Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
Bab 7. Selingkuh?


__ADS_3

"Beliau hanya dokter biasa, Bos. Tidak ada yang sepesial. Latar belakangnya pun tidak ada yang menarik. Selain tampan dan cekatan, dia masih tidak memiliki kelebihan apapun."


Bara tidak menjawab, dia hanya tersenyum sembari menyesap alkohol dari gelas kristal yang ada di tangannya. Dia bertingkah seolah pemandangan di luar dinding kaca yang ada di apartemennya lebih menarik daripada si Durant. "Apa kebanyakan wanita memang menyukai pria seperti itu, Durant. Sudah jelas-jelas saya lebih sempurna di banding dokter itu, tapi kenapa Nabila lebih suka kepadanya!"


"Apa kita bunuh saja dia, Bos?" tanya Durant.


Bara memejamkan mata perlahan. Anak buahnya ini benar-benar sangat menyebalkan. "Kau itu, jangan sedikit-sedikit bunuh, penggal, mutilasi! Kita sudah tidak melakukan hal-hal seperti itu."


Durant membungkuk untuk meminta maaf, sebenarnya dia juga tidak bermaksud melakukan itu. Mungkin karena kebiasaan, saat ada orang yang mengancam posisi mereka, Durant akan menawarkan hal yang memang dulu biasa mereka lakukan.


"Kau bisa pergi, Durant! Tapi ... sebelum bocah itu keluar dari rumah sakit, siapkan apartemen untuk mereka! Harus unit yang ada di depan apartemen milik saya!"


Durant mengangguk kemudian keluar dari apartemen milik bosnya. Untuk beberapa alasan, Bara memang sengaja menempati apartemen alih-alih menginap di hotel. Dia yang pada awalnya hanya ingin melihat perusahaannya sebentar, tidak jadi melakukan itu karena dipertemukan dengan Nabila. Sedangkan Durant? Laki-laki itu juga ada di gedung apartemen yang sama. Hanya saja, unit yang dia tinggali tentu saja berbeda dengan unit milik Bara.


"Saya bukan tidak bisa menyeret mu ke dalam dekapan saya, Nabila. Namun, saya ingin, kamu sendiri yang memohon dan meminta saya untuk menjadi suamimu." Bara berucap sembari menatap layar ponselnya.


Berbeda dengan Bara, wanita yang sedang dipikirkan oleh laki-laki itu kini sedang berbaring di sofa panjang yang ada di ruang rawat anaknya. Bulir bening menetes dari sudut matanya. Wanita itu membuka mata ketika dadanya benar-benar terasa sangat sesak. "Astaghfirullah," gumam Nabila seraya mengusap air mata di pipinya. Wanita itu beristighfar beberapa kali. Dia menarik napas dan menghembuskanya perlahan. Sudah 5 tahun dia mencoba untuk melupakan semua kejadian di masa lalu, tapi semuanya percuma. Mungkin saat dia sadar, Nabila memang tidak mengingatnya. Namun, saat dia tidur, alam bawah sadarnya seolah menolak untuk melupakan kejadian di masa lalu itu.


Nabila beranjak, dia menghampiri ranjang putranya kemudian mengusap wajah itu lembut, membetulkan letak selimut sang anak, kemudian keluar dari ruang rawat untuk sekedar menenangkan hatinya.


Dalam rumah sakit sebesar ini, Nabila hanya sendirian. Entah bagaimana jika dia yang sakit, siapa yang akan menjaganya. Mungkin tidak akan ada, satu orangpun yang menengok. Jangankan menengok, melayat dia setelah dia meninggal pun sepertinya tidak mungkin ada. Semua kerabat dan keluarga dekatnya menjauhi Nabila karena Nabila bersikukuh ingin membesarkan Ezra padahal Nabila tahu bahwa Ezra memang sudah memiliki kelainan dari lahir. Sebagai seorang ibu, Nabila tidak mungkin membiarkan anaknya meninggal begitu saja tanpa ada usaha apapun darinya untuk menolong.


"Kau sendirian?" tiba-tiba seseorang bertanya.


Nabila menoleh, dia tersenyum kecut ketika tahu siapa orang yang ada di sampingnya. Itu Fathan, dokter bengis yang sekarang menjadi dokter anaknya juga.


"Kenapa, Dok?" tanya Nabila dengan senyum terpaksa.


Dokter Fathan duduk di samping Nabila, "Saya hanya ingin mengatakan jika kondisi Ezra benar-benar sudah lebih baik. Alhamdulillah operasinya lancar. Mbak gak usah khawatir lagi. Maaf jika saat itu, ayah saya mengatakan hal yang tidak-tidak."

__ADS_1


Nabila mengerutkan kening saat mendengat kata ayah saya. "Maksud dokter apa? Saya tidak mengerti," jawab Nabila seadanya.


"Dokter Fahrozi, beliau adalah ayah saya. Beliau juga mengatakan semua yang telah dia katakan kepada Mbak tentang Ezra."


Ahh ... Nabila mengangguk-anggukan kepalanya negerti. Jadi, dokter yang saat itu meminta Nabila untuk menyerah adalah ayah dari dokter ini. "Pantesan aja," gumamnya.


"Kenapa, Mbak?" tanya dokter Fathan ketika mendengar Nabila berbicara tetapi tidak jelas.


"Akh tidak," jawab Nabila gelagapan. "Saya mengerti kenapa Dokter Fahrozi mengatakan hal seperti itu."


Dokter Fathan mengangguk. Dia tersenyum ketika melihat senyum di wajah Nabila. Dia menjadi teringat istrinya yang meninggal saat melahirkan buah hati mereka. Meskipun istrinya sudah tahu jika dia memiliki kemungkinan tidak akan selamat saat melahirkan anak mereka, dia tetap bersikukuh untuk melahirkan anaknya. Dan benar saja, sang istri meninggal 1 jam setelah proses persalinan selesai.


"Saya permisi dulu, Dok!" pamit Nabila kepada Dokter Fathan. Dia merasa kurang nyaman karena dokter itu terus menatapnya aneh. Sebelum dokter Fathan mebalas ucapannya pun Nabila sudah melesat pergi menghilang di balik pintu ruang rawat anaknya.


"Kenapa sih orang-orang sekarang pada aneh," gumam Nabila seraya bergidik negeri.


"Jadi kita mau ke mana, Bos?" tanya Durant yang sedang menyetir mobil. Sementara Bara, laki-laki itu sedang melihat CCTV yang ada di layar ponselnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Durant!" titah Bara. Nabila benar-benar mempermainkan emosinya. Dia selalu memberikan jarak kepadanya tapi tidak saat sia bersama dengan dokter itu. Malam itu Bara sudah di buat kesal karena Nabila dan Fathan yang mengobrol berdua di lorong rumah sakit, sekarang pun mereka masih melakukan hal yang sama. Benar-benar sangat menyebalkan.


Langkah kaki Bara terlihat sangat cepat. Dia memasuki rumah sakit dengan wajah dingin dan juga aura menyeramkan.


"Pelan-pelan aja!" ucap Fathan pada Ezra yang sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Anak itu benar-benar sangat lucu.


"Ekhh!" Fathan membantu Nabila memegang lengan kiri Ezra saat melihat Ezra akan jatuh. Nabila menoleh, dia menatap laki-laki di depannya dan tersenyum. Setelah beberapa hari di rumah sakit, Nabila akhirnya tahu kalau dokter Fathan bukan dokter galak. Dia memang tertutup, tetapi termasuk dokter yang ramah kepada pasien dan juga keluarga pasien.


"Papa!" panggil Ezra tiba-tiba. Nabila dan Fathan refleks menoleh ke arah pandang anak kecil itu.


"Papa," gumam Fathan dengan alis yang tertaut.

__ADS_1


"Papa, Ezla kangen," ucap Ezra seraya memeluk leher Bara yang berjongkok di depannya.


Nabila memutar bola mata. Dia jelas sangat tahu apa yang sedang Bara lakukan. Dia berusaha menarik simpati Ezra bukan? Tapi tidak, apapun dan bagaimanapun hubungan antara Bara dan Ezra, Nabila tidak perduli.


"Papa harus mengerjakan beberapa hal, Sayang. Ezra apa kabar?" tanya Bara sembari melirik dokter Fathan dengan ekor matanya.


"Kalau begitu saya permisi!" pamit Dokter Fathan kepada Nabila. Wanita itupun mengangguk.


"Ezra, Om Dokter, pergi dulu ya. Nanti sore Om balik lagi. Semangat!" ucap Fathan sembari tersenyum.


"Pergi ya pergi aja!" gumam Bara. Dia menang tidak mengerti apa yang Fathan ucapkan, tetapi, dari gelagatnya, Bara tahu jika dokter itu akan meninggalkan mereka.


Anak kecil itupun membalas apa yang Fathan ucapan. "Telima kasih, Om Doktel," jawab Ezra seadanya.


Setelah dokter itu pergi, Ezra kembali menatap Bara. "Papa!" panggil Ezra pada laki-laki di depannya.


"Kenapa?" tanya Bara menatap Ezra sembari tersenyum.


"Papa, Mama bilang, doktel Fathan adalah doktel yang baik. Mama sama doktel Fathan sepeltinya belselingkuh dari Papa. Papa gak boleh sedih ya ... Ezla gak suka kok sama doktel Fathan. Ezla cuma suka sama Papa aja."


Nabila melotot, ingin rasanya sia menggetok kepala bocah itu, tapi dia sangat sadar jika itu tidak boleh dia lakukan.


"Akh, jadi Mama BERSELINGKUH dari, Papa ya?" tanya Bara dengan senyum menyeringai. Dia menggenggam tangan Ezra kemudian berdiri dan menatap wanita di depannya dengan tatapan tajam.


Nabila yang melihat itu menjadi sangat gugup. Dia mundur beberapa langkah, saat Bara dan Ezra semakin maju.


Bugh!


Bara menempelkan tangannya pada dinding di samping telinga Nabila. Mata wanita itu terpejam. Bara tahu, saat ini Nabila sedang dilanda kegugupan.

__ADS_1


__ADS_2