
Wanita cantik itu hanya duduk melamun seraya mengaduk makan siangnya tanpa selera. Dia melirik ponselnya, melihat saldo rekening yang dia miliki. Kenapa juga bibinya itu harus memilih perawatan yang mahal jika tidak sanggup membiayai semuanya. Apa karena dia berpikir jika sekarang dia bisa membantunya. Bagaimana bisa seseorang bersikap kekanakan seperti ini.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumssalam!" sahut Marlina yang baru selesai menyuapi Ezra makan. Dia membungkuk ke arah Bara yang saat ini sedang mengelus kepala anaknya lembut.
"Ada apa dengannya?" tanya Bara pada Marlina dan Ezra.
"Mama sepeltinya telalu melindukan Papa. Dali tadi, Mama hanya diam, seperlti itu," tunjuk Ezra dengan tangan mungilnya.
"Saya akan mengajak Ezra berkeliling," ucap Marlina. Bara hanya mengangguk seraya membantu Ezra untuk duduk di kursi roda. Dia cukup beruntung karena Ezra memiliki baby sitter yang mengerti akan hal-hal seperti ini.
"Ekhemmmm!" Bara berdehem di depan sang istri. Namun, istrinya itu masih bergeming. "Apa saya tidak terlihat sampai kau bisa bersikap seperti ini?"
Deg!
Nabila refleks mendongak, dia langsung berdiri saat melihat suaminya ternyata sudah ada di depannya. Kali ini, Nabila benar-benar ceroboh, hampir saja dia terjatuh jika Bara tidak segera menarik pinggangnya.
__ADS_1
"Apa yang mengganggu pikiran mu? Kenapa kau melamun?"
Nabila gelagapan. Wanita itu tidak berani untuk menatap suaminya dan malah mendorong sang suami untuk menjauh. "Mas membutuhkan sesuatu?" tanya Nabila dia baru akan duduk kembali, akan tetapi tidak jadi saat melihat Ezra tidak ada di sana. "Lah ... Ezra ke mana?" panik Nabila. Lagi-lagi dia mengabaikan Bara, wanita itu melangkah melewati Bara, akan tetapi Bara langsung menarik tangannya dan menghempaskannya ke sofa. Laki-laki itu menatap Nabila dengan tatapan tajam. Sikap, ini Nabila sangat takut jika suaminya sudah menampakan wujud aslinya. Bukan hanya menakutkan, tapi Bara dalam mode ini sangat tampan. Oh ayolah, bahkan ketika Bara menyentuh lehernya seperti orang yang sedang mencekiknya saja Nabila tidak bisa berkutik. Dia bergeming seperti patung, ada rasa takut, tapi ini juga seperti the javu. Nabila enggan untuk melepaskan diri.
"Kau membuat kesalahan? Atau saya yang membuat kesalahan?"
Nabila menelan saliva susah payah. "Aku ... aku tidak melakukan kesalahan." Nabila menjawab dengan jujur karena dia memang tidak melakukan hal itu. "Mas juga tidak," lanjutnya seolah mengerti akan tatapan sang suami. "Mas aku ... maaf, sepertinya aku sudah ...."
Nabila tidak melanjutkan kalimatnya karena suaminya itu tiba-tiba semakin menunduk dan menciumnya seperti orang gila. "Hukuman karena kau sudah berani meninggalkan ponselmu." Bara berbisik dengan suara maskulinnya. Nabila hanya mengangguk, bak orang bodoh, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tadi dia memang mau mengatakan jika dia memiliki kesalahan. Namun, suaminya ini seperti mengerti semuanya tanpa dia mengucapakan apa pun.
"Sudah makan belum?" tanya Bara. Tangan yang tadinya ada di leher Nabila kini sudah naik ke atas, membelai wajah cantik sang istri seraya mengusap bibir istrinya itu perlahan. "Makanlah!" titah Bara. Dia tahu kalau makanan di atas meja masih sangat utuh dan itu artinya, Nabila memang belum makan.
Bara memperhatikan apa yang istrinya lakukan dengan seksama. Namun, mata itu memincing saat melihat Nabila mengambil sendok dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya dia sembunyikan. Merasa ada yang janggal, Bara bergeser mendekati sang istri. Manarik tangan istrinya hingga senyum sinis tersungging di bibir itu.
"Ada apa dengan tangan mu, Nabila? Siapa yang telah membuat mu terluka seperti ini?"
Nabila ingin menarik tangannya, akan tetapi Bara tahan. Dua jari istrinya lebam seperti ini. Bahkan warna kukunya saja sudah ungu cenderung hitam. "Apa kau tidak mau menjawab? Siapa yang mengijinkanmu untuk terluka seperti ini?" sarkas Bara dengan suara dinginnya. Suara itu juga sedikit meninggi hingga Nabila tahu jika suaminya ini sedang marah besar.
__ADS_1
"Mas ... tanganku tidak sengaja terjepit pintu. Aku baik-baik saja. Mas gak usah khawatir."
Mendengar itu Bara malah semakin tidak tenang, dia mengambil ponselnya kemudian meminta Durant untuk datang ke ruangan itu.
"Maaf, Bos! Anda memanggil saya?" ucap Durant saat dia masuk ke ruangan itu. Bara beranjak dari duduknya. Wajah itu semakin kelam dan semakin tidak bersahabat.
Bughhhhh!
"Astaghfirullah!" Nabila benar-benar terkejut saat melihat Durant tiba-tiba dihajar oleh suaminya. "Mas Bara cukup!" minta Nabila ketika tangan itu sudah akan kembali meninju wajah Durant. Anehnya, Durant juga tidak menjawab, dia seolah-olah sudah tahu jika hal ini akan terjadi. "Mas ada apa?" tanya Nabila lagi. Dia sudah ada di depan suaminya, memeluk suaminya meminta sang suami untuk tidak melakukan itu lagi.
"Kau masih diam Durant! Bukankah harus ada yang kau jelaskan!"
Durant mengangguk, dia menyodorkan ponselnya kepada Bara. Laki-laki itu melihat apa yang terjadi. CCTV yang ada di sebuah rumah sakit memperlihatkan bagaimana istrinya ini sampai memiliki luka seperti itu.
"Kau berbohong?" geram Bara menatap Nabila dengan tatapan tajam. "Kau terluka karena wanita gila ini, 'kan? Kenapa kau berbohong Nabila? Kanapa?" geram Bara dengan suara tingginya. Nabila menajamkan mata, dia tidak bermaksud seperti itu.
"Mas ... maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ...!"
__ADS_1
"Hanya apa? Hanya karena kau masih tidak menganggap keberadaanku? Apa aku masih belum pantas untuk mendapatkan kejujuran mu!"