra!" gumam Nabila dengan wajah paniknya.