Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
42. Bukan Saya


__ADS_3

Seorang wanita menatap laki-laki di depan sana dengan tatapan menggoda. Bibirnya terus menyunggingkan senyum ketika melihat wajah tampan Bara yang sedang memperhatikan sesuatu di balik meja kebesarannya. Jessica, wanita cantik yang sangat suka berpakaian seksi itu membenahi penampilan. Dengan gerakan yang sangat pelan, Jessica mengangkat kaki kanannya yang dia silangkan dengan kaki kirinya. Hal itu sengaja Jessica lakukan untuk membuat Bara tergoda akan kesekian terutama pada paha putih dan mulus yang saat ini sengaja dia tunjukkan. Padahal, sudah sangat jelas kalau Bara tidak bisa melihatnya. Ya bisa saja kalau laki-laki itu menoleh, akan tetapi. Jarak mereka pun cukup jauh, dan Bara tentunya sudah belajar banyak tentang hal ini.


"Makanlah jika kau tergoda, Durant! Saya yakin, gratis pun dia mau!" cicit Bara ketika dia beranjak dari kursinya kemudian duduk didepan Jessica. Tidak lupa, dia memberikan kode kepada Durant yang langsung diangukki oleh anak buahnya itu.


"Eishhhhhhh ... mana ada aku mau makan kayak gituan, emangnya Bos pikir aku lalat apa." Durant membantin.


"Apa ini?" keluh Jessica saat Durant membungkus tubuhnya dengan selimut. Jessica ingin meronta, akan tetapi, setiap tepi yang atas dari selimut tersebut, sudah dipegangi di belakang leher Jessica oleh laki-laki itu. "Apa yang kau lakukan, Durant?" pekik Jessica tidak terima.


"Diam'lah. Ini perintah, Bos!"


"Pak, Bara!" ucap Jessica. Wanita itu kembali duduk dengan tegak meskipun dia sudah seperti mumi tetapi kepalanya masih belum selesai dibalut kain. Senyum itu membuat Bara geli. Wanita ini terlalu bodoh karena dia tidak mengerti dimana posisinya.


"Saya sudah pernah mengatakan agar kau berganti pakaian dengan pakaian yang lebih sopan. Mata saya sakit melihat penampilan mu, Jessica!"


Jessica tersenyum kecut, antara kecewa dan juga ingin marah. Dia tahu, Bara adalah orang yang sangat tegas, berbicara seperlunya dan sangat sulit untuk didekati. Akan tetapi, jika mendengarnya mengatakan hal seperti itu secara langsung, Jessica benar-benar merasa tersinggung. Jadi, alasan Durant membungkus tubuhnya dengan selimut hanya karena Bara tidak ingin melihat tubuhnya? Laki-laki matang di depannya ini sangat tidak beruntung. Dia memiliki mata buruk yang tidak bisa menilai sesuatu dengan baik, pikir Jessica.


"Kemarin, lusa. Kau memberikan jadwal meeting kepada seluruh karyawan yang bersangkutan, bukan?"


Jessica mengerutkan kening. "Tentu saja, Pak. Saya sudah memberikan jadwal kepada semua karyawan."


"Termasuk divisi pemasaran!"

__ADS_1


Jessica mengangguk yakin. Dia sama sekali tidak terpengaruh karena raut wajah serius yang Bara tunjukan. Suara khas Bara, wajah sangarnya, itu malah terlihat sangat menggemaskan di matanya.


"Kau yakin?" tanya Bara lagi. "Jika kau berani melakukan sesuatu yang aneh di sini, saya tidak akan segan-segan untuk membuatmu merasakan bagaimana indahnya hidup!"


"Uhukkk!"


Kedua kaki Jessica bergerak gelisah, tangannya pun merambat di bawah lehernya, berusaha untuk melonggarkan selimut yang ditarik dari belakang oleh tangan kanan bosnya itu. Matanya terbelalak, siksaan macam apa ini, kenapa orang-orang ini sangat berani.


"Saya ... saya janji ... saya tidak akan mengkhianati, Pak Bara!"


Senyum menyeringai muncul pada wajah laki-laki itu. Dia menggerakkan kepalanya, memberikan isyarat agar Durant menghentikan apa yang sedang dia lakukan.


"Pergilah!" titah Durant. Jessica tidak banyak protes seperti biasanya. Wanita itu langsung melesat pergi seperti seseorang yang baru saja bertemu dengan hantu. Wajahnya, pucat dan mulutnya sedikit terbuka. Jessica melirik ke arah pintu ruangan bosnya masih dengan salah satu tangan yang memegang lehernya. "Gila ... orang-orang ini sangat berbahaya!" gumam Jessica seraya berlalu.


"Kenapa tidak dibunuh saja, Bos?"


Tidak ada jawaban. Bara hanya duduk termenung seraya menatap layar ponselnya. Dia sedang berusaha berpikir, apa mungkin dia memiliki musuh yang tidak dia ketahui di dalam perusahaan ini.


"Durant!"


"Siap, Bos!"

__ADS_1


"Saya ingin anak buah kita yang ada di Prancis dibawa beberapa ke sini. Biarkan mereka membentuk tim untuk mengamankan semua urusan perusahaan, termasuk urusan orang-orang yang ada di samping saya!"


"Baik, Bos! Tapi, Bos? Apa mungkin Jessica berbohong? Bagaimana jika dia memiliki niat buruk pada Nyonya, Bos?"


Sebenarnya Bara masih sangat penasaran, bagaimana orang itu akan membuat masalah dengannya. Sangat mudah bagi Bara untuk menangkap tikus-tikus yang berkeliaran di sekitarnya. Namun, Bara sudah lama tidak bermain-main dengan tikus got seperti ini. Mungkin akan sangat menyenangkan jika membiarkan mereka bertingkah seolah-olah jika mereka adalah orang yang paling cerdas, Namun, pada kenyataannya mereka benar-benar sangat tidak pandai. Mereka bukan tandingannya. Bara masih bisa melakukan kekejaman meskipun dia sudah berjanji untuk tidak membuat orang mati.


"Biarkan saja mereka bermain-main dulu, Durant!"


"Bos, tahu mereka siapa?"


"Lebih baik tetap menjaga mereka dari jarak dekat, Durant. Dan ya ... Minggu ini, kita ada jadwal ke Bandung 'kan? Saya mau menyelesaikan bahasan meeting kita yang kemarin di sana. Lagipula sepertinya orang-orang kita membutuhkan liburan. Otak mereka sudah harus direfresh!"


Durant hanya mengangguk mengiyakan. Bisa-bisanya Bara mengatakan hal seperti ini dengan mudah. Satu hal yang ingin Durant garis bawahi, kenapa Bara mengintrogasi Jessica kalau dia sudah tahu siapa yang melakukan semua ini. Atau, mungkinkah Jessica juga terlibat? Tunggu ... liburan, jangan bilang bosnya ini ingin mengajak istrinya bulan madu, akan tetapi terhalang dengan gengsi. Durant tersenyum, dia menatap Bara dengan tatapan menggoda.


"Apa?" tanya Bara bingung. Durant hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar Gila!" gumam Bara. Dia ingin beranjak, akan tetapi, tiba-tiba ponselnya berdering. "Halo!" jawab Bara tanpa ekspresi. "What? Bagaimana bisa? Saya sudah membayar kalian mahal-mahal tapi kalian tidak bisa menjaga satu wanita! ... Bodoh!" bentak Bara seraya mematikan sambungan teleponnya.


"Bos!"


"Nyonya bosmu, kabur Durant!" dengus Bara kesal. "Sepertinya aku terlalu memanjakan dia. Wanita itu harus aku beri pelajaran."

__ADS_1


__ADS_2