Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 6. Operasi Untuk Ezra


__ADS_3

Malam harinya operasi untuk Ezra benar-benar dilakukan. Nabila menunggu lampu di atas pintu operasi padam. Sudah beberapa jam sejak anaknya itu masuk ke ruang operasi, tapi masih belum ada tanda-tanda jika operasi telah selesai dilakukan. Para perawat hilir mudik mengambil sesuatu yang Nabila sendiri tidak tahu itu apa. Dia hanya terus menggerakkan jemari dan bibirnya, berdzikir, meminta kelancaran juga kesembuhan untuk buahati nya.


"Apa kau sedang membaca mantra?" tanya seseorang tiba-tiba. Hampir saja Nabila terlonjak karena kaget. Wanita itu tersenyum sinis, dia menarik dirinya untuk menjauh dari sosok laki-laki gila yang memungkinkan hal ghoib darinya.


"Saya akan mempercayai apa yang kau percayai. Jadi, kita bisa menikah." Bara berucap sembari melakukan pergerakan tangan, seperti apa yang Nabila lakukan, seperti sedang menghitung buku-buku di jari tangannya padahal bukan.


Nabila kembali menoleh, dia yang pada awalnya tidak tertarik kini menatap Bara dengan tatapan bingung, bahkan sekarang, posisi duduknya pun sudah berubah. Dia menatap laki-laki itu dari posisi yang paling nyaman. "Pak Bara bilang apa tadi?" tanya Nabila penasaran.


"Saya bilang saya akan mempercayai apa yang kamu percayai. Jadi kita bisa menikah. Kau memiliki Tuhan bukan, saya akan mempercayai Tuhanmu! ... Bolot." Kata terakhir sengaja Bara samarkan agar wanita di depannya tidak tersinggung.


Nabila mengembuskan napas panjang. Dia menatap Bara semakin intens. "Dengarkan saya, Pak Bara! Agama tidak diperjualbelikan. Anda tidak bisa seenaknya mempercayai apa yang saya percayai hanya karena ingin menikahi, saya. Masalahnya itu ada di sin!" tunjuk Nabila pada dada sebelah kirinya. "Saya tahu Bapak tidak mempercayai apapun. Tapi, jika Bapak tiba-tiba ingin mempercayai Tuhan yang saya percayai, itu hanya sebuah kebohongan. Bapak sedang membuat kebodohan untuk diri Bapak sendiri. Saya tidak bisa menerima itu!"


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Bara. Dia hanya diam, tidak berniat untuk meminta penjelasan. Bibir Nabila yang terus bergerak membuat otak cerdasnya tiba-tiba mengalami kerusakan.


Baru ingin berbicara, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Nabila langsung beranjak untuk melihat keadaan putranya, tetapi, lagi-lagi dia harus menerima kenyataan kalau saat ini pergelangan tangannya sedang di tahan oleh Bara.


"Bagaimana caranya agar saya bisa mempercayai Tuhanmu?"


Nabila melepaskan tangannya dari tangan sang lelaki. Dia tersenyum, dan sebuah kata terucap dari bibirnya. "Cinta!" jawab Nabila kemudian berlalu mengikuti para dokter yang ingin memindahkan anaknya ke ruang observasi.


Bara hanya menatap punggung Nabila dengan kening mengkerut. Dia bingung harus melakukan apa lagi. Cinta? Maksudnya apa? Apakah dia harus mencintai Tuhan wanita itu lebih dulu? Bagaimana caranya?


....

__ADS_1


Keesokan harinya, Ezra sudah pindah ke ruang rawat biasa. Mata mungilnya mengerejap perlahan. Ketika sepasang mata itu terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah ruangan yang didominasi warna putih.


"Sayang!" panggil Nabila dengan mata berkaca-kaca. Nabila benar-benar sangat bahagia karena Ezra sudah kembali sadar. Anak laki-laki itu menoleh, dia menatap mata Nabila dengan tatapan sendu. "Mama ... jangan menangis!" ucapnya dengan suara yang sangat lemah. Nabila menggelengkan kepala. Dia menciumi wajah dan kepala anaknya berkali-kali.


"Mama gak nangis, Sayang. Mama hanya bahagia, sekarang Ezra gak akan kesakitan lagi. Ezra akan sembuh, Sayang!"


Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, beberapa dokter, perawat dan juga Bara beserta asistennya masuk ke ruang rawat Ezra. Dokter memeriksa keadaan Ezra, sedangkan Bara hanya memperhatikan Nabila dari jauh.


"Dasar cengeng! Dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis. Kau itu harusnya berteman dengan Eileria saya, biar gak menyek-menyek!"


"Maaf, Bos. Ralat, Nyonya Eil milik Tuan Nathan!"


Bara mendengus, dia menatap Durant dengan tatapan tajam. Sedangkan Durant, laki-laki itu menunduk sembari mundur beberapa langkah agar bisa sedikit menjauh dari bosnya.


"Syukurlah ... keadaannya berangsur membaik. Saya akan sering ke sini untuk memeriksa keadaannya," ucap dokter itu.


"Selidiki laki-laki bajingan itu, Durant!" titah Bara tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Nabila. Wanita ini bisa tersenyum saat melihat seorang dokter, tapi selalu ketus padanya. Benar-benar penghinaan yang luar biasa.


....


"Makan yang banyak, Sayang!" ucap Nabila pada anak kesayangannya. Dia sama sekali tidak menghiraukan Bara yang sedang memperhatikan mereka tanpa tahu apa yang sejak tadi mereka bicarakan.


"Mama ... Ezla ingin disuapi, Papa," kata Ezra yang memang masih belum bisa mengucapakan huruf R dengan baik.

__ADS_1


"Papa?" tanya Nabila bingung. Ezra kembali mengangguk. Dia memperhatikan sosok laki-laki tampan yang sedang menatapnya tanpa ekspresi. Seolah mengerti dengan gelagat yang ditunjukkan oleh Ezra, Nabila menolehkan kepala ke arah orang itu. Dia meringis, habislah Nabila. Dia selalu mengatakan jika ayah dari anaknya adalah pria yang tampan, tinggi, dan sedikit brewokan. Kenapa sangat pas dengan ciri-ciri laki-laki gila ini.


"Sayang!" panggil Nabila pada Ezra. "Ezra pasti salah kira, dia itu bukan Papa. Dia hanya asisten Mama. Mama sekarang sudah mendapatkan pekerjaan, Om itu hanya pesuruh, Mama saja!" bohong Nabila. Padahal belum tentu Ezra mengerti apa yang dia katakan.


Ezra mengangguk. Dia tersenyum kemudian menggerakkan tangannya meminta Bara untuk mendekat.


"Saya?" tanya Bara menunjuk dirinya sendiri. Dia langsung beranjak setelah mendapatkan anggukan dari bocah kecil di depannya.


"What wrong?" tanya Bara pada Nabila. Wanita itu tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menyodorkan mangkuk bubur kepada laki-laki itu dan memberikan isyarat agar Bara mau menyuapi anaknya.


"Akh, kau ingin saya suapi?" tanya Bara dengan gerakan tubuh karena saat ini mereka memang tidak bisa berkomunikasi dikarenakan kendala bahasa.


"Sekarang makan, yang banyak!" Kembali Bara bersuara sembari memperagakan anggota tubuhnya.


Nabila tertawa melihat tingkah konyol laki-laki di sampingnya. Kemana Bara yang kejam dan bengis, kenapa dia malah terlihat sangat menggemaskan ketika bersama dengan Ezra. "Dia mengerti bahasa Inggris, Pak!" bisik Nabila membuat Bara hang sedang memetakan tubuhnya mematung. Buru-buru dia menyendok bubur di mangkuk dan menjejeli Ezra dengan bubur tersebut.


"Kau itu sangat lucu," gumam Nabila tanpa sadar.


"What?" tanya Bara. Dia tentu bisa mendengar apa yang Nabila katakan, tetapi dia tidak tahu wanita ini berbicara apa.


"Akh tidak, biar saya saja yang suapi, Ezra!" kata Nabila ingin merebut mangkuk di tangan Bara. Namun, ditahan oleh anak semata wayangnya.


"No, Ezla mau disuapi, Papa!"

__ADS_1


Bara tersenyum penuh kemenangan. Dia mengangkat alisnya seolah mengatakan 'aku tidak tahu apapun' tetapi dengan tatapan mengejek.


"Dasar Samsudin!" ketus Nabila kesal merasa dipermainkan oleh dua laki-laki di depannya.


__ADS_2